Ramai-Ramai Naik Motor di Pnom Penh

Trip Start Aug 06, 2006
1
6
28
Trip End Jul 20, 2010


Loading Map
Map your own trip!
Map Options
Show trip route
Hide lines
shadow

Flag of Cambodia  ,
Monday, August 7, 2006

Dari balik jendela pesawat terpampang pemandangan dataran luas sawah dan ladang. Tak ada gunung sama sekali. Inilah Kamboja, negeri yang baru pulih dari luka-luka perang.



         "Serius, kamu mau pergi ke Kamboja? Di sana kan banyak ranjau darat!" kata teman-teman ketika mendengar kami mau berkunjung ke negeri itu. Sempat terbersit rasa miris tapi gejolak petualangan dalam diri kami bertujuh mampu mengatasi rasa takut itu.

          Tapi sepertinya ketakutan itu tak beralasan karena urusan imigrasi di Phnom Penh International Airport yang moderen dan bersih berjalan lancar. Di situ kami harus mengisi formulir permohonan visa on arrival yang berbiaya 20 dolar AS.

          Lantas meluncurlah kami di atas mobil van bermerek Toyota tanpa plat nomor milik hotel yang menjemput kami di bandar udara. Di negeri ini tak sedikit kendaraan bermotor meluncur tanpa nomor polisi. Kaca depan mobil itu nyaris hancur dilempar batu. Mirip kaca-kaca kereta api jenis Argo di Indonesia yang sering ditimpuki batu.

          Tak jauh dari bandar udara, rekan saya menunjuk papan billboard besar dengan potret anak kecil memegang senjata api. Di dekatnya tertulis, “Say No to Gun.” Tampaknya warga sipil masih ada yang memegang senjata api. Perlucutan senjata memang butuh waktu lebih panjang dari yang diperkirakan.

Meski begitu kami sama sekali tak khawatir. Orang-orang Kamboja yang kami temui semua tampak ramah dan bicara dalam bahasa Inggris yang lancar. Supir kami pun ramah dan sabar menerangkan perihal kota Phnom Penh kepada kami.

Naik mobil sore-sore membelah Phnom Penh menuju hotel yang terletak jauh di luar kota, kami menjumpai sejumlah pemandangan menarik. Buruh-buruh wanita pulang bekerja dari pabrik.

Suasananya mirip Tangerang, ya debunya, ya semrawutnya. Toko-toko memajang baju di etalase. Ditilik dari mode yang sedang in sekarang, kira-kira baju yang dipajang ketinggalan sekitar 10-15 tahun. Note book dan komputer bekas dipajang di etalase kaca. Tak ketinggalan telepon genggam bekas.

Hari sudah gelap ketika mobil van kami memasuki halaman hotel L'Imprevu. Di balik semak-semak berkilauan air kolam renang yang biru ditimpa cahaya lampu. Kami bertujuh saling melirik penuh arti. Asyik, bisa berenang.

          Kamar-kamar hotel terdiri dari bungalow terbuat dari kayu yang mengelilingi kolam renang. Untuk kami para backpacker ini sudah tentu sebuah kemewahan. Kemewahan yang murah harganya. Karenanya, isi kamar berlantai kayu itu cuma ranjang dan lemari. Tak ada televisi di dalam kamar. Padahal kami ingin tahu juga seperti apa isi acara televisi di Kamboja.

          Naik tuk-tuk kami memulai perjalanan keesokan harinya ke Killing Fields. Saya jadi mengerti kenapa penulis Lonely Planet, South East Asia on Shoestring buku sahabat para backpackers menyarankan membeli selendang khas Khmer sebelum jalan-jalan keliling kota naik tuk-tuk. Selendang yang juga digunakan pejuang Khmer merah dalam film Killing Field itu berguna sekali untuk menutupi wajah. Tanpa itu, debu berterbangan menerpa wajah kami. Terlebih jalan menuju lokasi ladang pembunuhan itu belum diaspal dan berlubang plus tampaknya sudah tak lama tak turun hujan. 

Killing Field adalah satu dari sejumlah situs di Kamboja tempat pembunuhan dan kuburan massal orang Kamboja di bawah rezim komunis Khmer Merah yang dipimpin Pol Pot. Di kuburan massal ini ditemukan sekitar 8900 tengkorak dan tulang belulang.

          Suasana sepanjang jalan mungkin hampir sama dengan kondisi sekitar tahun 1979-1980 ketika pembunuhan massal itu terjadi. Penduduk desa hidup seadanya di rumah papan. Tapi di satu dua rumah terparkir mobil mewah merek Lexus.

          Dengan suasana seperti itu terbayang kondisi para korban pembunuhan ketika diangkut menuju lokasi menggunakan truk dengan mata tertutup. Mereka diturunkan dari truk untuk selanjutnya disiksa sebelum akhirnya mati. Demi menghemat peluru, pasukan Pol Pot lebih suka menyiksa mereka memakai bambu runcing, palu atau apa pun yang sanggup membuat tengkorak mereka berlubang.

          Pembunuhan terjadi setelah angkar, badan rezim pemerintahan kala itu memberi dua kali peringatan kepada warga. Peringatan diberikan jika mereka dituduh terlibat dalam aktivitas pasar bebas, kontak dengan misionaris asing atau pemerintah asing, atau juga orang asing. Etnis Vietnam, etnis Cham yang muslim, orang Kristen Kamboja, pendeta Buddha juga termasuk target pemusnahan.

          Estimasi jumlah orang yang terbunuh di bawah rezim Pol Pot itu tak pernah pasti. Diperkirakan 3.3 juta orang mati dari 8 juta rakyat. CIA mengestimasi antara 50-10 ribu orang mati dieksekusi Khmer merah. Itu belum termasuk rakyat yang mati karena kelaparan. 

          Suasana prihatin langsung terbangun ketika kami memasuki lokasi. Pedih rasanya menyaksikan sekian banyak orang mati dengan rata-rata tengkorak rusak. Di bekas kuburan massal masih tercecer tulang milik anak-anak.

Mekanisme penyiksaan di tempat itu terlalu mengerikan untuk diceritakan. Di salah satu pohon tertera keterangan bahwa pohon itu digunakan untuk menggantung pengeras suara yang memutar lagu-lagu. Tujuannya agar rintihan penderitaan tak terdengar sampai jauh. Pengeras suara itu juga digunakan untuk memanggil calon korban.

Dalam perjalanan pulang kami masih terdiam membayangkan kepedihan  tragedi kemanusiaan itu. Beruntung ada pemandangan ojek sepeda motor unik yang langsung menyita perhatian kami. Buru-buru kami mengeluarkan kamera untuk memotret sepeda motor yang dibuat sedemikian rupa bisa menarik sebuah gerobak. Dengan itu si ojek bisa memboncengkan lebih dari sepuluh orang sekaligus.

Sepeda motor di Kamboja bisa diangkut dalam bagasi bus. Demikian pula batu bata dan bahan bangunan. Lo? Jangan salah, bus di Kamboja didisain bertingkat. Di bawah adalah tempat kemudi dan bagasi yang suaangat luas. Di situ koper dan ransel kami diletakkan bersama dengan sepeda motor dan batu bata dalam perjalanan menuju Siem Reap, kota wisata tempat candi Angkor Wat berada.

Di tengah perjalanan selama enam jam itu bus berhenti untuk istirahat buang air kecil dan makan. Jajanan yang digelar berupa buah nanas tak menarik minat karena diragukan kebersihannya. Justru kami tertarik mencoba kumbang dan serangga goreng. “Rasanya gurih, lo,” seru Anastasia Pingkan, reporter Warta Kota yang mengunyah sebungkus kumbang mirip makan sebungkus kacang. 
Slideshow Report as Spam

Use this image in your site

Copy and paste this html: