Capital of the Sultanate of Bima
Trip Start
Sep 15, 2008
1
7
14
Trip End
Sep 15, 2011
Where I stayed
Mutmainah Hotel
WISATA SEJARAH & WISATA ALAM
Bima
Bima (Indonesia),
Bima is a city on the eastern coast of the island Sumbawa in central Indonesia's, province West Nusa Tenggara. In 2005 the city (kota) held an estimated population of 123,064, separate from (but surrounded by) the adjoining regency of Bima with 407,636 population.
Bima was the eponymous capital of the Sultanate of Bima (id:Kesultanan
Bima), which seceded
after Islamisation in the early 17h century to an ancient Hindu kingdom on the
eastern seaboard of the island of Sumbawa.
Only in 1792 the Dutch persuaded Sultan 'Abdu'l Hamid Muhammad Shah to sign
a definitive contract, making Bima a protectorate,
first of the VOC (indirect rule by charter
company) and later of the Dutch
Indies, but the colonial hand weighed lighter than in most Indonesian princely
states.
Bima adalah salah satu kota kecil yang letaknya
di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Kota Bima mempunyai sejarah budaya yang mengagumkan dan menyimpan keindahan alam yang mungkin banyak
orang yang belum tahu akan hal ini.
Untuk Wisata Sejarah & Wisata Alam di Kota Bima dan sekitranya, dapat menghubungi LAENA TOURS & TRAVEL.
Customer Service: (+62) (21) 835 6660
Jl KH. Abdullah Syafi'I No.7 Jakarta Selatan 12860, Indonesia.
Bima adalah salah satu kota kecil yang terletak di
ujung timur Propinsi NTB (Nusa Tenggara Barat), di bumi Ngaha Aina Ngoho ini tersimpan
banyak sekali aset-aset alam yang menyimpan sejuta pesona yang masih belum
terjamah, dan perlu untuk di gali dan dijadikan sebagai objek wisata. Aset alam
ini bisa dijadikan sebagai daya tarik para wisatawan domestik maupun asing.
KESULTANA BIMA
Kesultanan Bima adalah kerajaan yang terletak di Bima. Penduduk daerah ini dahulunya beragama Hindu/Syiwa. Pada masa Pemerintahan Raja XXVII,yang bergelar "Ruma Ta Ma Bata Wadu". Menurut BO (catatan lama Istana Bima), menikah dengan adik dari isteri Sultan Makassar Alauddin bernama Daeng Sikontu, puteri Karaeng Kassuarang. Ia menerima/memeluk agama Islam pada tahun 1050 H atau 1640 M, kemudian raja atau Sangaji Bima tersebut digelari dengan “Sultan” yaitu Sultan Bima I, beliau inilah dengan nama Islam-nya “Sultan Abdul Kahir”. Setelah Sultan Bima I mangkat dan digantikan oleh putranya yang bernama Sultan Abdul Khair Sirajuddin sebagai Sultan II, maka sistem pemerintahannya berubah dengan berdasarkan “Hadat dan Hukum Islam”. Hal ini berlaku sampai dengan masa pemerintahan Sultan Bima XIII (Sultan Ibrahim). Sultan Abdul Khair Sirajuddin adalah putera dari Sultan Abdul Kahir. Dilahirkan bulan + April 1627 (Ramadhan 1038 H), bergelar Ruma Mantau Uma Jati. Ia juga bernama La Mbila, orang Makassar menyebut “I Ambela”. Wafat tanggal + 22 Juli 1682 (17 Rajab 1099 H), dimakamkan di Tolo Bali. Menikah dengan saudara Sultan Hasanuddin, bernama Karaeng Bonto Je'ne, pada tanggal 13 September 1646 (22 Rajab 1066 H), di Makassar. Abdul Khair Sirajuddin dinobatkan menjadi Sultan Bima II, pada tahun 1640 (1050 H).Sultan Nuruddin Abubakar
Ali Syah adalah putera dari Sultan Abdul Khair Sirajuddin. Dilahirkan pada
tanggal 5 Desember 1651 (29 Zulhijah 1061 H). Orang Makassar
diberi gelar “Mappara bung Nuruddin Daeng Matali Karaeng Panaragang”. Naik
tahta pada tahun 1682 (Zulhijah 1093 H). Menikah dengan Daeng Tamemang, saudara
Karaeng Langkese puteri Raja Tallo pada tanggal 7 Mei 1684 (22 Jumadilawal 1095
H). Setelah meninggal, diberi gelar “Ruma Ma Wa’a Paju”, karena yang mula-mula
memakai Payung jabatan yang berwarna kuning yang terkenal dengan “Paju Monca”.
Sultan Muhammad Salahuddin, adalah Putera dari Sultan Ibrahim, dilahirkan pada tahun 1888 (jam 12.00, 15. Zulhijah 1306 H). Dilantik menjadi Sultan Bima XIII pada tahun 1917. Meninggal di Jakarta pada hari Kamis 11 Juni 1951, jam 22.00 (7 Syawal 1370 H) dalam usia 64 tahun. Setelah wafat diberi gelar “Ma Kakidi Agama”, karena menjunjung tinggi agama serta memiliki pengetahuan yang mumpuni dan luas dalam bidang agama. Sejak berumur 9 tahun, memperoleh pendidikan dan pelajaran agama dari ulama terkenal, diantaranya: H. Hasan Batawi dan Syech Abdul Wahab (Imam Masjidil Haram Mekkah). Ia memiliki koleksi buku-buku agama karya ulama-ulama terkenal dari Mesir, Mekkah, Medinah, dan Pakistan. Juga karya oleh Imam Syafi’i. Ia mendalami Ilmu Fiqhi dan Qira’ah. Pada era pemerintahannya, tidak mengherankan apabila perkembangan agama mengalami kemajuan pesat terutama di bidang pendidikannya. Wazir Ruma Bicara yang dipegang oleh Abdul Hamid (menggantikan Muhammad Qurais) pada era itu juga mempunyai peran dan menaruh perhatian yang amat besar dalam bidang yang sama.
SENJA DI AMA HAMI Sebuah suasana yang direkam pada waktu senja hari di Ama Hami. Ya, sore yang indah untuk kita jalan-jalan menanti waktu magrib tiba. Biasanya anak-anak muda dan orang tua plus keluarga sejenak bersantai ria di Ama Hami kala senja tiba.
WISATA ALAM CAMPA MADAPANGGA. Desa Campa yang Menyimpan Rahasia Alam. Campa adalah salah satu desa kecil yang letaknya di kabupaten Bima, NTB, khususnya di kecamatan Madapangga. Letaknya memang jauh dari keramaian, tetapi campa juga menyimpan keindahan alam yang mungkin banyak orang yang belum tahu akan hal ini. Contohnya seperti wana wisata OI TABA, kalo yang ini mungkin sudah banyak yang tahu, tetapi ada satu tempat yang belum orang tahu letaknya yaitu AIR TERJUN, kalau dilihat air terjun ini bisa dikelola untuk dijadikan sebagai wana wisata. Untuk foto-fotonya saya ambil dari anak-anak KASMAPALA SMA 1 Kota BIMA (thanks n maaf sudah posting fotonya tanpa ijin). Bentuk wana wisata ini adalah semacam tempat meluncur tapi bedanya tempat meluncur di OI taba ini di bentuk oleh alam.
NTUMBU (ADU KEPALA). Salah satu budaya bima yang masih bertahan dan terus dikembnangkan adalah adu kepala. Buaya dan sekalugus keseniaan ini berlokasi di Kecamatan Wawo Kabupaten Bima. Tradisi yang sudah berumur sama dengan keberadaan daerah bima ini tidak sembarang orang dapat memainkannya. Hal ini karena perlu dipelajari secara serius dan mendalam melalui seorang guru. Sehingga tidak heran, hanya terdiri dari beberapa orang saja yang mampu memerankan tradisi tersebut. Belum lama ini digelar budaya adu kepala di halaman Kantor Bupati Bima dan mendapat prehatian luas dari masyarakat, termasuk turis manca negara.
PACOA JARA (PACUAN KUDA). Pacuan Kuda atau dalam bahasa Bima disebut “Pacoa Jara” tampaknya makin marak di Bima. Paling tidak pacuan kuda diselenggarakan 2 kali setahun, yaitu pada hari-hari besar seperti Hari Proklamasi (Agustus) dan Hari Pemuda (Oktober). Pacuan kuda ini dilaksanakan dalam bentuk kejuaraan, bahkan melibatkan juga peserta dari daerah lain, Dompu, Sumbawa, hingga dari Lombok. Yang menarik, hadiah bagi jawara pacuan kuda ini tidak sedikit, sehingga banyak peminatnya. Hadiah pertama antara lain sebuah sepeda motor + sepasang anak sapi + hadiah lainnya. Setiap peserta membayar biaya pendaftaran sebesar Rp 150.000,- Jika ternyata kalah dan keluar, peserta yang penasaran bisa mendaftar lagi. Nah, untuk satu periode pacuan, jumlah pendaftar ini bisa mencapai 800 hingga 1000 peserta! Selain di Panda, arena pacuan ada juga di kota Bima dan di Sila
PANTAI LAWATA. tentang tempat-tempat wisata yang berada di Bima, salah satu jawaban yang niscaya disebutkan adalah: Lawata. Lawata memang sudah sejak dulu menjadi sebuah obyek wisata atau tempat piknik bagi masyarakat Bima. Lawata terletak hampir di luar kota Bima, berupa sebuah “tonjolan” ke teluk Bima. Di Lawata terdapat sebuah bukit kecil yang memiliki beberapa buah gua kecil. Pantainya bukanlah tempat yang bagus untuk bermain air, namun air (laut)nya bisa dibilang cukup jernih walaupun kadang berlumpur dan banyak batu-batu yang berserakan. Karena historinya, Lawata kemudian “dibangun”, dibuatkan banyak “cottage” yang berderet di sepanjang pantainya. Setiap cottage memiliki bagian “dalam” yang bisa digunakan untuk lesehan, bagian luar/depan yang bisa digunakan untuk memandang ke arah laut/teluk, dan tempat berbeque di sebelah luar/belakang. Tampaknya, setiap cottage cukup untuk sebuah keluarga atau rombongan yang lebih dari 10 orang.
PANTAI KALAKI.
Pantai Kalaki yang dulunya tempat melepas ternak dan pembuangan sampah, kini
dipermak menjadi lokasi wisata yang sangat diminati. Ke depan, lokasi
wisata itu akan dipoles hingga mendatangkan manfaat bagi masyarakat
sekitar. Pemerintah telah menyiapkan dana untuk membangun berbagai
fasilitas lainnya, seperti kolam renang, pembelian jet ski, dan
lainnya. Lokasi tersebut, sebagai tempat pemandian dan pusat olahraga
renang. Setiap orang yang berkunjung ke pantai tersebut sebagian besar
mampir untuk membeli bandeng.
PELABUHAN BIMA. Pemandangan Pelabuhan Bima, tampak Kapal Ferry sedang berlabuh di Pelabuhan Bima.
TEMBE NGGOLI. Tembe Nggoli adalah sarung tenun tangan khas Bima, dibuat dari benang kapas (katun), dengan warna-warni yang cerah dan bermotif khas sarung tenun tangan.Keistimewaanya Tembe Nggoli antara lain:
NCUHI, Rumah Adat Bima. Ncuhi adalah rumah adat yang digunakan sebagai sarana upacara adat dan berkumpulnya tetua kampung dan masyarakat adat. Uma ncuhi ini adalah merupakan salah satu kebanggaan bagi masyarakat mbawa. Konon, kabarnya nih para leluhur yang sudah meninggal puluhan tahun bahkan ratusan tahun yang lalu tetap tinggal di rumah ncuhi tersebut dan dapat mengabulkan permohonan misalnya saja warga yang ingin meminta mendapatkan anak atau meminta kekuatan/mantra bisa di dapat di rumah ncuhi tersebut tapi dengan catatan harus melalui ketua adat. Di dalam ncuhi terdapat dua bilik, Bilik pertama merupakan tempat tidur sekaligus tempat memasak (dapur). Pada bagian dapur terdapat tungku yang terbuat dari batu bulat yang ditempatkan berbentuk segi tiga. Pada bagian atas tungku terdapat taja. Taja merupakan tempat yang digunakan untuk menyimpan bahan bakar dan atau untuk mengeringkan ikan. Sedangkan bilik ke dua digunakan untuk menyimpan barang-barang keperluan seperti padi dan sebagainya dan sekaligus tempat pemujaan terhadap leluhur
Wisata Alam SOROMANDI. Keindahan DORO "SOROMANDI" Bima adalah salah satu kota kecil yang terletak di ujung timur Propinsi NTB (Nusa Tenggara Barat), di bumi Ngaha Aina Ngoho ini tersimpan banyak sekali aset-aset alam yang menyimpan sejuta pesona yang masih belum terjamah, dan perlu untuk di gali dan dijadikan sebagai objek wisata. Aset alam ini bisa dijadikan sebagai daya tarik para wisatawan domestik maupun asing.
WADU MBOLO. Wadu mbolo dilihat dari sisi selatan. Tempat ini juga termasuk salah satu tujuan untuk warga yang pingin jalan sore-sore.
Bima
Bima (Indonesia),
Bima is a city on the eastern coast of the island Sumbawa in central Indonesia's, province West Nusa Tenggara. In 2005 the city (kota) held an estimated population of 123,064, separate from (but surrounded by) the adjoining regency of Bima with 407,636 population.
Bima was the eponymous capital of the Sultanate of Bima (id:Kesultanan
Bima), which seceded
after Islamisation in the early 17h century to an ancient Hindu kingdom on the
eastern seaboard of the island of Sumbawa.
Only in 1792 the Dutch persuaded Sultan 'Abdu'l Hamid Muhammad Shah to sign
a definitive contract, making Bima a protectorate,
first of the VOC (indirect rule by charter
company) and later of the Dutch
Indies, but the colonial hand weighed lighter than in most Indonesian princely
states.
Bima adalah salah satu kota kecil yang letaknya
di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Kota Bima mempunyai sejarah budaya yang mengagumkan dan menyimpan keindahan alam yang mungkin banyak
orang yang belum tahu akan hal ini.
Untuk Wisata Sejarah & Wisata Alam di Kota Bima dan sekitranya, dapat menghubungi LAENA TOURS & TRAVEL.
Customer Service: (+62) (21) 835 6660
Jl KH. Abdullah Syafi'I No.7 Jakarta Selatan 12860, Indonesia.
Bima adalah salah satu kota kecil yang terletak di
ujung timur Propinsi NTB (Nusa Tenggara Barat), di bumi Ngaha Aina Ngoho ini tersimpan
banyak sekali aset-aset alam yang menyimpan sejuta pesona yang masih belum
terjamah, dan perlu untuk di gali dan dijadikan sebagai objek wisata. Aset alam
ini bisa dijadikan sebagai daya tarik para wisatawan domestik maupun asing.
KESULTANA BIMA
Kesultanan Bima adalah kerajaan yang terletak di Bima. Penduduk daerah ini dahulunya beragama Hindu/Syiwa. Pada masa Pemerintahan Raja XXVII,yang bergelar "Ruma Ta Ma Bata Wadu". Menurut BO (catatan lama Istana Bima), menikah dengan adik dari isteri Sultan Makassar Alauddin bernama Daeng Sikontu, puteri Karaeng Kassuarang. Ia menerima/memeluk agama Islam pada tahun 1050 H atau 1640 M, kemudian raja atau Sangaji Bima tersebut digelari dengan “Sultan” yaitu Sultan Bima I, beliau inilah dengan nama Islam-nya “Sultan Abdul Kahir”. Setelah Sultan Bima I mangkat dan digantikan oleh putranya yang bernama Sultan Abdul Khair Sirajuddin sebagai Sultan II, maka sistem pemerintahannya berubah dengan berdasarkan “Hadat dan Hukum Islam”. Hal ini berlaku sampai dengan masa pemerintahan Sultan Bima XIII (Sultan Ibrahim). Sultan Abdul Khair Sirajuddin adalah putera dari Sultan Abdul Kahir. Dilahirkan bulan + April 1627 (Ramadhan 1038 H), bergelar Ruma Mantau Uma Jati. Ia juga bernama La Mbila, orang Makassar menyebut “I Ambela”. Wafat tanggal + 22 Juli 1682 (17 Rajab 1099 H), dimakamkan di Tolo Bali. Menikah dengan saudara Sultan Hasanuddin, bernama Karaeng Bonto Je'ne, pada tanggal 13 September 1646 (22 Rajab 1066 H), di Makassar. Abdul Khair Sirajuddin dinobatkan menjadi Sultan Bima II, pada tahun 1640 (1050 H).Sultan Nuruddin Abubakar
Ali Syah adalah putera dari Sultan Abdul Khair Sirajuddin. Dilahirkan pada
tanggal 5 Desember 1651 (29 Zulhijah 1061 H). Orang Makassar
diberi gelar “Mappara bung Nuruddin Daeng Matali Karaeng Panaragang”. Naik
tahta pada tahun 1682 (Zulhijah 1093 H). Menikah dengan Daeng Tamemang, saudara
Karaeng Langkese puteri Raja Tallo pada tanggal 7 Mei 1684 (22 Jumadilawal 1095
H). Setelah meninggal, diberi gelar “Ruma Ma Wa’a Paju”, karena yang mula-mula
memakai Payung jabatan yang berwarna kuning yang terkenal dengan “Paju Monca”.
Sultan Muhammad Salahuddin, adalah Putera dari Sultan Ibrahim, dilahirkan pada tahun 1888 (jam 12.00, 15. Zulhijah 1306 H). Dilantik menjadi Sultan Bima XIII pada tahun 1917. Meninggal di Jakarta pada hari Kamis 11 Juni 1951, jam 22.00 (7 Syawal 1370 H) dalam usia 64 tahun. Setelah wafat diberi gelar “Ma Kakidi Agama”, karena menjunjung tinggi agama serta memiliki pengetahuan yang mumpuni dan luas dalam bidang agama. Sejak berumur 9 tahun, memperoleh pendidikan dan pelajaran agama dari ulama terkenal, diantaranya: H. Hasan Batawi dan Syech Abdul Wahab (Imam Masjidil Haram Mekkah). Ia memiliki koleksi buku-buku agama karya ulama-ulama terkenal dari Mesir, Mekkah, Medinah, dan Pakistan. Juga karya oleh Imam Syafi’i. Ia mendalami Ilmu Fiqhi dan Qira’ah. Pada era pemerintahannya, tidak mengherankan apabila perkembangan agama mengalami kemajuan pesat terutama di bidang pendidikannya. Wazir Ruma Bicara yang dipegang oleh Abdul Hamid (menggantikan Muhammad Qurais) pada era itu juga mempunyai peran dan menaruh perhatian yang amat besar dalam bidang yang sama.
SENJA DI AMA HAMI Sebuah suasana yang direkam pada waktu senja hari di Ama Hami. Ya, sore yang indah untuk kita jalan-jalan menanti waktu magrib tiba. Biasanya anak-anak muda dan orang tua plus keluarga sejenak bersantai ria di Ama Hami kala senja tiba.
WISATA ALAM CAMPA MADAPANGGA. Desa Campa yang Menyimpan Rahasia Alam. Campa adalah salah satu desa kecil yang letaknya di kabupaten Bima, NTB, khususnya di kecamatan Madapangga. Letaknya memang jauh dari keramaian, tetapi campa juga menyimpan keindahan alam yang mungkin banyak orang yang belum tahu akan hal ini. Contohnya seperti wana wisata OI TABA, kalo yang ini mungkin sudah banyak yang tahu, tetapi ada satu tempat yang belum orang tahu letaknya yaitu AIR TERJUN, kalau dilihat air terjun ini bisa dikelola untuk dijadikan sebagai wana wisata. Untuk foto-fotonya saya ambil dari anak-anak KASMAPALA SMA 1 Kota BIMA (thanks n maaf sudah posting fotonya tanpa ijin). Bentuk wana wisata ini adalah semacam tempat meluncur tapi bedanya tempat meluncur di OI taba ini di bentuk oleh alam.
NTUMBU (ADU KEPALA). Salah satu budaya bima yang masih bertahan dan terus dikembnangkan adalah adu kepala. Buaya dan sekalugus keseniaan ini berlokasi di Kecamatan Wawo Kabupaten Bima. Tradisi yang sudah berumur sama dengan keberadaan daerah bima ini tidak sembarang orang dapat memainkannya. Hal ini karena perlu dipelajari secara serius dan mendalam melalui seorang guru. Sehingga tidak heran, hanya terdiri dari beberapa orang saja yang mampu memerankan tradisi tersebut. Belum lama ini digelar budaya adu kepala di halaman Kantor Bupati Bima dan mendapat prehatian luas dari masyarakat, termasuk turis manca negara.
PACOA JARA (PACUAN KUDA). Pacuan Kuda atau dalam bahasa Bima disebut “Pacoa Jara” tampaknya makin marak di Bima. Paling tidak pacuan kuda diselenggarakan 2 kali setahun, yaitu pada hari-hari besar seperti Hari Proklamasi (Agustus) dan Hari Pemuda (Oktober). Pacuan kuda ini dilaksanakan dalam bentuk kejuaraan, bahkan melibatkan juga peserta dari daerah lain, Dompu, Sumbawa, hingga dari Lombok. Yang menarik, hadiah bagi jawara pacuan kuda ini tidak sedikit, sehingga banyak peminatnya. Hadiah pertama antara lain sebuah sepeda motor + sepasang anak sapi + hadiah lainnya. Setiap peserta membayar biaya pendaftaran sebesar Rp 150.000,- Jika ternyata kalah dan keluar, peserta yang penasaran bisa mendaftar lagi. Nah, untuk satu periode pacuan, jumlah pendaftar ini bisa mencapai 800 hingga 1000 peserta! Selain di Panda, arena pacuan ada juga di kota Bima dan di Sila
PANTAI LAWATA. tentang tempat-tempat wisata yang berada di Bima, salah satu jawaban yang niscaya disebutkan adalah: Lawata. Lawata memang sudah sejak dulu menjadi sebuah obyek wisata atau tempat piknik bagi masyarakat Bima. Lawata terletak hampir di luar kota Bima, berupa sebuah “tonjolan” ke teluk Bima. Di Lawata terdapat sebuah bukit kecil yang memiliki beberapa buah gua kecil. Pantainya bukanlah tempat yang bagus untuk bermain air, namun air (laut)nya bisa dibilang cukup jernih walaupun kadang berlumpur dan banyak batu-batu yang berserakan. Karena historinya, Lawata kemudian “dibangun”, dibuatkan banyak “cottage” yang berderet di sepanjang pantainya. Setiap cottage memiliki bagian “dalam” yang bisa digunakan untuk lesehan, bagian luar/depan yang bisa digunakan untuk memandang ke arah laut/teluk, dan tempat berbeque di sebelah luar/belakang. Tampaknya, setiap cottage cukup untuk sebuah keluarga atau rombongan yang lebih dari 10 orang.
PANTAI KALAKI.
Pantai Kalaki yang dulunya tempat melepas ternak dan pembuangan sampah, kini
dipermak menjadi lokasi wisata yang sangat diminati. Ke depan, lokasi
wisata itu akan dipoles hingga mendatangkan manfaat bagi masyarakat
sekitar. Pemerintah telah menyiapkan dana untuk membangun berbagai
fasilitas lainnya, seperti kolam renang, pembelian jet ski, dan
lainnya. Lokasi tersebut, sebagai tempat pemandian dan pusat olahraga
renang. Setiap orang yang berkunjung ke pantai tersebut sebagian besar
mampir untuk membeli bandeng.
PELABUHAN BIMA. Pemandangan Pelabuhan Bima, tampak Kapal Ferry sedang berlabuh di Pelabuhan Bima.
TEMBE NGGOLI. Tembe Nggoli adalah sarung tenun tangan khas Bima, dibuat dari benang kapas (katun), dengan warna-warni yang cerah dan bermotif khas sarung tenun tangan.Keistimewaanya Tembe Nggoli antara lain:
- Hangat
- Halus dan lembut
- Tidak mudah kusut
- Warna cemerlang lebih lama
NCUHI, Rumah Adat Bima. Ncuhi adalah rumah adat yang digunakan sebagai sarana upacara adat dan berkumpulnya tetua kampung dan masyarakat adat. Uma ncuhi ini adalah merupakan salah satu kebanggaan bagi masyarakat mbawa. Konon, kabarnya nih para leluhur yang sudah meninggal puluhan tahun bahkan ratusan tahun yang lalu tetap tinggal di rumah ncuhi tersebut dan dapat mengabulkan permohonan misalnya saja warga yang ingin meminta mendapatkan anak atau meminta kekuatan/mantra bisa di dapat di rumah ncuhi tersebut tapi dengan catatan harus melalui ketua adat. Di dalam ncuhi terdapat dua bilik, Bilik pertama merupakan tempat tidur sekaligus tempat memasak (dapur). Pada bagian dapur terdapat tungku yang terbuat dari batu bulat yang ditempatkan berbentuk segi tiga. Pada bagian atas tungku terdapat taja. Taja merupakan tempat yang digunakan untuk menyimpan bahan bakar dan atau untuk mengeringkan ikan. Sedangkan bilik ke dua digunakan untuk menyimpan barang-barang keperluan seperti padi dan sebagainya dan sekaligus tempat pemujaan terhadap leluhur
Wisata Alam SOROMANDI. Keindahan DORO "SOROMANDI" Bima adalah salah satu kota kecil yang terletak di ujung timur Propinsi NTB (Nusa Tenggara Barat), di bumi Ngaha Aina Ngoho ini tersimpan banyak sekali aset-aset alam yang menyimpan sejuta pesona yang masih belum terjamah, dan perlu untuk di gali dan dijadikan sebagai objek wisata. Aset alam ini bisa dijadikan sebagai daya tarik para wisatawan domestik maupun asing.
WADU MBOLO. Wadu mbolo dilihat dari sisi selatan. Tempat ini juga termasuk salah satu tujuan untuk warga yang pingin jalan sore-sore.



Comments
cpa pun bisa berkata,,,,,,,tapi klaw untuk kemajuan jangan man bisa berkata tpi harus perlu tindkan...........tolonk pa bupati sya ingin melihat tidakan bapak demi kmjuan bima..........sya mewkili smua orang bima........
banyak orang bima yang hdup diperantau karna kurangnya lahan pekerkaan..........mohon maaf..........
potensi pariwisata bima sangat bgus, Pnt. Lawata, Ncai rombo, dsb, mrpkan sumber penghasilan daerah yang sangt memungkinkan. khusuh P.lawata, andaikata tmpt itu dikelola dgn bagus, saya rasa income dari wisawan local / domestik saja sudah lumayan untuk menambah incomenya kota bima pd khususnya.
APA YANG GAK ADA DI BIMA????????????SEBUTIN SATU AJA KL ADA???????SEMUA ADA??SEMUA TERSEDIA,LAUT YANG INDAH DENGAN PANORAMANYA,KENAPA G MIKIR UTK MAJUKAN PARIWISATA?
BUDAYANYA?MASIH TERJAGTA SAMPE SEKARANG. PERTANIAN? LUMBUNG PADI KATAX.KEKAYAAN ALAM LAINNYA?DARI PASIR BESI SAMPAI EMAS ADA DI BIMA.SEMUA SUDAH DIKASIH TUHAN DARI AIR,DARAT,SAMPAI, PEGUNUNGAN YANG SEMPURNA.TAPI KENAPA YA BIMA GAK MAJU2????LIBATIN KITA YANG MUDA2 DONG UNTUK BANGUN BIMA.
idahx kampung halamanQ,,,jd kpgen pulang.....!!
bima apa ji tidak ada yang bisa diharapkan
BIMA sangat kuhargai...
sangaji sumbawa iskandar jukarnaen (upak tau)
dataran pulau sumbawa jutaan tahun lampau sudah berpenghuni dan menganut agama samawi / tauhit ajaran para nabi.mereka bercocok tanam dan berternak,.berlayar hingga ke madagaskar menempu perjalanan darat ke arabia.mereka di kenal sebagai pelaut antara banda dan aceh.
Banda : ternate irian, Aceh : melayu.
Save Bima... Tentram dan damailah!!! Penduduk dan masyarakat yang ramah dan rasa peduli antar manusia. Perfect People.
maja labo dahu...
jngn hanya janji tpi bukti.. demi mnruskn sjrah bima mbojo