Festival Warna-warni di Tengah Sejuknya Pegunungan

Trip Start Nov 14, 2004
1
Trip End Nov 15, 2004


Loading Map
Map your own trip!
Map Options
Show trip route
Hide lines
shadow

Flag of Indonesia  ,
Sunday, November 14, 2004

Sinar matahari sangat terik saat kami berangkat meninggalkan Bandung, menuju ke daerah selatan. Hawa panasnya luar biasa. Namun, Jalan Kopo yang biasanya macet saat itu cukup sepi, mungkin karena bertepatan dengan hari pertama Lebaran. Ini membuat perjalanan kami ke bagian selatan Kabupaten Bandung tidak terlalu panjang. Cukup satu setengah jam saja kami sudah sampai di Desa Pasirjambu, sama sekali terbebas dari kemacetan yang identik dengan Lebaran.

Jalan menuju daerah selatan Bandung cukup dipelihara oleh pemerintah setempat. Jarang kami temukan bagian jalan yang rusak parah. Di sepanjang jalan itu, hamparan sawah dan pepohonan tinggi yang rindang di kiri kanan kami nampak seperti ribuan gradasi warna hijau yang sedang membanjiri tanah. Gunung-gunung terlihat jelas di kejauhan, memutari batas jarak pandang kami. Tetapi matahari masih belum juga menunjukkan toleransinya.

Desa Pasirjambu berjarak sekitar 10 kilometer dari perbatasan Kotamadya Bandung bagian selatan (daerah Soreang). Di sini jalannya terbagi menjadi dua jalur utama: satu menuju Ciwidey yang berujung di Situ Patengan, satu lagi menuju Gambung yang berlanjut ke Pangalengan.

Kami memilih jalur yang ke Gambung terlebih dulu. Kami melalui jalan yang lebih kecil, tetapi masih bagus, dengan perpaduan antara gunung dan lembah yang sama-sama hijau di sekeliling kami. Sepuluh kilometer kemudian, kami tiba di sebuah resort yang letaknya di kaki Gunung Tilu, yakni Argapuri Mountain Resort.

Sejak dulu Gambung-seperti juga Lembang yang ada di utara Bandung-terkenal dengan udaranya yang sejuk dan bersih. Di daerah ini banyak dibangun bumi perkemahan, tempat peristirahatan, dan juga tempat retreat. Salah satunya adalah Resort Argapuri ini, terletak tepat di seberang kompleks retreat milik sekolah St. Aloysius Bandung.

Resort Argapuri saat itu memasang harga untuk "Paket Lebaran" sekitar satu juta rupiah untuk sebuah vila (ada dua pilihan: kayu dan beton) dilengkapi dengan dua kamar tidur, satu ruang bersama, dan satu kamar mandi. Di hari biasa, menurut petugasnya, tarifnya berkisar antara Rp 600 ribu hingga 700 ribu semalam. Saat itu sebenarnya tidak terlalu penuh, tetapi resepsionis menyarankan agar kami segera membuat keputusan, karena banyak yang sudah melakukan pemesanan kamar sebelumnya.

Setelah melihat langsung vila yang dimaksud, kami yakin bahwa vila ini mampu menampung kami semua. Yang menginap ada 14 orang, namun karena keterbatasan ranjang, kami menambah empat buah extra bed yang saat itu harganya masing-masing Rp 40000. Karena saat itu masih siang, kami tidak segera menempati vila. Dengan tetap membawa seluruh barang-barang, kami melanjutkan perjalanan ke arah Ciwidey.

Kawah Putih, Mulut Bumi yang Sedang Menguap
Objek wisata pertama yang kami kunjungi adalah Kawah Putih, yang terletak di lereng Gunung Patuha pada ketinggian sekitar 2000 meter. Jika melalui jalur Ciwidey, Kawah Putih jelas tidak mungkin terlewatkan karena ada petunjuk besar dari batu yang bertuliskan "Objek Wisata Kawah Putih" tepat di tepi jalan masuknya.

