Tạm biệt Sài Gòn (Goodbye Saigon)

Trip Start Oct 27, 2011
1
5
Trip End Oct 31, 2011


Loading Map
Map your own trip!
Map Options
Show trip route
Hide lines
shadow
Where I stayed
Vy Khanh Guesthouse Ho Chi Minh City
Read my review - 4/5 stars

Flag of Vietnam  ,
Monday, October 31, 2011

Day 5: The Day of Banh Mi and Pho

We woke up at 07.00, and planned not to go anywhere until we checked-out from hotel at 11.00. So we just relax. Oh yeah, we asked Ms. Vy to book us the taxi back to the airport, our flight was at 20.20. She arranged the pick-up for VDN168000/USD8 at 17.30. We also bought Beer 333 for only VND12000, and large mineral water bottle for VND8000. How cheap! You'll get many benefits if you stay at this guesthouse, many items you can buy here with cheaper price compare with the store, and you also get the high rate to exchange money. There is nothing to complain about.

At 11.00 o’clock, we checked-out, and put our luggage in the guess room, we went to ABC Bakery (again!) to buy Banh Mi full with hams, cheese, veggies for only VND17000. After our stomach full, we’re heading to Ben Tanh market to buy some Vietnamese design T-shirt. I bought 2 pieces good quality shirt (iPho and the Vietnam map sketch), bargaining from VND250000 become to VND80000 each. Then we went to Trung Nguyen caf (again!) to buy some coffee for my relatives, after that we went to 23/9 Park (means September 23rd Park) for relaxing and sitting while killing time.

In the afternoon, we went to Pho Bo 94 (again! eh), at 94 Bui Vien st. to have a meal. We ordered Pho Bo with well-done meat and Pho Bo with soft tendon meat. Each bowl we paid only VND30000. After finished meal, we went back to hotel, washing and refreshing ourselves, borrowing the computer for browsing and watching the TV cable.

At 17.30, we were picked up and transported to the airport. Say goodbye to Ms. Vy, thanks for your hospitality and thanks for everything, 'till we meet again. Tm bit Si Gn.

Because the traffic was so crowded, we arrived at the airport at 18.30. Gosh, the queue line for Air Asia flight was too long. It’s so unorganized, which lane for the baggage drop counter and which lane for the verification document counter. Though I have to admit that Tan Son Nhat Intl.airport is ten times better than Soekarno-Hatta Intl' airport. It’s really clean, big, spacious and of course sophisticated, reminds me with Kansai Intl' airport in Osaka. The Duty Free Shop are so nice and cool. Fortunately, we already checked-in and dropped our baggage before 19.00. The immigration was also not complicated and too strict (For me yeah! Because I saw western man behind was examined in detail)

We’re heading to gate 20, waiting our flight and thank God there’s no delayed. We boarded on time, but the weather was not too friendly. The plane was shaking several times, the pilot captain announced there’s a turbulence and warned us repeatedly to fasten our seat belt. The situation that time was so terrifying, and I had to admit, I a lil bit felt afraid. But once again, thanks God, we could landed safely at Soekarno-Hatta intl. airport at 23.30. Touched down Jakarta!

Moved in hurry to immigration counter, and waiting for our luggage. At 00.30 mid night, we got out baggage and now we had to find the Primajasa Bus counter. Bought tickets for 02.00 departure to Bandung for IDR75000/person. This was the part I hate most, we had to wait about 1,5 hours and didn’t know where to stay. The facilities are very very uncomfortable and not supportable. There’s none of caf opened except Pisang Ijo Aladin. Far behind than others international airport (IMHO). Phiufff, such a hard night for us.

Finally, it’s 02.00 o’clock and the bus departed towards Bandung, after 3 hours driving, we arrived safely at Pasar Modern Batununggal. Then we found the metered-taxi, and went back home at 05.00. I so much enjoyed this trip. Thank God for your guidance.

-Thanks for reading everyone and see you again in my next trip!-


Versi Bahasa Indonesia:

Karena dini hari baru balik ke hotel, jadi kita bangunnya sengaja siangan, jam 7.00 baru melek. Siang jam 11.00 harus check-out dari hotel, karena itu kita kita benar-benar manfaatin waktu banget buat istirahat dan tidur-tiduran, karena selepas check-out gak bisa tidur-tiduran lagi, sedangkan flight kita malam jam 20.20. Dan kita pesan angkutan buat ke airport ntar, dan dipesenin sama Ms. Vy angkutannya seharga VND168000, tahu beres saja pokoke. Terus dia bilang, salut sama kita karena pergi ke Da Lat hanya butuh 1 hari, dan tidur di bus malam. Soalnya katanya, idealnya kalo ke Da Lat minimal menghabiskan waktu 1 hari untuk menginap hehehe. Memang capai banget sih, tapi mau gimana lagi, waktunya gak cukup, dan cuma bisa sehari aja PP bolak-balik Saigon-Da Lat-Saigon. Sudah gitu kita beli Beer 333, bir khas vietnam seharga VND12000/kaleng dan air mineral besar VND8000/botol. Murah benerrrr! Disini pokoke semua disediakan, jadi gak perlu takut, harganya pun lebih murah dibandingkan diluar. Lalu kita packing, beres-beres, mandi, dan check-out tepat jam 11.00 siang.

Boleh titip tas di ruang tamunya, dan minta ijin nanti sore numpang bersih-bersih di toilet tamu, dan dibolehin sama mereka. Karena lapar kita langsung ke ABC Bakery (lagi!), benar-benar pelanggan setia. Beli Banh Mi seharga VND17000 untuk roti baguette ukuran kecil, isiannya ham, bacon, keju, mayonaise, sayur-sayuran. Keliatannya enak banget dan fresh. Dijamin higienis dibandingkan beli di hawker stall. Langsung naik ke cafenya diatas, dan disuguhi free ice tea oleh pelayan yang sama. Hehe sudah kenal gitu dia sama kita, pelanggan setia soalnya.

Kelar mengisi perut, langsung menuju Ben Tanh Market lagi, buat beli oleh-oleh kaos. Dapat dua kaos seharga VND80000/buah, dari harga awal VND250000. Yang jual kakak beradik. Pertama dia kayaknya mau bohongin saya, bilangnya yang ini kualitas bagus, padahal bukan. Bah, mau ngibul yee, kagak mempan. Saya bilang "Are you sure this is the good one? Don't cheat me, okay?", dia bilang "No, I am not cheating kid like you", wkwkwkk saya disangka anak kecil, tapi ujung-ujungnya dia ambil juga kaos yang benar dan adiknya bilang sambil nunjuk ke kakak saya "mama?", hahaha pecah tawa kita, tinggal kakak saya mencak-mencak disangka ibu-ibu. Sementara kita ngobrol, sang kakak sampai bela-belain ngumpulin semua contoh warna T-Shirt bergambar iPho, jadi gak enak kalo sampai gak jadi beli hehe, bisa dikeroyok kita. Pas selesai bayar, ditanya ma kakaknya "Where are you from?", langsung kita jawab "Indonesia", dan sama seperti yang sudah-sudah, dia kaget dan gak percaya, "I thought you come from China, because of your eyes", hehehe sampe hari terakhir masih saja ditanyain begitu. Sudah gituh kita pake disuruh nyanyi lagu vietnam lagi, "Can you sing this song?", oh my gosh, ada-ada aja, mau juga mereka yang nyanyiin buat kita haha.

Hati senang dapat kaos, balik ke Cafe Trung Nguyen, beli kopi lagi buat oleh-oleh, karena kemarin ketinggalan, lumayan juga deh jalannya cukup jauh. Lama-lama bisa kurus disini, mana udaranya panas, jalan kaki mulu pula. Balik beli kopi, kita sempetin buat santai-santai dulu di Taman 23/9 (Taman 23 September, tapi gak tau kenapa dinamain begitu, gak sempet nanya). Di taman ini kita duduk-duduk aja ngaso, berteduh dibawah pohon. Banyak orang-orang lokal yang melakukan hal serupa. Ada juga backpacker yang ngegelar sambil main kartu, untung gak diciduk hansip setempat, dikira maen gaplek hahaha. Herannya duduk-duduk hampir 1,5 jam-an gak diapa-apain tuh disitu, cuma ada beberapa orang tukang semir sepatu dan orang-orang geje yang lewat sambil lihatin kita, tapi begitu dikasih lambaian tangan sambil bilang "No, thanks", mereka langsung mabur. Coba kalo di Indonesia, bisa gak pergi-pergi tuh orang ngintilin kita sampai kita risih dan pergi sendiri. Di Vietnam cenderung lebih aman (IMHO). Sudah gitu hansip taman juga bolak-balik ngontrol, jadi gak mungkin dipalak deh sama preman lokal.

Sore hari kita isi perut dulu, di Pho Bo 94, di jalan 94 Bui Vien (lagi! eh). Kita pesan Pho Bo dan Pho Bo with soft tendons (kikil ternyata) masing-masing seharga VND30000. Sebenarnya jam 15.00 dia tutup dan buka lagi jam 17.00, tapi pas kita datang diterima-terima saja tuh. Masa rejeki ditolak hehe. Kuah Pho di kedai ini wangi banget, bau kaldunya kerasa abis, ternyata karena dia godoknya pake kikil. Kikilnya lembut abis, langsung ancur begitu masuk mulut (kata kakak saya). Setelah selesai makan, pulangnya mampir lagi ke ABC Bakery (lagi?) buat beli Banh Mi dan roti buat bekal di airport, sekalian ngabisin duit VND. Ketemu lagi dengan pelayan yang biasa, tadinya sudah mau diajak foto bareng tuh buat kenang-kenangan, tapi gak jadi, karena mereka kayakya malu, pas kita foto-foto, eh mereka malah ngumpet dan balik badan hehehe. Pas keluar, mereka bilang "Thank you", kita bales "Goodbye" soalnya memang gak bakal balik lagi kesitu, kan harus balik Jakarta malamnya.

Balik ke hotel, nyempetin dulu buat bersih-bersih, ganti baju, leha-lehe, nonton TV kabel, browsing, dan tepat jam 17.30 angkutan kita datang. Say goodbye to Ms. Vy and family, thanks for your hospitality, thanks for everything! 'till we meet again. Gak kerasa waktu kita di Saigon sudah mau berakhir. Ternyata angkutannya itu sejenis mobil sedan pribadi, kata Ms Vy, udah include 2 cangkir kopi, jadi kita gak perlu beli apa-apa lagi di airport, tapi kenyataannya si supir gak kasih apa-apa (dang!). Dasar si bapak, korupsi saja kayak di Indonesia.

Jalanan cukup padat, jam pulang kantor soalnya, jadi butuh waktu 1 jam untuk sampai ke airport, langsung diturunin di International Departure Hall, dan kita masuk ke dalam. Sempat bingung nih di dalam hall, gak da keterangan apa-apa, liat konter check-in Air Asia, OMG antriannya ampun-ampunan, panjang nian. Nanya sama orang Malaysia yang lagi ngantri di jalur AA menuju KL, sebelahnya AA menuju Bangkok. Nah loh AA menuju Jakarta ngumpet dimana. Dia bilang mungkin belum dibuka, soalnya konternya sepertinya dipisah-pisah berdasarkan tujuan. Enaknya kalo ketemu teman serumpun, mereka pasti tolong kita kok. Akhirnya ketemu juga jalur antrian AA menuju Jakarta, ternyata ada di baliknya. Konter lain sepi banget, tapi konter AA membludak tumpah ruah ckckckkk.

Nah di konter check-in ini kekacauan juga terjadi. Seharusnya yang gak pake bagasi ngantri di document verification counter dan yang pakai bagasi di bagagge drop counter, tapi ini sudah gak jelas gitu kemana-mana ngantrinya. Mana tali antrian dibuka, sudah saja jadi teu pararuguh jalurnya. Untung lihat di jalur document verification sepi, dan ada dua orang Indonesia lagi ngantri dan nanya mereka. "Mau ke Jakarta juga kan? Ngantrinya yang mana? Bingung", jawab mereka "Sama, tadi udah nanya ke konter, tapi merekanya gak bisa bahasa Inggris, gimana dong?" Gubraakkk, bahaya banget sih pergi ke negeri orang yang gak bisa bahasa Inggris. Untung depan-depan kita ada yang pakai bagasi juga tapi ngantrinya di document verification counter, ya sudah kita juga ikutan ngantri disitu dan ternyata boleh. Benar-benar kacau. Sayang bandaranya sudah bagus dan modern, sudah diatur sedemikian rupa, jalur konter sesuai gate, tapi pelaksanaannya gak bener. Tan Son Nhat Airport 10x lipat lebih baik daripada Soekarno Hatta airport, dari segi kebersihan dan fasilitas, jauhhhhhh lebih keren. Akhirnya selesai juga ditimbang bagasi kita, dan dikasih tahu untuk nunggu di gate 20.

Langsung kabur ke konter imigrasi. Nah disini juga agak kacau. Sebenarnya sih ada 20 konter sesuai gate yang ada 20. Tapi rata-rata orang-orang antrinya di konter yang letaknya di tengah, jadi numpuk semua disitu, sedangkan di pinggir-pinggit, konternya lowong gak ada antrian. Tadinya mau antrinya sesuai gate, tapi takut dimarahin, daripada berabe jadi kita ikutan antri di tengah. Jebret, cap, dan bilang "cảm ơn" sambil senyum, beressssss. Ada kejadian lucu lagi, dasar orang Indonesia, paling rame sendiri dan paling ribut, ada kumpulan ibu-ibu bikin ribut di konter imigrasi, sampe petugas imigrasinya kebetulan cewe, mukanya langsung masam, gak tahu digodain apa sama mereka, trus mereka bilang "Sorry Mam, just kidding", untung saja petugasnya senyum lagi, kalo gak bisa diblacklist kita. Ada-ada saja!

Trus lanjut lagi lewatin pemeriksaan X-Ray dulu, kita larinya ke sisi kanan, dimana gak ada yang antri. Di kiri penuh banget, sampai antri ular-ularan. Beberapa bule, lihat kita ke kanan, mereka ikutan juga ke kanan. Pas sampai, petugasnya langsung pasang muka jutek, dan ngelihatin paspor sama boarding pass dengan tatapan killer, karena gak ujug-ujug kita datang ke sisi kanan, takutnya dikira teroris kali ya hahaha. Tapi itu yang kena kakak saya sih, kalau saya aman-aman saja. Malahan gak pakai diperiksa, langsung disuruh masuk aja sama petugasnya. Faktor muka kayanya, wkwkwk. Soalnya bule di belakang saya juga sampai diraba-raba, dan diperiksa secara detil. Selesai imigrasi, enak deh. Jalan-jalan liatin Duty Free Shopnya, wah bikin ngiler. Sayangnya mereka pakai harga USD, coba kalo VND pasti lebih murah hihihi. Aduh kalo liat toiletnya dan ruang tunggunya, benar-benar jauh banget dari bandara Soetta. Bangkunya bersih dan empuk, toiletnya bersih dan wangi, fasilitasnya TOP. Nunggu boarding sambil tidur-tiduran juga gak berasa geli dan risih.

Puji Tuhan, there's no delay. Tm bit Si Gn. Berangkat tepat waktu jam 20.30, tidak ada pemeriksaan bagasi 7 Kg dan air mineral 100ml, soalnya banyak yang bawa air botolan ke dalam pesawat. Di dalam kabin, okupansinya cuma 60-70% lah, banyak bangku yang kosong. Cuaca kala itu pun sangat tidak mendukung, angin dan hujan deras. Pas terbang, beberapa kali ada peringatan "fasten your seat belt" soalnya ada turbulence. Mengerikan! Untungnya sampai juga dengan selamat di Jakarta jam 23.30. Langsung bergegas ke imigrasi, cari bagasi. Kali ini nunggu bagasinya lama juga, gak keluar-keluar. Gak tahu orang-orang custom sengaja ngecekin detil atau gimana. Dan kebetulan ada 2 pesawat AA yang mendarat bersamaan, yang dari Singapore dan dari Ho Chi Minh City. Bagagge clear, langsung ke jalur hijau, aman! Ke arrival hall, cari konter bus Primajasa, adanya yang jam 02.00. Pesen 2 tiket, IDR75000/orang/trip, dan menunggu 1.5 jam disitu. Bener-bener menyiksa deh, bangku-bangkunya gak nyaman untuk diduduki. Dan sama sekali gak ada tempat makan yang buka kecuali, pisang ijo aladin. Pantes aja Soekarno-Hatta airport sempat masuk dalam "10 bandara terburuk di dunia". Sempet ditegur sama bapak sekuriti bandara, "Hey, ngapain kamu sendirian disitu, nunggu siapa?", "Nunggu temen pak, temen saya lagi jalan-jalan bentar. Saya mau pulang ke Bandung, tapi busnya berangkat jam 02.00", "Oh, hati-hati yah, tapi ada CCTV disitu kok. Ya sudah, bapak pergi dulu" Hehe baik juga si bapak, jadi terharu.

Akhirnya penantian panjang berakhir, jam 02.00 bus datang. Langsung tancap ke Bandung, supirnya sebenarnya nyetirnya agak brutal, tapi karena sudah capai banget, jadi ketiduran di bus, mana ACnya dingin abis. Tau-tau dibangunin sudah sampai di Batununggal, Bandung. Liat jam, ternyata jam 05.00, langsung cabut cari taxi sekitar situ, dan dapetlah taxi yang pengemudinya bapak-bapak baik banget, langsung naik, meluncurlah ke rumah. Thank God for everything, what a wonderful and memorable trip!

-Thanks for reading everyone and see you again in my next trip!-

My Review Of The Place I Stayed



Loading Reviews
Slideshow Report as Spam

Use this image in your site

Copy and paste this html: