Liverpool
Trip Start
Apr 02, 2012
1
6
8
Trip End
Apr 18, 2012
Day 12
Liverpool
( Anfield Stadium & Museum Tour – The Arkles )
Back in Liverpool..
Pagi-pagi saya sudah hadir di Anfield Stadium untuk mengikuti Anfield Stadium Tour jam 9 pagi. Setelah membayar mendapatkan diskon sebagai pemegang adult membership LFC dan membayar tiket stadium tour seharga £12 di Anfield, saya juga meminta tiket untuk menghadiri Hillsborough Memorial Service yang akan dilaksanakan keesokan harinya. Tentu saja tidak dipungut biaya dan siapa saja diperbolehkan menghadiri acara untuk memperingati tragedi Hillsborough tersebut.
Anfield Stadium Tour dimulai dan dipandu oleh seorang bapak yang kocak banget dalam memimpin tour ini. Tour dimulai dari patung Shankly di depan Liverpool store dan kami diarahkan untuk memasuki Anfield dari Club Guest Lounge. Di dalam ruang pertama, dipasang foto-foto para pemain Liverpool di masa lalu, kebanyakan foto hitam putih. Peserta tour lalu dibawa masuk ke dalam ruangan pers. Di dalam ruangan ini, pemandu tour menjelaskan kepada kami bahwa dulu di ruangan pers ini ada yang disebut boot room atau tempat untuk menyimpan sepatu para pemain. Sejak dipindahkannya boot room itu ke Melwood yang merupakan tempat latihan Liverpool FC, sejak saat itulah Liverpool FC belum berhasil menjuarai Liga Inggris lagi. Banyak tokoh dalam klub yang meminta boot room dikembalikan ke Anfield, namun hal itu masih belum terlaksana.
Tour dilanjutkan ke ruang ganti pemain. Saat memasuki ruang ganti, pemandu tour menanyakan apakah ada diantara peserta tour yang menyangka bahwa klub sebesar Liverpool mempunyai ruang ganti yang sesederhana ini? Jawabannya tentu tidak. Ruang ganti ini memang sangat sederhana dan klasik, khas sepakbola Inggris dengan langit ruangan yang tidak terlalu tinggi. Tapi itulah yang menjadikan para pemain dan pelatih menjadi sangat akrab. Di dalam ruang ganti pemain ini tersedia penghangat ruangan sedangkan di ruang ganti tim tamu tidak ada penghangat ruangan. Tak terbayangkan dinginnya ruang ganti pemain lawan pada musim winter.
Di luar ruang ganti, sampailah saya ke terowongan menuju lapangan dengan tulisan yang melegenda "THIS IS ANFIELD”. Setiap pemain lawan yang melewati dan membaca tulisan itu akan terpengaruh dan begitu keluar ke lapangan akan disambut oleh ribuan suporter yang mendukung Liverpool FC. John Terry, kapten Chelsea, pada buku autobiographynya mengatakan bahwa permainannya pada saat semifinal Champions League tahun 2005 terpengaruh oleh tulisan ”THIS IS ANFIELD” tersebut. Pada pertandingan itu, Chelsea kalah 1-0 di Anfield lewat gol tunggal dari Luis Garcia.
Sampai di lapangan, kami dipersilakan duduk di bangku cadangan dan official team. Yang menarik, bangku cadangan antara kedua kesebelasan yang bertanding di Anfield bersebelahan alias tidak ada pembatas apapun diantaranya. Dari bangku cadangan ini ke bangku penonton hanya dibatasi oleh dinding setinggi leher pemain. Selanjutnya kami dibawa menuju The Kop, tribun kebanggan Liverpudlian yang terletak di belakang gawang. Disana kami dipersilakan duduk dan menikmati pemandangan ke lapangan dari The Kop ini.
Stadion yang dibuka pada tahun 1884 ini memiliki kapasitas 45.462 tempat duduk. Pada awalnya stadion ini merupakan home base dari Everton, rival sekota Liverpool FC. Pada tahun 1892 pada saat Liverpool FC berdiri, Everton memindahkan markasnya ke Goodison Park Stadium yang lokasinya sangat berdekatan dengan Anfield.
Setelah menyelesaikan stadium tour, saya mengunjungi museum tour yang sepaket dengan stadium tour. Museum ini masih berada di dalam Anfield. Di dalamnya tentu saja disimpan piala dan trophy hasil kejayaan Liverpool FC selama ini. Termasuk juga piala Champions League yang dimenangkan Liverpool pada final dramatis di Istanbul tahun 2005. Sesuai peraturan UEFA, klub yang sudah pernah memenangkan 5 kali Champions League boleh menyimpan piala tersebut di markasnya. Tim sepakbola dari kota sebelah yang baru 3 kali juara Champions League dipersilakan datang ke Anfield untuk melihat piala asli dari Champions League ini.
Sekitar 3 jam kemudian, Anfield Stadium dan Museum Tour berakhir dan saya langsung mencari tempat untuk menonton pertandingan semifinal FA Cup antara Liverpool-Everton yang akan kick off jam 12.30 siang. Sebelumnya saya berusaha untuk mendapatkan tiket semifinal di Wembley Stadium ini, tapi harga yang ditawarkan sangat mahal, lebih dari £300/Rp.4.500.000 per tiket. Penjual souvenir kaki lima menyarankan saya menonton match itu di sebuah bar lokal dekat Anfield, The Arkles. Katanya disana saya akan merasakan atmosfer bagaimana scouser mendukung klub sepakbolanya. Dalam perjalanan ke The Arkles yang berada di dekat Anfield Road, saya melihat rumah-rumah sekeliling Anfield banyak yang memasang bendera Liverpool maupun Everton. Bahkan ada rumah yang bersebelahan tapi yang satu memasang bendera merah dan sebelahnya bendera biru.
Sampai di The Arkles, betul kata penjual souvenir itu, isinya scouser semua dan mereka terbagi dua, merah dan biru. Everton fans banyak duduk di dekat jendela bar, sedangkan Liverpudlian berdiri di depan big screen bar. Suasana di bar siang itu seru banget. Tidak hanya kaum adam, disana banyak ibu-ibu yang datang untuk nonbar dengan membawa stroller bayi dihiasi bendera merah atau biru. Udara di bar tidak terasa pengap sebab di seluruh Inggris, merokok di dalam bar dilarang keras.
Pertandingan semifinal FA CUP dimulai dan saya merapat ke meja bar di tengah kumpulan Liverpudlian yang mulai berteriak-teriak dengan logat scouse yang kadang tidak saya mengerti artinya. Begitu Everton mencetak gol di babak pertama melalui kaki Jelavic, Everton fans yang duduk langsung berdiri dan bersorak. Tapi tidak ada satu pun di antara mereka yang mengejek Liverpudlian yang berdiri di depannya. Mungkin karena orang yang berdiri di depannya itu bisa jadi tetangganya juga.
Di babak kedua Liverpool mengungguli Everton dengan gol dari Suarez dan Carrol. Liverpudlian yang berdiri di dekat saya melompat-lompat kegirangan sambil menjabat tangan saya karena Liverpool sebentar lagi akan lolos ke final FA Cup. Setelah wasit meniup peluit panjang, semua Liverpudlian larut dalam kegembiraan.
Final FA Cup pertama sejak tahun 2006...
Day 13
15 April 2012
Liverpool
( Anfield for 23rd Hillsborough Memorial Service – Goodison Park )
15 April 1989, hari yang akan selalu diingat oleh Liverpudlian dan suporter sepakbola di seluruh dunia karena pada hari itu terjadi Hillsborough Tragedy dimana 96 Liverpudlian kehilangan nyawanya akibat kekacauan di Hillsborough Stadium, Sheffield, pada pertandingan semifinal FA Cup antara Liverpool dan Nottingham Forrest. Sampai sekarang, kerabat korban tragedi ini masih menuntut keadilan akan apa yang sebenarnya terjadi di Hillsborough Stadium, 23 tahun lalu. Perjuangan mencari keadilan ini disebut "Justice for the 96 (JFT96)”. Selain JFT96, pergerakan untuk memboikot surat kabar The Sun juga dikenal dengan sebutan ”Don't Buy The Sun” Campaign. Seperti diketahui, 4 hari setelah terjadinya Hillsborough Tragedy, harian The Sun merilis artikel yang dimuat di headline dan isinya sangat menyakiti keluarga korban tragedi dan para Liverpudlian. The Sun menulis setelah kejadian, beberapa fans mencuri dompet para korban, mengencingi para polisi yang bertugas disana dan menyalahkan fans Liverpool sendiri atas kejadian itu. Bisa dibayangkan betapa sakitnya hati para Liverpudlian yang dengan spontan melakukan aksi boikot terhadap The Sun. Sampai sekarang belum ada permintaan maaf tertulis dari The Sun untuk meralat artikel yang sumbernya tidak berdasar tersebut.
Hari ini saya berkesempatan untuk menghadiri “Hillsborough Memorial Service” yang diadakan tanggal 15 April setiap tahunnya di Anfield Stadium. Acara ini ditujukan untuk memperingati meninggalnya 96 Liverpudlian tersebut. Setelah sehari sebelumnya saya mendapatkan tiket “The 23rd Anniversary of Hillsborough” (tentu saja dengan tidak dipungut biaya), sekitar jam 12 siang ini saya sampai di Anfield Stadium dan atas rekomendasi dari teman-teman BIGREDS, saya langsung menuju JFT96 Shop yang terletak di seberang The Kop. JFT96 Shop adalah pusat dari Hillsborough Justice Campaign. Di luar JFT Shop, beberapa kerabat korban Hillsborough sedang menunggu Ben, yang bersepeda dari Norwich ke Anfield sejauh 300 km untuk memperingati tragedi tersebut. Aksi bersepeda Ben dan seorang kawannya itu disebut “Ride for the 96”. Tak lama kemudian, Ben dan kawannya sampai di depan Anfield disambut pelukan dan tangisan haru kerabat korban Hillsborough yang sudah menunggu.
Saya lalu berbincang dengan Debbi di depan JFT Shop, yang juga pernah menerima rombongan BIGREDS beberapa waktu yang lalu. Debbi mengenalkan saya kepada Steve, seorang Evertonian yang kehilangan saudaranya di Hillsborough. Hari ini tidak ada merah atau biru, tidak ada Liverpool atau Everton, yang ada hanyalah kesatuan atas nama kemanusiaan. Debbie mengajak saya bergabung untuk mengikuti march dari JFT Shop ke Hillsborough Monument di Anfield Road. Dipimpin oleh Steve dan beberapa kawannya sambil memegang karangan bunga, march pun dimulai. Warga sekitar Anfield yang dilewati march ini serentak berhenti dan menghormati sampai march melewati mereka.
Di depan Hillsborough Monument, Steve memimpin ceramah pendek di depan keluarga korban. Isinya menegaskan bahwa mereka tidak akan berhenti memperjuangkan keadilan walaupun sudah 23 tahun tragedi itu berlalu. Hillsborough Monument dipenuhi karangan bunga dan Shankly Gate disebelahnya dipasangi banyak scarf dari beberapa klub sepakbola dari seluruh dunia yang ikut berbelasungkawa atas kejadian itu.
Saya pun memasuki Anfield Stadium dan duduk di bagian kanan The Kop. Untuk acara ini, tempat duduk tersedia di The Kop dan sebagian Main Stand & Centenary Stand. Sekitar 10.000 orang menghadiri acara tersebut. Suasana haru dirasakan setiap orang yang hadir di Anfield hari ini. Acara dimulai dengan nyanyian dari paduan suara gereja dan tak lama kemudian, keluarga korban hadir di lapangan diikuti para pemain Liverpool FC yang sehari sebelumnya memenangkan semifinal FA Cup melawan Everton di Wembley. Satu persatu pemain dimpimpin Kenny Dalglish memasuki The Kop disambut standing ovation dari semua yang hadir disana. Anggota dari akademi sepakbola Liverpool juga hadir, diikuti staff Liverpool FC. Pendeta Kevin Bolton mengucapkan selamat datang kepada para hadirin dan mulai membacakan 96 nama korban Hillsborough sambil dinyalakan lilin-lilin yang berjumlah 96 buah. Beberapa lagu lalu dinyanyikan oleh paduan suara gereja.
Acara dilanjutkan dengan one minute silence untuk mengingat para korban dan suara tangisan dari keluarga korban sayup-sayup terdengar memecah keheningan. Setelahnya dinyanyikan lagu Sarabande oleh Jonathan Aasgaard dari Royal Liverpool Philharmonic Orchestra. Ian Ayre dan Dirk Kuyt ikut membacakan beberapa ayat dari Alkitab dan diakhiri doa dari beberapa pendeta.
Yang membuat saya semakin terharu adalah pada saat Margaret Aspinall dari Hillsborough Family Support Group menyampaikan sambutannya. Beliau memberi selamat kepada Liverpool FC yang berhasil mencapai final FA Cup dengan mengalahkan Everton. Para Liverpudlian yang hadir disana langsung berdiri sambil bertepuk tangan. Setelah itu, Margaret Aspinall juga memberi kredit kepada Everton yang sudah mencapai semifinal FA Cup dan disambut para Evertonian dan Liverpudlian yang juga berdiri dan memberi applause. Ternyata banyak juga Evertonian yang hadir di Anfield hari ini.
Acara diakhiri dengan menyanyikan “You’ll Never Walk Alone” dan chant “Justice for the 96” oleh seluruh hadirin sambil dilepaskan 96 balon sebagai tanda untuk mengenang 96 suporter yang meninggal di Hillsborough.
Hari yang akan selalu dikenang oleh semua Liverpudlian. Steven Gerrard juga kehilangan saudara sepupunya yang bernama Jon-Paul Gilhooley di Hillsborough. Pada saat itu, Jon-Paul baru berusia 10 tahun. Dalam buku ”Gerrard : My Autobiography” Stevie G menulis bahwa motivasi terbesarnya dalam bermain sepakbola adalah kenangan akan Jon-Paul Gilhooley.
Setelah menghadiri Hillsborough Memorial Service, saya berjalan ke arah Stanley Park yang diisukan menjadi tempat dibangunnya stadion baru Liverpool FC. Di ujung Stanley Park, sudah terlihat Goodison Park Stadium, markas Everton yang merupakan rival sekota Liverpool. Jarak antara Anfield dan Goodison Park hanya sekitar 15 menit berjalan kaki.
Liverpool
( Anfield Stadium & Museum Tour – The Arkles )
Back in Liverpool..
Pagi-pagi saya sudah hadir di Anfield Stadium untuk mengikuti Anfield Stadium Tour jam 9 pagi. Setelah membayar mendapatkan diskon sebagai pemegang adult membership LFC dan membayar tiket stadium tour seharga £12 di Anfield, saya juga meminta tiket untuk menghadiri Hillsborough Memorial Service yang akan dilaksanakan keesokan harinya. Tentu saja tidak dipungut biaya dan siapa saja diperbolehkan menghadiri acara untuk memperingati tragedi Hillsborough tersebut.
Anfield Stadium Tour dimulai dan dipandu oleh seorang bapak yang kocak banget dalam memimpin tour ini. Tour dimulai dari patung Shankly di depan Liverpool store dan kami diarahkan untuk memasuki Anfield dari Club Guest Lounge. Di dalam ruang pertama, dipasang foto-foto para pemain Liverpool di masa lalu, kebanyakan foto hitam putih. Peserta tour lalu dibawa masuk ke dalam ruangan pers. Di dalam ruangan ini, pemandu tour menjelaskan kepada kami bahwa dulu di ruangan pers ini ada yang disebut boot room atau tempat untuk menyimpan sepatu para pemain. Sejak dipindahkannya boot room itu ke Melwood yang merupakan tempat latihan Liverpool FC, sejak saat itulah Liverpool FC belum berhasil menjuarai Liga Inggris lagi. Banyak tokoh dalam klub yang meminta boot room dikembalikan ke Anfield, namun hal itu masih belum terlaksana.
Tour dilanjutkan ke ruang ganti pemain. Saat memasuki ruang ganti, pemandu tour menanyakan apakah ada diantara peserta tour yang menyangka bahwa klub sebesar Liverpool mempunyai ruang ganti yang sesederhana ini? Jawabannya tentu tidak. Ruang ganti ini memang sangat sederhana dan klasik, khas sepakbola Inggris dengan langit ruangan yang tidak terlalu tinggi. Tapi itulah yang menjadikan para pemain dan pelatih menjadi sangat akrab. Di dalam ruang ganti pemain ini tersedia penghangat ruangan sedangkan di ruang ganti tim tamu tidak ada penghangat ruangan. Tak terbayangkan dinginnya ruang ganti pemain lawan pada musim winter.
Di luar ruang ganti, sampailah saya ke terowongan menuju lapangan dengan tulisan yang melegenda "THIS IS ANFIELD”. Setiap pemain lawan yang melewati dan membaca tulisan itu akan terpengaruh dan begitu keluar ke lapangan akan disambut oleh ribuan suporter yang mendukung Liverpool FC. John Terry, kapten Chelsea, pada buku autobiographynya mengatakan bahwa permainannya pada saat semifinal Champions League tahun 2005 terpengaruh oleh tulisan ”THIS IS ANFIELD” tersebut. Pada pertandingan itu, Chelsea kalah 1-0 di Anfield lewat gol tunggal dari Luis Garcia.
Sampai di lapangan, kami dipersilakan duduk di bangku cadangan dan official team. Yang menarik, bangku cadangan antara kedua kesebelasan yang bertanding di Anfield bersebelahan alias tidak ada pembatas apapun diantaranya. Dari bangku cadangan ini ke bangku penonton hanya dibatasi oleh dinding setinggi leher pemain. Selanjutnya kami dibawa menuju The Kop, tribun kebanggan Liverpudlian yang terletak di belakang gawang. Disana kami dipersilakan duduk dan menikmati pemandangan ke lapangan dari The Kop ini.
Stadion yang dibuka pada tahun 1884 ini memiliki kapasitas 45.462 tempat duduk. Pada awalnya stadion ini merupakan home base dari Everton, rival sekota Liverpool FC. Pada tahun 1892 pada saat Liverpool FC berdiri, Everton memindahkan markasnya ke Goodison Park Stadium yang lokasinya sangat berdekatan dengan Anfield.
Setelah menyelesaikan stadium tour, saya mengunjungi museum tour yang sepaket dengan stadium tour. Museum ini masih berada di dalam Anfield. Di dalamnya tentu saja disimpan piala dan trophy hasil kejayaan Liverpool FC selama ini. Termasuk juga piala Champions League yang dimenangkan Liverpool pada final dramatis di Istanbul tahun 2005. Sesuai peraturan UEFA, klub yang sudah pernah memenangkan 5 kali Champions League boleh menyimpan piala tersebut di markasnya. Tim sepakbola dari kota sebelah yang baru 3 kali juara Champions League dipersilakan datang ke Anfield untuk melihat piala asli dari Champions League ini.
Sekitar 3 jam kemudian, Anfield Stadium dan Museum Tour berakhir dan saya langsung mencari tempat untuk menonton pertandingan semifinal FA Cup antara Liverpool-Everton yang akan kick off jam 12.30 siang. Sebelumnya saya berusaha untuk mendapatkan tiket semifinal di Wembley Stadium ini, tapi harga yang ditawarkan sangat mahal, lebih dari £300/Rp.4.500.000 per tiket. Penjual souvenir kaki lima menyarankan saya menonton match itu di sebuah bar lokal dekat Anfield, The Arkles. Katanya disana saya akan merasakan atmosfer bagaimana scouser mendukung klub sepakbolanya. Dalam perjalanan ke The Arkles yang berada di dekat Anfield Road, saya melihat rumah-rumah sekeliling Anfield banyak yang memasang bendera Liverpool maupun Everton. Bahkan ada rumah yang bersebelahan tapi yang satu memasang bendera merah dan sebelahnya bendera biru.
Sampai di The Arkles, betul kata penjual souvenir itu, isinya scouser semua dan mereka terbagi dua, merah dan biru. Everton fans banyak duduk di dekat jendela bar, sedangkan Liverpudlian berdiri di depan big screen bar. Suasana di bar siang itu seru banget. Tidak hanya kaum adam, disana banyak ibu-ibu yang datang untuk nonbar dengan membawa stroller bayi dihiasi bendera merah atau biru. Udara di bar tidak terasa pengap sebab di seluruh Inggris, merokok di dalam bar dilarang keras.
Pertandingan semifinal FA CUP dimulai dan saya merapat ke meja bar di tengah kumpulan Liverpudlian yang mulai berteriak-teriak dengan logat scouse yang kadang tidak saya mengerti artinya. Begitu Everton mencetak gol di babak pertama melalui kaki Jelavic, Everton fans yang duduk langsung berdiri dan bersorak. Tapi tidak ada satu pun di antara mereka yang mengejek Liverpudlian yang berdiri di depannya. Mungkin karena orang yang berdiri di depannya itu bisa jadi tetangganya juga.
Di babak kedua Liverpool mengungguli Everton dengan gol dari Suarez dan Carrol. Liverpudlian yang berdiri di dekat saya melompat-lompat kegirangan sambil menjabat tangan saya karena Liverpool sebentar lagi akan lolos ke final FA Cup. Setelah wasit meniup peluit panjang, semua Liverpudlian larut dalam kegembiraan.
Final FA Cup pertama sejak tahun 2006...
Day 13
15 April 2012
Liverpool
( Anfield for 23rd Hillsborough Memorial Service – Goodison Park )
15 April 1989, hari yang akan selalu diingat oleh Liverpudlian dan suporter sepakbola di seluruh dunia karena pada hari itu terjadi Hillsborough Tragedy dimana 96 Liverpudlian kehilangan nyawanya akibat kekacauan di Hillsborough Stadium, Sheffield, pada pertandingan semifinal FA Cup antara Liverpool dan Nottingham Forrest. Sampai sekarang, kerabat korban tragedi ini masih menuntut keadilan akan apa yang sebenarnya terjadi di Hillsborough Stadium, 23 tahun lalu. Perjuangan mencari keadilan ini disebut "Justice for the 96 (JFT96)”. Selain JFT96, pergerakan untuk memboikot surat kabar The Sun juga dikenal dengan sebutan ”Don't Buy The Sun” Campaign. Seperti diketahui, 4 hari setelah terjadinya Hillsborough Tragedy, harian The Sun merilis artikel yang dimuat di headline dan isinya sangat menyakiti keluarga korban tragedi dan para Liverpudlian. The Sun menulis setelah kejadian, beberapa fans mencuri dompet para korban, mengencingi para polisi yang bertugas disana dan menyalahkan fans Liverpool sendiri atas kejadian itu. Bisa dibayangkan betapa sakitnya hati para Liverpudlian yang dengan spontan melakukan aksi boikot terhadap The Sun. Sampai sekarang belum ada permintaan maaf tertulis dari The Sun untuk meralat artikel yang sumbernya tidak berdasar tersebut.
Hari ini saya berkesempatan untuk menghadiri “Hillsborough Memorial Service” yang diadakan tanggal 15 April setiap tahunnya di Anfield Stadium. Acara ini ditujukan untuk memperingati meninggalnya 96 Liverpudlian tersebut. Setelah sehari sebelumnya saya mendapatkan tiket “The 23rd Anniversary of Hillsborough” (tentu saja dengan tidak dipungut biaya), sekitar jam 12 siang ini saya sampai di Anfield Stadium dan atas rekomendasi dari teman-teman BIGREDS, saya langsung menuju JFT96 Shop yang terletak di seberang The Kop. JFT96 Shop adalah pusat dari Hillsborough Justice Campaign. Di luar JFT Shop, beberapa kerabat korban Hillsborough sedang menunggu Ben, yang bersepeda dari Norwich ke Anfield sejauh 300 km untuk memperingati tragedi tersebut. Aksi bersepeda Ben dan seorang kawannya itu disebut “Ride for the 96”. Tak lama kemudian, Ben dan kawannya sampai di depan Anfield disambut pelukan dan tangisan haru kerabat korban Hillsborough yang sudah menunggu.
Saya lalu berbincang dengan Debbi di depan JFT Shop, yang juga pernah menerima rombongan BIGREDS beberapa waktu yang lalu. Debbi mengenalkan saya kepada Steve, seorang Evertonian yang kehilangan saudaranya di Hillsborough. Hari ini tidak ada merah atau biru, tidak ada Liverpool atau Everton, yang ada hanyalah kesatuan atas nama kemanusiaan. Debbie mengajak saya bergabung untuk mengikuti march dari JFT Shop ke Hillsborough Monument di Anfield Road. Dipimpin oleh Steve dan beberapa kawannya sambil memegang karangan bunga, march pun dimulai. Warga sekitar Anfield yang dilewati march ini serentak berhenti dan menghormati sampai march melewati mereka.
Di depan Hillsborough Monument, Steve memimpin ceramah pendek di depan keluarga korban. Isinya menegaskan bahwa mereka tidak akan berhenti memperjuangkan keadilan walaupun sudah 23 tahun tragedi itu berlalu. Hillsborough Monument dipenuhi karangan bunga dan Shankly Gate disebelahnya dipasangi banyak scarf dari beberapa klub sepakbola dari seluruh dunia yang ikut berbelasungkawa atas kejadian itu.
Saya pun memasuki Anfield Stadium dan duduk di bagian kanan The Kop. Untuk acara ini, tempat duduk tersedia di The Kop dan sebagian Main Stand & Centenary Stand. Sekitar 10.000 orang menghadiri acara tersebut. Suasana haru dirasakan setiap orang yang hadir di Anfield hari ini. Acara dimulai dengan nyanyian dari paduan suara gereja dan tak lama kemudian, keluarga korban hadir di lapangan diikuti para pemain Liverpool FC yang sehari sebelumnya memenangkan semifinal FA Cup melawan Everton di Wembley. Satu persatu pemain dimpimpin Kenny Dalglish memasuki The Kop disambut standing ovation dari semua yang hadir disana. Anggota dari akademi sepakbola Liverpool juga hadir, diikuti staff Liverpool FC. Pendeta Kevin Bolton mengucapkan selamat datang kepada para hadirin dan mulai membacakan 96 nama korban Hillsborough sambil dinyalakan lilin-lilin yang berjumlah 96 buah. Beberapa lagu lalu dinyanyikan oleh paduan suara gereja.
Acara dilanjutkan dengan one minute silence untuk mengingat para korban dan suara tangisan dari keluarga korban sayup-sayup terdengar memecah keheningan. Setelahnya dinyanyikan lagu Sarabande oleh Jonathan Aasgaard dari Royal Liverpool Philharmonic Orchestra. Ian Ayre dan Dirk Kuyt ikut membacakan beberapa ayat dari Alkitab dan diakhiri doa dari beberapa pendeta.
Yang membuat saya semakin terharu adalah pada saat Margaret Aspinall dari Hillsborough Family Support Group menyampaikan sambutannya. Beliau memberi selamat kepada Liverpool FC yang berhasil mencapai final FA Cup dengan mengalahkan Everton. Para Liverpudlian yang hadir disana langsung berdiri sambil bertepuk tangan. Setelah itu, Margaret Aspinall juga memberi kredit kepada Everton yang sudah mencapai semifinal FA Cup dan disambut para Evertonian dan Liverpudlian yang juga berdiri dan memberi applause. Ternyata banyak juga Evertonian yang hadir di Anfield hari ini.
Acara diakhiri dengan menyanyikan “You’ll Never Walk Alone” dan chant “Justice for the 96” oleh seluruh hadirin sambil dilepaskan 96 balon sebagai tanda untuk mengenang 96 suporter yang meninggal di Hillsborough.
Hari yang akan selalu dikenang oleh semua Liverpudlian. Steven Gerrard juga kehilangan saudara sepupunya yang bernama Jon-Paul Gilhooley di Hillsborough. Pada saat itu, Jon-Paul baru berusia 10 tahun. Dalam buku ”Gerrard : My Autobiography” Stevie G menulis bahwa motivasi terbesarnya dalam bermain sepakbola adalah kenangan akan Jon-Paul Gilhooley.
Setelah menghadiri Hillsborough Memorial Service, saya berjalan ke arah Stanley Park yang diisukan menjadi tempat dibangunnya stadion baru Liverpool FC. Di ujung Stanley Park, sudah terlihat Goodison Park Stadium, markas Everton yang merupakan rival sekota Liverpool. Jarak antara Anfield dan Goodison Park hanya sekitar 15 menit berjalan kaki.