Saya pribadi sangat terkesan dengan pemerintah setempat dalam hal pemeliharaan tempat ini. Tiket masuknya Rp 4000 per orang dan Rp 3000 per mobil. Ada petugas jaga di gerbang masuk yang terawat baik. Keseriusan pemerintah setempat tampak pada kondisi jalan masuk menuju situs kawah. Dibangun menembus hutan yang sangat rimbun pepohonannya, jalanan yang sangat menanjak ini memberikan perjalanan yang mulus dari mulai gerbang masuk hingga ke situs kawah.

Tempat parkir di situs kawah, meskipun berbatu-batu, sangat luas dan cukup bersih. Ada warung-warung yang menyediakan makanan dan minuman panas untuk melawan udara 'sejuk' yang cukup membuat sebagian pengunjung gemetar kedinginan. Saat itu Kawah Putih cukup banyak pengunjungnya, sebagian besar datang dari Bandung dan Jakarta.

Dari tempat parkir sampai ke situs kawah, dibangun sebuah jalan berundak-undak yang panjangnya kurang dari 300 meter. Di sampingnya ada beberapa warung yang menjual baju hangat dan baju-baju wisata. Jalan ini membawa kami ke suatu dataran yang dibuat seperti taman, dimana ada orang-orang yang berjualan jagung, direbus dan dibakar. Dari taman itu kami menyusuri jalan lain yang mengarah langsung ke kawah.

Betapa terkejutnya kami melihat pemandangan menakjubkan di depan mata seketika itu juga. Kawah Putih nampak seperti sebuah mulut menganga: seolah-olah bumi sedang menguap. Bau sulfur hanya terasa sedikit menggantung di udara. Kabut tipis berwarna putih muncul dari permukaan air kawah yang berwarna hijau apel, melayang ke atas, terkadang mengaburkan pemandangan ngarai raksasa di belakangnya. Di mana-mana terdapat banyak sekali bukit kecil yang tertutup pasir vulkanik yang putih keabuan. Paduan antara warna hijau tua dari pepohonan dengan warna putih abu vulkanik ini sungguh amat dahsyat.

Tepat di perbatasan antara mulut bumi yang berasap dengan tanah berbukit-bukit tempat kami berada terdapat lumpur hijau yang seolah hidup. Beberapa pengunjung yang berani menjejakkan kaki ke atasnya, termasuk saya, sempat terisap masuk. Ternyata air yang ada di tepian tidak panas seperti yang diduga sebelumnya. Tapi saya tak berani membayangkan betapa panasnya air yang keluar tepat dari pusat kawah.

Waktu satu jam tak terasa telah kami habiskan disana. Setelah saya selesai membersihkan sisa-sisa lumpur yang menempel di kaki dan tangan dengan air yang dinginnya membuat sedikit mati rasa, kami pun meninggalkan Kawah Putih. Sangat disayangkan, objek wisata yang demikian spektakuler dan terpelihara baik ini belum banyak dikenal dan dikunjungi wisatawan.

Perjalanan Antiklimaks Pasca Kawah Putih
Kami melanjutkan perjalanan ke Ranca Upas, bumi perkemahan sekaligus tempat penangkaran rusa yang jaraknya kurang dari satu kilometer dari gerbang utama Kawah Putih. Namun sayang sekali, Ranca Upas ternyata tidak secantik yang kami kira. Rusa yang ditangkar disini hanya tersisa 12 ekor saja, itu pun dengan kondisi yang sangat menyedihkan. Rusa-rusa ini sepertinya sudah tidak diperhatikan lagi.

Di tempat ini kami menemukan seorang pedagang dengan gerobak yang menjajakan mie baso. Makanan itulah yang akhirnya segera mengobati kekecewaan kami semua disini, meskipun rasa dan harganya biasa-biasa saja. Paling tidak kuahnya yang hangat cukup membantu kami menyesuaikan diri dengan dinginnya udara sore itu.

Kami juga sempat mengunjungi dua objek wisata pemandian air panas yaitu di Ranca Walini (dikelola oleh PT. Perhutani) dan di Cimanggu (milik perkebunan teh). Keduanya juga biasa-biasa saja, kalau tidak bisa dibilang mengecewakan. Kolam-kolamnya terlalu kecil sehingga orang-orang yang sedang berenang serasa dimampatkan di dalamnya. Airnya berwarna hijau pucat, kotor. Satu kolam renang di Cimanggu sudah sangat ditelantarkan sampai-sampai di dasar kolamnya tumbuh rumput liar!

Tiket masuk untuk ketiga tempat yang disebut di atas rata-rata sama: Rp 3000-4000 per orang. Khusus untuk Ranca Upas, tarif ini adalah untuk berkemah disana. Harga yang sama juga berlaku untuk satu unit kendaraan.

Makan Malam Ditemani Alunan Suling Sunda
Kami menikmati makan malam di Sindang Reret, sebuah restoran a la Sunda yang juga menyediakan kamar hotel. Di antara menu yang mereka tawarkan, yang menurut saya wajib dicoba adalah oseng kangkung yang rasa dan aromanya sungguh nikmat. Selain itu, sayur asem dan karedok-nya juga terasa pas di lidah. Makanan lainnya yang kami pesan-tahu goreng, paru goreng, dan gurame bakar-rasanya tergolong standar.

Untuk minumannya, saya mencicipi Krakatau-campuran jus mangga, lemon, dan cabe! Hanya sedikit rasa pedas yang terasa di lidah, terselimuti oleh rasa manis dari mangga dan wangi lemonnya. Unik dan sangat layak dicoba! Sebagian memesan bandrek, minuman khas setempat dari gula aren yang berkhasiat menghangatkan badan.

Sindang Reret juga menjual barang-barang seni dengan harga yang dahsyat. Kami membeli tiga buah suling Sunda yang harganya hanya Rp 2000-5000 satu batang, tergantung ukurannya. Sambil mengobrol menunggu makanan keluar, kami ditemani dengan suara suling yang masing-masing tidak saling sinkron.

Harga dan Kepuasan Tidak Sebanding
Kami tiba di Resort Argapuri sekitar pukul sembilan malam. Ternyata tidak banyak vila yang ada penghuninya, tidak seperti yang dikatakan si resepsionis siang tadi. Kami juga tidak puas dengan pelayanan dan kebersihan resort ini. Vila tempat kami menginap, ketika kami tiba disana, ternyata penuh dengan serangga, terutama laron. Kami harus memohon dengan sangat pada petugas sebelum akhirnya mereka datang membawa obat pengusir serangga.

Tidak adanya sambungan telepon di tiap-tiap unit vila membuktikan ketidaksiapan--atau ketidakpedulian?--pengelola resort dalam memuaskan konsumennya. Tanpa telepon, kami kesulitan untuk mengontak petugas seandainya kami memerlukan mereka (untuk minta air panas, misalnya). Ditambah lagi vila kami (dan juga yang lainnya) letaknya jauh dari front office-perjalanan dari sini ke kantor perlu waktu 5 menit dengan bermobil.

Selain itu, kondisi kulkas dan kompor yang disediakan di ruang bersama rupanya sudah tidak baik lagi, sehingga kami tidak menggunakannya sama sekali. Semua ini bisa dimaklumi, karena vila kami sepertinya sudah cukup lama tidak ditinggali. Ciwidey memang bukan tempat wisata yang ramai sepanjang tahun, jadi wajar saja kalau pemeliharaan dan perawatan penginapannya pun setengah-setengah. Walaupun begitu kami tetap bisa bersyukur atas keadaan kamar mandinya yang setidaknya cukup layak.

Sebagian dari kami yang sudah dikuasai rasa lelah dan kantuk segera membersihkan diri lalu pergi tidur. Sebagian yang lain mengobrol di ruang bersama sambil makan malam untuk yang kedua kalinya. Udara malam di Gambung sendiri ternyata tidak begitu dingin, kalah jauh dibandingkan udara sore di Kawah Putih. Udara dingin baru terasa menusuk kulit kira-kira pukul 2 subuh, dan tetap begitu hingga pagi tiba.

Kami yang bangun di pagi hari tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk merasakan segarnya udara pagi lewat begitu saja. Beberapa dari kami berjalan santai mengitari kompleks vila sambil menikmati udara bersih Gambung dan asrinya pemandangan sekitar. Disini, jam 7 pagi matahari sudah tinggi, tetapi sengatan sinarnya masih belum terlalu terasa di kulit.

Sarapan pagi yang disajikan rupanya tidak sesuai dengan apa yang dijanjikan oleh pihak resort. Alih-alih menu buffet, yang tersedia hanyalah nasi goreng beserta dengan lauk pauk standar hotel kelas menengah saja. Sebenarnya saat itu karena bertepatan dengan Lebaran, kami diberikan pilihan lain yaitu ketupat lebaran, namun kami semua memilih nasi goreng. Bagaimanapun juga, pilihan menu yang sangat terbatas ini tidak menyurutkan nafsu makan kami semua, yang memang senantiasa tidak pernah hilang.

Bermain di Kebun Teh dan Strawberry
Seusai sarapan, kami semua bersiap-siap dan segera berangkat. Tujuan berikutnya adalah perkebunan teh di daerah sekitar. Daerah ini, terutama Ranca Walini, memang terkenal juga dengan perkebunan tehnya. Kami mengunjungi kebun teh milik PPTK, Pusat Penelitian Teh dan Kina. Walau hanya sesaat, kami sempat mencoba memetik sedikit daun teh. Rupanya sama sekali tidak tercium bau teh dari daun teh yang masih baru dipetik dari pohonnya.

Kemudian kami menuju daerah Ciwidey yang sepanjang jalannya berjajar kebun-kebun strawberry milik warga. Ada yang lahannya cukup luas dan ada juga yang hanya memuat sekitar seratus pot saja. Yang sama adalah mereka semua menawarkan para pembelinya untuk memetik sendiri buah strawberrynya--sebuah trend yang belakangan ini sedang digemari masyarakat perkotaan. Strawberry hasil petikan sendiri itu dijual dengan harga Rp 30 ribu per kilogram, jauh lebih mahal dari harga pasar.

Bentuk tanaman strawberry yang pendek membuat semua orang harus membungkuk ketika mencari buah yang akan dipetik. Tidak perlu takut tidak menemukan strawberry yang warnanya merah ranum, karena kabarnya tanaman strawberry mampu berbuah setiap dua hari sekali! Saat paling baik untuk memetik strawberry adalah pagi hari, saat buahnya yang masih segar dan ranum belum habis dipetik orang lain.

Berbeda dengan teh, strawberry dapat langsung dicium wanginya yang sangat khas. Selain menjual buahnya, kebun-kebun pribadi ini juga menjual produk-produk homemade berbasis strawberry, seperti selai, dodol, dan sirup. Saya sempat mencicipi dodolnya, dan hasilnya ternyata pahit seperti dibubuhi obat. Jus strawberry segar, bagi saya, tetap yang paling enak.

Kalua Jeruk, Oleh-oleh dari Kota Wisata Ciwidey
Sebelum melakukan perjalanan pulang ke Bandung, kami mampir di salah satu toko yang menjual oleh-oleh Ciwidey. Kata-kata "kalua jeruk, oleh-oleh khas Ciwidey" terpampang besar-besar di setiap toko yang kami lewati, sehingga kami tertarik untuk mencicipinya.

Kalua Jeruk dibuat dari kulit jeruk bali yang masih muda, diolah sedemikian rupa seperti manisan bermacam-macam warna: merah, kuning, hijau, oranye, sampai putih. Rasanya sangat tidak biasa di lidah. Manis, tetapi suatu manis yang tidak pernah dirasakan sebelumnya. Memakan satu potong ibarat menambahkan sebuah definisi baru tentang rasa manis pada spektrum rasa yang dikenal lidah kita. Saya sendiri tidak terlalu menyukainya. Yang sangat enak justru dodol strawberrynya. Berbeda dengan dodol yang dijual di kebun strawberry, dodol yang dijual di toko oleh-oleh ini sangat lembut dan kadar manisnya tepat.

Kami akhirnya masuk ke mobil dengan membawa sekantong besar makanan khas berbagai daerah--mulai dari bandrek, manisan, moci, hingga kerupuk kulit--dan memulai perjalanan pulang kami menuju Bandung, meninggalkan sejuknya udara bersih dan parade warna hijau yang masih membanjir di kejauhan.
Slideshow Report as Spam
Add Comment

Comments

vswibawa
vswibawa on

ciwidey
Duh fotonya bagus-bagus banget.... saya emank lagi cari2 info pengen ke sana des nanti tapi jadi ragu mau nginap yang bersih n ok di mana dong.... bawa anak2 nih soalnya.... tq

Add Comment

Use this image in your site

Copy and paste this html: