Senja Selat Sunda

Trip Start Aug 14, 2007
1
2
3
Trip End Aug 20, 2007


Loading Map
Map your own trip!
Map Options
Show trip route
Hide lines
shadow

Flag of Indonesia  , Java,
Thursday, July 24, 2008

Sunset di Selat Sunda Jul 14, '08 11:30 PM
for everyone



Sunset di Selat Sunda (Januari 12, 2003)

Siang itu, kulihat teman-temanku sedang sibuk dengan aktivitas liburan yang biasa mereka kerjakan. Yaitu, mencuci baju dan tidur. Yah, itulah hal yang biasa kami lakukan untuk mengisi hari libur. Ma'lum, kami (karyawan sebuah perusahaan penerbangan swasta) hanya diberi waktu libur 2 hari, setelah 4 hari bekerja nonstop.

Oh ya, namaku Indra. Saat ini, aku sedang bekerja di sebuah perusahaan Penerbangan Swasta sebagai tekinisi pesawat terbang. Beberapa bulan yang lalu, aku baru lulus dari STM Penerbangan Negeri Bandung, sebuah sekolah yang minim wanita, dengan peraturan yang menyesakan dada, namun surga bagi pecinta pesawat.

Aku dan beberapa teman, kebetulan bekerja di perusahaan penerbangan ini bersama-sama dengan jabatan yang sama pula. Di sana, kami biasa bekerja dalam kelompok, satu kelompok bekerja selama 12 jam setiap harinya, dari jam 9 pagi, sampai jam 9 malam, dan sebaliknya. Memang, dengan waktu kerja seperti itu, kami membutuhkan banyak energi, hingga setiap liburan tiba, kami kehabisan energi untuk melakukan hal lain selain mencuci baju dan tidur.

Tapi tidak saat itu, semenjak bangun pagi hari, hingga siang hari, pikiranku melayang ke tempat-tempat yang belum pernah terbayangkan sebelumnya, jauh meninggalkan kota Tangerang yang panas dan gersang. Otaku semakin mumet, saat ku menyadari bahwa tak ada hal lain yang bisa aku lakukan selain tidur...oooough, bosan! Pikirku. Lalu, tiba-tiba...klik! Salah satu bagian dari otaku mengatakan, we'll get out from here, and find freedom!...akupun terdiam sejenak untuk memikirkan kata-kata itu.

Tanpa pikir panjang, aku mengambil dompetku dan bersiap untuk pergi. Aku hanya memakai kaos oblong berwarna merah, dengan celan jeans belel, dan sendal jepit yang agak sedikit mahal. Peduli apa! Dengan pakaian, pikriku.

Aku mulai berjalan keluar pintu, tinggalkan rumah kos-kosan tempatku bernaung. Saat itu, yang kupikirkan hanyalah pergi menjauh dari sana, tanpa tau kenapa arah tujuankau...seperti kutipan sebuah lirik Red Hot Chili Pepper "where I go I just don't know...".

Sampailah aku disebuah jalan yang lurus, gersang, dan panas, karena terbuat dari beton seperti di jalan tol. Mobil yang melintas memang jarang, tetapi tak ada yang kurang dari 60 km per jam, sehingga debu-debu yang menempel di jalanan, berterbangan menerpa wajahku yang tidak terlalu putih namun bersih ini, dan menjadikannya sedikit kucel.

Saat jalanan sepi, aku menyebrang jalan, untuk keluar dari Rawa Rotan ini, karena kalau tidak, maka aku akan lebih jauh masuk ke pelosok rawa rotan, dan pasti akan berakhir di sebuah pantai yang bernama Tanjung Pasir. Pantai yang kotor dan tidak terlalu populer di Tangerang, maupun di Indonesia, ya iyalah...

Akupun terdiam di salah satu sisi jalanan itu, memandang kosong ke seberang jalan yang sepi. Kulihat ke arah kiri dan kanan, tak ada satu mobilpun yang melintas. Sesekali gemuruh suara engine pesawat terdengar begitu keras hingga memekakan gendang telinga. Pesawat-pesawat yang berukuran raksasa itu melintas beberapa meter di atas kepalaku, untuk mendarat di Bandara Soekarno Hatta.



Sekali lagi, aku lihat ke arah kanan, terlihat sebuah benda yang kecil melaju ke arahku, seperti fatamorgana, mobil itu seakan-akan melindas genangan air yang ada di jalanan. Padahal saat itu, udara sangat panas, mungkin mencapai 33 derajat celcius, mungkin. Benar saja, itu sebuah mobil elf (dibaca elep), angkutan umum di daerah ini, jurusan Pintu Air (water door) - Kampung Melayu (Melayunian Village).
Mobil itu lalu menghampiriku, seseorang keluar dari dalam mobil dan berkata..."pintu aer bang?!"..

Tanpa menjawab aku langsung naik, dan duduk di kursi paling belakang di dekat jendela. Terlihat beberapa penumpang lain, penduduk setempat yang melakukan aktivitas biasa mereka sehari-hari.

Semuanya terdiam, sambil melihat ke jendela, memandangi sisi jalanan. Tidak ada yang berbicara, selain kenek yang memanggil-manggil penumpang...

Pikiranku kembali melayang, kali ini kembali ke kampung halaman. ..sebuah desa yang indah, di pinggiran utara kota Bandung, di ketinggian 1200 m dpl. Teringat teman-temanku disana, dan kekasihku yang masih bersekolah di SMA. Uh, andai aku ada disana, mungkin aku sedang bercumbu dengannya sambil bercanda bersama teman-temanku...

Namun..."ah, tapi aku baru pulang kampung seminggu yang lalu, masa aku pulang lagi?" kataku dalam hati...

Kembali ke jalan, kali ini mobil yang tumpangi melambat, terlihat sedikit kemacetan di sebuah pasar, dekat Pintu Air. Orang-orang lalu lalang menyebrang jalan, tukang becakpun tak kalah membuat semberawut tempat itu, Sebentar lagi aku sampai...

Di Pintu Air, mobil berhenti, semua penumpang turun. Aku berjalan lagi, dan masih tanpa tau akan kemana. .lalu tiba tiba sebuah angkot berhenti dan menawariku untuk naik..."Kebon Nanas Bang!?...

Lagi, akupun naik ke dalam angkot. Kali ini terlihat beberapa siswa dan siswi SMU yang menumpang, mereka saling berbicara dan bercanda, membuat aku makin teringat kekasihku yang menunggu somewhere ini Bandung...

Perjalanan angkot kali ini, tidak secepat angkot elf tadi, karena jalur yang dilalui cukup padat, dan banyak melalui persimpangan. Lalu setelah hampir setengah jam, kenek berkata

"Kebon Nanas?"...

"Kiri Bang!"...kataku

Aku turun dari angkot, dan beberapa calon penumpang naik...

Ternyata aku berhenti dikerumunan, tempat ini adalah terminal bayangan (tempat calon penumpang menunggu bus, mencari jurusan yang tepat untuk dinaiki, tetapi bukan di terminal sehingga seringkali membuat kemacetan di area sini)...

Kali ini, aku tidak berjalan, aku hanya berdiri di tengah kerumunan, memperhatikan kemana orang-orang ini pergi...membuat aku semakin bingung kemana aku harus pergi????

Teng!! Tiba-tiba muncul sebuah kota di dalam benaku "Serang!" kesanalah aku akan menuju. Beberapa saat kemudian datanglah sebuah bis jurusan Kalideres-Serang. Bisnya tidak terlalu besar, dan tidak terlalu bagus, agak sedikit tidak terawa, tetapi agak kosong penumpangnya. Lalu, bis berhenti, beberapa orang naik, termasuk aku.

Di dalam bis, aku mencari kursi kosong. Aku memilih kursi disebelaah kanan dan agak ke belakang. Duduklah aku disana, memandang kosong keluar jendela...

Tiba-tiba dua orang penumpang duduk di sebelahku, keduanya lelaki yang berumur sekitar 25 taunan. Aku memandang mereka sejenak seraya berkata "yah...sempit deh tempat duduku. Lalu mereka berbincang-bincang, membicarakan hal yang aku tak tau...tapi aku tak peduli, aku tetap memandang ke luar jendela, memperhatikan masyarakat beraktivitas di seberang jalan sana. Jalan ini satu jalur, jalur yang berlawanan dibatas oleh pagar di tengah jalan...

Bis melaju kencang di jalur by pass ini...

Kenek mulai menanyai setiap penumpang, hendak kemana mereka akan pergi dan menagih ongkos yang sesuai dengan jarak yang di tempuh. Aku mulai bingung..

"Berapa ongkosnya ya?"...

Agar tidak terjadi penipuan, aku memberanikan diri kepada lelaki di sebelahku...

"Mas, ke Serang berapa ya?"

"Rp. 4000 Mas!"..."Emang baru ya ke Serang?"

"Iya Mas"

"Ooh, Di Serang, mau kemananya mas?"

"Ah Gak tau mas, jalan-jalan aja."

"Jalan-jalan koq sendirian Mas? Gak sama temen?"

"Gak mas!"



Orang itupun melihat bengong mendengar jawabanku, dan terlihat wajah penasarannya...

"Mas mang dari mana?"

"Oh saya dari Rawa Rotan, tapi asli dari Bandung mas"

"Kerja di Tangerang?"

"Iya"

"Kerja dimana?"

...orang itu mulai melakukan interview dengaku...



"Di Lion Air mas"

"Ooh,Bagian apa?"

"Saya teknisi..."

"Teknisi pesawat??"

"Ya begitulah"

"Wah hebat! Pasti gede gajinya ya?"

"Cukuplah buat bujangan.." kataku merendah...



Lalu, orang itu mengajak salaman dan memperkenalkan diri...

"Kenalin Mas, nama saya Joko!"

"Oh ya, nama saya Indra..."

"Jadi...mas ini lagi libur ya?"

"Iya."

"Berapa hari...?"

Dari situ, kami mulai membicarakan mengenai pekerjaan. Ternyata, kebetulan dia juga pernah menjadi teknisi, dan dalam dua minggu dia akan menjadi seorang teknisi las di sebuah kapal layar di Malaysia.

Pembicaraan kami nyambung, sehingga kami asyik berbincang sepanjang perjalanan...sedangkan orang yang disebelahnya tadi, terlelap dalam bis yang melaju kencang itu.

Akhirnya, kenek menghampiri kami dan berkata..

"Kemana Bang?"

Joko menjawab " Serang tiga Bang!"

Lalu aku membayar kenek itu, tetapi mas Joko berkata...

"Udah-udah ndra! Kan tiga sekalian sama kamu!"

"Kalo gitu makasih mas, tapi saya jadi ga enak! Ini saya ganti saja!"

"Ah gak usah, santai aja"

Baru kali ini aku menemui orang yang baru aku kenal, langsung ngongkosin!

Mungkin dia sedang gembira dengan nasibnya hari ini, mungkin dia baru sajam mendapat kebahagiaan sehingga dia ingin membagi sebagian rejekinya pada orang lain...

Kami pun melanjutkan pembicaraan kembali...

Kali ini, aku yang banyak bertanya...

"Mas, emang mau kemana?"

"Saya mau ke Bandar Lampung"

"Oh, dikira mau ke Serang juga? Kenapa gak naik yangke Merak mas?"

"Harusnya sih, tapi tadi susah dapat bisnya, ya udah akhirnya saya naik ini aja, yang ke Serang! Tar dari serang sambung lagi..."

"Emang berapa dari Serang ke Merak?"

"Kalo gak salah, sama aja Rp.4000 juga, soalnya dari Kalideres ke Serang kan Rp.8000"

"Ooh..."

"Kenapa?Mau ke Merak? Mau ikut nyebrang?"

"Ah, takut mahal naik kapalnya.."

"Enggak, Cuma Rp.7500 koq..."

"Iya gitu?Serius? dikira Rp. 30.000an gitu?"

"Gak, gak! Deket koq, Cuma 2 jam perjalanan dari pelabuhan Merak Ke pelabuhan Bakaheuni!! Ayo ikut aja! Daripada gak tau mau kemana, kan lumayan ikut nyebrang, dapat pengalaman naik kapal...eh udah pernah naik kapal belum?"

"Kebetulan, belum!"

"Ya udah, ikut nyebrang aja, bagus loh pemandangannya!"

Rupanya si Mas Joko ini, juga penikmat keindahan alam...dia menceritakan beberapa tempat yang pernah ia kunjungi...

Akhirnya, Bis berhenti di terminal Serang, semua penumpang turun, Mas Joko terlihat bersalaman dengan temannya den mengucapkan selamat tinggal...
Aku, terdiam di sisi terminal itu, dan kebingungan kembali menghampiriku, kemana aku harus pergi?...
Tiba-tiba Mas Joko berkata..."Dra, mau balik lagi? Ya udah saya pergi ya!"

"Eh mas, tunggu...iktu nyebrang ah!"

"Hah? Beneran? Ayo Aja! Tapi bis nyebrang mau kemana?"



Mas itu menjadi ragu, padalah tadi ia begitu bersemangat ngajak aku nyebrang...mungkin tadi Cuma basa basi aja...tapi...

"Ya udah, kalo mau nyebrang, kita bareng lagi!"

"Oke mas! Tar gimana nanti ajalah udah disana mah!"



Kami berdua lalu naik ke dalam Bis jurusan Serang-Merak, duduk kembali di Kursi yang sama dan melanjutkan obrolan yang sempat terhenti tadi..

"Jadi Mas Joko orang Lampung ya?"

"Bukan, bukan, tapi saya punya sodara disana"

"Ooh.."......

Obrolan kami semakin seru, seperti teman lama sudah tidak lema bertemu, hingga banyak sekali hal yang harus di obrolkan, kami berbagi pengalaman, berbagi ilmu, dan membicarakan masa depan...

Ah, akhirnya aku tidak sendiri, kataku dalam hati....



Lalu kenek menagih ongkos, dan...kali ini aku yang membayar ongkos Mas Joko

"Udah Mas, biar saya aja!"

"Wah, padahal gak usah, tadi saya ikhlas koq, kenapa jadi dibayarin?"

"Santai Mas, saya juga ikhlas se ikhlas ikhlasnya..."



Jaln dari sernag menuju Merak cukup indah, dikiri kanan terlihat sawah membentang, menghijau, langit begitu cerah, dan jalanan lancar.

Setelah dua jam kami sampai di pelabuhan Merka, benar-benar pemandangan yang baru, ternya pelabuhan dan bandara cukup berbeda, disini terdapat banyak bis dan truk yang sedang mengatri dinaikan ke dalam Kapal, lalu terlihat lautan membiru yang disisinya terdapat kapal kapal besar.



Kami turun dari bis, dan langsung menuju ke tempat pembelian tiket, lalu...

"Mas, tiketnya dua!" Kata mas Joko...

"Yang jam 7 aja ya Mas, yang sekarang udah mau berangkat !" kata penjaga tiket...

"Hah?emang yang ini gak keburu? Masih bisa gak? Saya harus cepet-cepet ke Bandar Lampung!"

"Ya udah, bisa mas, tapi mas harus lari kesana, mudah-mudahan masih keburu!"

"Baik mba! Ndra, ayo ndra kapalnya udah mau pergi!"



Senja itu, kami berlari lari menuju kapal, terompet kapal sudah dibunyikan...ngoooong bunyinya, kami semakin kencang berlari, di iringi angin laut yang kencang, seakan menambah ketegangan kami. Kami berlari sekitar 100 meter di atas sebuah Jembatan (garbarata/belalai gajah disebutnya kalo di Bandara).



"Cepet mas!" Kata seorang crew kapal...kami berdua naik ke kapal, dan pintu kapal pun ditutup. Kapal mulai melaju perlahan, tinggalkan daratan, bergerak ke arah lautan...

Kami berkeliling di atas kapal feri itu, mencari tempat duduk yang enak, biar kami bisa melihat pemandangan laut... kami duduk di kursi penumpang yang berada di bagian belakang kapal itu, menghadap ke belakang, sehingga seakan-akan kami mundur...

Tapi tidak lama dari itu, mas Joko mengajaku pindah untukmelihat anak-anak yang jago mengambil koin yang dilemparkan dari kapal, adegan yang berbahaya memang...aku ingin ssekali melempar koin ke dalam lautan, tapi aku tak punya, akhirnya kuberikan saja rokok dari mas joko kepada salah satu remaja yang akan meloncat, diselipkannya roko di daun telinganya, dan...wuing, dia meloncat...basah dong rokonya??



...Terlihat daratan seakan akan menjauh, pulau jawa yang tercinta, pulau dimana aku dibesarkan, kini perlahan menghilang dari pandangan mata...ini kali pertama aku meninggalakan pulau Jawa, sungguh perasaan yang tidak bisa dibayangkan sebelumnya. Aku pergi menjauh meninggalkan pulau Jawa, menuju pulau Sumatera yang belum pernah aku injaki...

Sesaat pikiranku melayang, mengingat masa-masa indah di pulau Jawa, mengenang semua ke indahannya, tapi tiba tiba ...

"Dra! Woiy! Pindah Yuk!"

Mas Joko mengajak pindah lagi, kali ini dia mengajak kami masuk ke dalam kapal, melihat-lihat kelas-kelas di atas kapal, ternyata untuk masuk ke dalam kelas yang lebih tinggi kami harus membeli tiket lagi di dalam kapal feri itu. Tapi kami tidak masuk, hanya melihat dari luarnya saja.

Lalu dia mengajak ke tempat parkiran dan...

Wow~ternyata kapal ini sangat besar, banyak bus dan truk di sana, wuih...aku terkesima sekali saat itu...

"Nah, ini tempat parkirnya! Gede banget kan dra!"

"Iya Mas! Keren!"

Akupun cukup kenyang melihat tempat parkiran itu dan mengajak mas Joko untuk pergi ke bagian lainnya dari kapal.

"Ayo Dra! Ikuti saya!"

Mas Joko mengajaku ke bagian depan kapal. Tapi, disana terdapat sebuah plang "Selain petugas dilarang masuk"..

"Ayo ndra loncat kesini..."

"Ah enggak mas! Kan ga boleh?"

"Alah, tenang aja ga apa apa koq!"

Akhirnya aku loncat...ternyata dari bagian depan kapal pemandangan lebih indah...

Kami pun mencari tempat untuk nongkrong.



Kami duduk di sebuah tutup mesin di kapal itu....

Melihat lautan yang begitu luas, burung laut yang berterbangan, dan terlihat pulau pulau kecil nun jauh disana...mentari mulai memerah, menandakan senja telah datang untuk menyambut malam...air laut yang biru bercampur dengan warna langit yang memerah, menjadi bauran warna yang indah...

Sejenak, kami berdua terdiam, membayangkan hidup kami sebelum hari ini, sebleum saat kami menikmati indahnya sunset di selat sunda...

Tidak lama kemudian, terlihat sebuah gunung di sebuah pulau..Sumatera! mungkinkah itu?

Lalu aku bertanya kepada Mas Joko

"Mas! Itu pulau Sumatera?"

"Iya ndra! Tapi masih jauh koq, sekotar satu jam lagi"



Khayalku kembali muncul, teringat teman-temanku di Pulau Jawa, membayangkan sedang apa mereka? Sedang apa kekasihku? Apa yang dilakukan orang tuaku sekarang? Dan andai saja mereka disni, bersamaku melihat keindahan Selat Sunda..

Lalu akaku keluarkaan telepon genggamgu, jarti jariku mulai mengetik sesuatu kepada pacarku..."Sie, namanya"..aku menceritakan sedang apa aku sekarang, dan dia merespon begitu antusias, andai aku berada disana katanya...



"Dra, 2 minggu lagi akan kutinggalkan negara ini, pindah ke Malaysia. Doain ya!"

"IyaMas, mudah-mudahan mas menjadi orang sukses disana"...



To be continued...
Slideshow Report as Spam

Use this image in your site

Copy and paste this html: