Manchester & Edinburgh

Trip Start Apr 02, 2012
1
4
8
Trip End Apr 18, 2012


Loading Map
Map your own trip!
Map Options
Show trip route
Hide lines
shadow

Flag of United Kingdom  , Scotland,
Monday, April 9, 2012

Day 7

Liverpool – Manchester – Edinburgh

( Brownlow Hill – Manchester Shudehill Interchange – Old Trafford Stadium – St. Andrews Station Edinburgh – Smartcity Hostel – Calton Hill – Edinburgh Central Mosque – University of Edinburgh )


Sebelum saya berangkat ke Edinburgh naik Megabus, saya menitipkan koper besar saya di YHA Liverpool, karena barang belanjaan saya yang sudah mulai banyak dan dirasakan berat apabila harus membawanya ke Scotland. Hostel di UK memiliki luggage store untuk para tamu menitipkan koper-kopernya dan saya bisa menitipkannya disana karena 5 hari lagi saya akan kembali ke Liverpool dan menginap di hostel yang sama.

Pagi itu cuaca di Liverpool hujan dan dingin, entah berapa kali saya sudah menggunakan kata dingin dalam blog ini. Dengan menggunakan jas hujan, pukul 6 pagi saya berjalan ke Brownlow Hill, tempat meeting point untuk naik bus Megabus ke Manchester. Sejak di Indonesia, saya sudah membeli tiket online Megabus dari Liverpool ke Manchester ini seharga £3/Rp.45.000. Tepat jam 6.30 bus memulai perjalanan selama 1 jam ke Manchester dan berhenti di Shudehill Interchange, Manchester. Beberapa penumpang termasuk saya turun disana, sedangkan bus meneruskan perjalanannya ke London.

Di Shudehill Interchange ini panggilan alam di pagi hari terasa di perut saya. Saat saya mau ke toilet, ternyata toiletnya harus bayar 30 penny dan saya tidak punya koin yang cukup. Aaaarrgghhh.. Shudehill Interchange hanyalah terminal kecil dan pagi itu minimarketnya masih tutup. Keluar dari terminal, pertokoan di sekitarnya masih tutup. Sambil kehujanan saya mencari toko yang bisa memecahkan uang poundsterling saya sambil menahan panggilan alam yang semakin tidak terkendali. Akhirnya tak jauh dari terminal ada minimarket 24 jam dan saya membeli roti sehingga mendapat uang koin untuk masuk toilet. Berbekal pengalaman tidak punya koin di saat-saat yang genting, mulai saat itu saya selalu menyediakan koin di saku saya, walau sedikit berat, yang penting urusan masuk toilet aman.

Beres menyelesaikan urusan di toilet, saya keluar dan menunggu bus dari Manchester ke Edinburgh jam 9 pagi. Waktu baru menunjukkan jam 8 pagi. Mau jalan-jalan tapi hujan lumayan deras mengguyur Manchester pagi itu.

Ahaaa.. Bagaimana kalau naik taxi ke Old Trafford Stadium, markas dari rival abadi Liverpool yaitu Manchester United. Saya memang punya cita-cita berfoto di depan Old Trafford dengan memakai jersey Liverpool. Begitu keluar dari terminal, ada satu taxi yang sedang menunggu penumpang. Saya bilang mau ke Old Trafford Stadium, taxi driver itu mengangguk dan mulai menyalakan argometernya.

Berikut petikan percakapan saya dengan supir taxi yang mengantar saya ke Old Trafford :

Taxi driver   : Where are u from, mate?

Saya          : I'm from Indonesia. And you?

Taxi driver   : Oh, Indonesia.. I’m from Pakistan but already stay for more than 7 years in Manchester, married and have 1 kid here. My name is Yasser.

Saya          : Hi Yasser, my name is Amir.

Yasser       : What brings you to Old Trafford this early morning? Are you United fans?

Saya          : No, I’m not United fans. Are you United fans, Yasser?

Yasser        : Yes, I’m United fans, The Red Devils!!

Saya           : *Krik…. Krik… Krik…..

Yasser        : So what brings you to Old Trafford if you are not United fans?

Saya           : Actually I’m a Liverpool fans and I want to take a picture in front of Old Trafford wearing this jersey. (Sambil membuka jaket saya dan menunjukkan jersey Liverpool yang saya pakai)

Yasser         : (Sambil melotot) Are you crazy, mate? You want to take your picture at Old Trafford wearing Liverpool jersey? Who will take the picture since you are alone ?

Saya            : You, Yasser. I need your help to take some pictures for me.

Yasser          : *Krik… Krik… Krik…..

Setelah berpikir beberapa saat, akhirnya Yasser menyanggupi untuk membantu saya berfoto di Old Trafford dengan syarat dia akan turun terlebih dahulu dan melihat kondisi di sekitar stadion. 10 menit kemudian kami sampai di area Old Trafford. "Look, there it is! Old Trafford Stadium!! The Red Devils!!" *Krik… Krik… Krik….

Yasser lalu memarkirkan taxinya sampai ke depan stadion, kami pun turun dan akhirnya Yasser mau mengambil foto untuk saya dengan memakai jersey Liverpool..

Beres foto, Yasser meminta saya “Put your jacket on, you don’t want to get stab in here”

Yeaaahhh, mission accomplished!!

Sampai di Shudehill Interchange, Megabus ke Edinburgh sudah bersiap untuk berangkat dan perjalanan ke utara pun dimulai. Dari Manchester ke Edinburgh yang merupakan ibukota Scotland ini memakan waktu selama 6 jam dan tiketnya saya beli online seharga £11/Rp.165.000. Bus berhenti sekali di tempat peristirahatan, yang di UK disebut service area untuk makan siang. Padang rumput yang hijau dan terkadang dihiasi kumpulan domba yang sedang merumput di perbukitan membuat perjalanan selama 6 jam ini menjadi tidak membosankan. Beberapa kali bus melewati turbin listrik yang tenaganya didapat dari kincir angin berukuran raksasa.

Sekitar jam 3 sore, bus yang saya tumpangi sampai di St.Andrews Bus Station, Edinburgh. Begitu keluar dari stasiun bus, saya terkesima oleh keindahan kota yang satu ini. Seakan kita kembali ke zaman kerajaan Scotland di masa lalu, dimana William Wallace masih ada dengan kastil-kastil dan jalanan berbatunya. Saya pun melangkahkan kaki menuju Old Town Edinburgh, dimana hostel saya (Smartcity Hostel) berada. Sempat duduk dulu di sebuah taman kota sambil melihat pemandangan yang memukau di Edinburgh.

Setelah berjalan dan menikmati pemandangan kota, saya sampai di Smarcity Hostel Edinburgh. Dari semua hostel yang saya tinggali selama perjalanan di UK ini, Smartcity Hostel adalah yang terbaik dari segi kebersihan, service dan toilet. Sayangnya, seperti di YHA, disini breakfast harus bayar £4.99 lagi. 1 dormitory room disini diisi oleh 8 orang dengan 2 shower dan 2 toilet, lokasinya berada di tengah Old Town Edinburgh, walking distance ke tempat-tempat wisata disana. Ratenya £21/Rp.315.0000 per orang untuk dormitory room. 

 Websitenya : http://www.smartcityhostels.com/

Sorenya saya berjalan ke Calton Hill, sebuah bukit yang ada di tengah kota Edinburgh dan di atasnya kita bisa melihat secara 360 derajat ke penjuru kota. Pemandangan dari atas Calton Hill ini indah sekali. Benar-benar indah... Disana disediakan kursi-kursi untuk duduk bersantai menikmati panorama kota. Angin dingin yang menerpa badan saya tidak mengurungkan niat saya untuk sekedar duduk dan melepas pandangan ke arah laut yang terletak di ujung kota Edinburgh. Pemandangan yang menakjubkan...

Saat matahari sudah tenggelam, saya berjalan menuju Edinburgh Central Mosque yang beralamat di 50 Potterow, Edinburgh, bersebelahan dengan kompleks University of Edinburgh. Di sekitar masjid banyak terdapat makanan halal dan saya makan di restoran Kebab Mahal (harganya tidak semahal namanya), menu yang disajikan nasi briyani dan daging kebab ditambah sayuran seharga £6. Sedikit melebihi budget makan saya yang hanya £5 sekali makan tapi karena halal dan sudah lama tidak makan nasi, akhirnya saya makan di Kebab Mahal ini. Porsi yang disajikan tetap jumbo.

Beres makan, saya masuk ke dalam kampus University of Edinburgh. Di dalam kampus ini rasanya seperti sedang belajar di masa abad pertengahan dengan bangunan tua dan lorong-lorong kampus yang tinggi. Beberapa mahasiswa dari berbagai negara terlihat baru menyelesaikan kelasnya malam itu.




 Day 8

Edinburgh – Scotland

Scotland Highland Tour by Hairycoo ( Forth Bridge – National Wallace Monument in Stirling – Stirling Castle – Lake Menteith – Aberfoyle – Loch Drunkie – Loch Achray - Loch Katrine – Doune Castle)


Untuk pertama kalinya dalam hidup saya, akhirnya saya dipertemukan dengan sebuah benda yang bernama salju. Begitu keluar dari Smartcity Hostel, pagi itu saya merasakan apa yang dinamakan hujan salju. Saya kira hanya hujan biasa, tapi setelah butiran salju menetes di muka saya, terasa sangat dingin dan melekat. Saat saya melihat keatas, ternyata salju mulai turun dengan perlahan. Seperti di film-film.. Hahahaha...

Segera saya membeli payung dan sambil kedinginan terus berjalan ke arah Lawnmarket, tempat meeting point bus Hairycoo, tour operator di Edinburgh yang merupakan tour terbaik yang pernah saya ikuti selama saya travelling. Hairycoo menyediakan jasa tour ke Scotland Highland, dataran tinggi Scotland dimana terdapat pegunungan kastil-kastil dan danau-danau yang panoramanya sangat menakjubkan. Uniknya, Hairycoo ini tidak memasang harga yang tetap kepada customernya. Pembayaran tour ini dilakukan di akhir perjalanan dengan jumlah seikhlasnya, disesuaikan dengan penilaian dan kepuasan customer.  

Website Hairycoo : www.thehairycoo.com

Di meeting point Lawnmarket, bus berukuran sedang berwarna oranye menunggu peserta tour hari itu. Russel, tour guide kami, menunggu di pinggir bus dengan menggunakan pakaian tradisional Scotland yaitu Tartan Kilt dengan kaos kaki panjang selutut. “Good morning and it’s a very cold morning, mate!” Russel menyapa saya dan mempersilakan masuk ke dalam bus yang ternyata sudah hampir penuh terisi itu. Saya duduk di kursi paling depan dan sekitar jam 9 pagi tour dimulai.

Salut saya untuk Russel karena dari awal sampai tour berakhir, dia terus berbicara tentang informasi yang berhubungan dengan sejarah dan tempat-tempat yang dilalui. Hanya beberapa kali saja dia berhenti berbicara dan memasang lagu-lagu tradisional Scotland. Mendengarkan lagu-lagu dari bagpipe dan melewati pegunungan Scotland semakin membuat pengalaman tour hari itu tidak terlupakan. Pengetahuan Russel akan sejarah Scotland sangat baik dan dia meminta peserta tour ikut aktif dalam mengomentari dan bertanya selama perjalanan itu.

Tujuan pertama tour ini adalah Forth Bridge yang merupakan kebanggan orang Scotland karena sudah dibuka sejak tahun 1890 dan terbentang di atas Forth River sepanjang 2,5 kilometer. Tidak jauh dari Forth Bridge terbentang Forth Road Bridge yang diperuntukkan untuk mobil, sedangkan Forth Bridge dilalui kereta api. Russel mempersilakan peserta tour turun dan berfoto. Karena cuaca pagi yang masih sangat dingin dan hujan, tidak lama kemudian semua peserta tour sudah kembali ke bus, kedinginan.

Russel lalu membawa kami mengunjungi The National Wallace Monument. Bagi yang pernah nonton film “Braveheart” yang dibintangi Mel Gibson, pasti mengenal William Wallace. Seorang pahlawan bangsa Skotlandia yang mempersatukan clan-caln yang ada disana untuk berjuang melawan pendudukan Inggris sekitar tahun 1300an. Perjuangan Wallace dipicu oleh pembunuhan tentara Inggris kepada istrinya. Setelah berhasil mengalahkan Inggris pada Battle of Stirling, William Wallace dan pasukan Scotland dikalahkan Inggris di Battle of Falkirk. Setelahnya, Wallace ditangkap, diadili dan disiksa sebelum akhirnya badannya dipotong menjadi 4 bagian dan disimpan di 4 penjuru Scotland, sebagai peringatan dari Inggris kepada rakyat Scotland supaya tidak ada yang memberontak kepada pendudukan Inggris lagi. Namun perjuangan rakyat Scotland tidak berhenti sampai disitu. Penerus Wallace, Robert The Bruce, memimpin perjuangan untuk mengusir Inggris dari tanah Scotland.

Mengenai film Braveheart, Russel mengkritik jalan cerita yang sudah dirubah dari kejadian aslinya yaitu dengan adanya tokoh putri asal Perancis, Prince Isabella yang diperankan Sophie Marceau. Russel bilang pada kenyataannya saat Wallace sedang berjuang melawan Inggris, Prince Isabella masih berusia 3 tahun saja.

Selanjutnya bus oranye Hairycoo mengantar kami ke Stirling Castle, kastil terbesar dan dulu pernah menjadi kastil yang paling penting di Scotland. Russel menjelaskan bahwa dahulu, siapa saja yang bisa menguasai Stirling Castle berarti dia bisa menguasai seluruh Scotland.

Cuaca yang tadinya hujan, perlahan berubah menjadi cerah dan bus memasuki kawasan pedesaan Scotland. Sekitar setengah jam kemudian, kami turun di Lake Meneith, sebuah danau di sekitar Aberfoyle. Lake Meneith ini adalah satu-satunya danau yang disebut Lake di Scotland, sedangkan yang lainnya disebut Loch. Dari Lake Meneith, Russel membawa kami ke Aberfoyle, sebuah desa kecil di tengah dataran tinggi Scotland. Kami dipersilakan makan siang disana dan beristirahat selama 1 jam. Di Aberfoyle ini hanya ada beberapa rumah dan pertokoan, suasananya sunyi dengan pemandangan pegunungan di Scotland Highland yang memukau. Disana juga terdapat Scottish Wool Centre lengkap dengan peternakan domba di dalamnya.

Beres makan siang, bus melaju untuk mengelilingi beberapa Loch yang ada di dataran tinggi Scotland seperti Loch Drunkie, Loch Achray dan Loch Katrine. Di sekitar kawasan Loch ini banyak terlihat orang yang camping atau memancing ikan. Mungkin ada yang bertanya kenapa kami tidak pergi ke Loch Ness yang terkenal itu? Russel bilang jarak ke Loch Ness lumayan jauh, hampir setengah hari perjalanan dan pemandangan disana tidak lebih baik dari Loch-Loch yang kami kunjungi hari ini, selain itu kami juga tidak akan menjumpai Loch Ness monster tentunya. Russel tidak lupa membawa kami untuk melihat maskot tournya yaitu Hairycoo, binatang sejenis sapi yang hidup di pegunungan Scotland ini sangat menggemaskan (tentunya apabila mereka tidak mengejar kita dengan tanduknya yang besar itu)

Dua kali Russel membawa kami ke habitat asli Hairycoo ini. Yang pertama di bukit yang berdekatan dengan Loch Achray dan di peternakan Hairycoo. Di pebukitan dekat Loch Achray, kami semua mendekati Hairycoo ini di alam liar, tidak ada pagar yang membatasi. Saat saya berfoto dengan dibantu seorang peserta tour, Hairycoo ini bergerak maju seakan mau menabrak kami. Kontan kami langsung berlarian menuruni bukit yang curam itu. Russel tertawa sambil mengingatkan agar kami tidak terlalu mendekati Hairycoo itu. Sedangkan di peternakan Hairycoo, mereka lebih jinak dan kami dibagikan roti tawar oleh Russel untuk menarik perhatian Hairycoo supaya mendekat. Ternyata benar, walaupun jarak mereka dari pagar pembatas cukup jauh, melihat kami dengan roti tawarnya dan mereka berlari mendekati kami lalu memakan roti yang kami berikan.

Di akhir perjalanan, kami berhenti di Doune Castle, sebuah kastil tua yang berdiri sejak tahun 1400an sebelum akhirnya kembali ke meeting point di Lawnmarket, Edinburgh. Tour berakhir sekitar jam 6 sore.




 Day 9

Edinburgh

( Arthur Seat – Scottish Parliament – Edinburgh Central Mosque – National Museum of Scotland – The Elephant House – Central Library – Edinburgh Castle )


Setelah kemarin menjelajahi dataran tinggi Scotland, hari ini saya berjalan-jalan di sekitar Old Town Edinburgh. Atas rekomendasi Russel, saya berjalan kaki ke Arthur Seat. Artheur Seat adalah puncak tertinggi di Edinburgh yang dulunya adalah sebuah gunung berapi. Tapi saya tidak mendaki puncak ini karena hari ini badan saya sedikit lelah. Di kaki Arthur Seat, saya melewati sebuah bangunan yang arsitekturnya unik. Setelah mencari tahu, ternyata bangunan itu adalah Scottish Parliament yang membuka pintunya untuk dikunjungi masyarakat umum.

Saya melihat orang awam lalu lalang di pintu masuk DPRnya Scotland ini . Akhirnya saya memberanikan diri untuk masuk ke dalam dan setelah dilakukan pengecekan barang bawaan di pintu masuk, saya pun masuk ke dalam Scottish Parliament tanpa ditanya apapun. Ternyata gedung parlemen ini terbuka untuk umum dan pengunjung bisa melihat apa yang sedang dilakukan oleh para wakil rakyat yang duduk di parlemen Skotlandia ini dengan transparan. Bahkan ada ruangan museum yang berisi barang bersejarah parlemen dan juga Parliament Shop yang menjual buah tangan khas parlemen. Saat saya bertanya kepada petugas yang berjaga apakah boleh berfoto di dalam bangunan ini, petugas mempersilakan saya untuk berfoto dengan syarat satu saja gambar yang tidak boleh difoto yaitu foto Ratu Inggris yang terpasang di dinding museum.

Masuk ke bagian dalam gedung parlemen, pengunjung dapat melihat meeting room yang berdinding kaca sehingga bisa dilihat dengan jelas kalau ada anggota dewan yang sedang rapat di dalamnya. Naik ke lantai dua, sampailah saya ke The Debating Chamber yang tertata dengan rapih dan bisa menampung sekitar 400 orang di dalamya. Pengunjung bisa duduk dan merasakan bagaimana anggota parlemen kalau sedang bekerja di dalam ruangan ini. Di sebelah saya ada seorang bapak dari Scotland yang berujar “Akhirnya saya tahu uang pajak saya dipakai apa setelah saya melihat Scottish Parliament ini” sambil tersenyum puas.  Ah, andai saja anggota dewan yang terhormat di Indonesia memperbaiki kinerjanya dan bersikap transparan kepada rakyat, pasti saya pun mengucapkan hal yang sama seperti bapak itu.

Dari Scottish Parliament, saya naik taxi menuju Edinburgh Central Mosque untuk makan siang di The Original Mosque Kitchen & Café, yaitu warung makan halal di dalam kompleks Masjid Edinburgh. Makanan yang disajikan adalah makanan Timur Tengah dengan nasi. Saya makan kari kambing dengan nasi seharga £5/Rp.75.000. Selain kaum muslim, terlihat ada juga warga lokal Edinburgh yang datang dan makan siang di warung makan ini. Beres makan, saya sholat di masjid dan meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki ke National Museum of Scotland yang berada tidak jauh dari masjid dan terletak di Chambers Street.

Masuk ke museum ini tidak dipungut biaya dan di dalamnya sejarah perjalanan bangsa Scotland diceritakan, lengkap dengan barang peninggalannya. Sejarah bangsa Scotland dibagi menjadi beberapa era seperti Rennaisance Style, New Horizons, The Reformed Church, Rennaisance Scholar sampai ke zaman Scotland Transformed dimana ilmuwan-ilmuwan asal Scotland seperti James Watt menemukan mesin uap dan dimulailah era industri disana.

Website National Museum of Scotland :

http://www.nms.ac.uk/our_museums/national_museum.aspx

Siang itu cuaca cukup bagus untuk berjalan di sekitar Old Town Edinburgh. Dari Chamber Street, saya berjalan kaki ke Edinburgh Castle dengan melewati George IV Bridge. Di tengah jalan, saya mampir ke The Elephant House, sebuah tempat ngopi-ngopi yang menjadi terkenal karena disinilah penulis terkenal J.K. Rowling menulis novel Harry Potter pertamanya. Tidak jauh dari The Elephant House, saya masuk ke Central Library, hanya sekedar ingin tahu bagaimana suasana dalam perpustakaan disana.

Akhirnya saya sampai di Edinburgh Castle yang terletak di atas bukit. Di depan Edinburgh Castle terdapat Camera Obscura dimana dengan teknologi sederhana yang sudah berumur 150 tahun, pengunjung Camera Obscura diajak menikmati pemandangan kota dan belajar sejarahnya dengan cara yang lain. Dengan pantulan dari cermin-cermin yang didesain khusus, pengunjung mendapatkan ilusi dari gambar yang sebenarnya. 

 Website Camera Obscura Edinburgh : http://www.camera-obscura.co.uk/index.asp

Tiket masuk ke Edinburgh Castle seharga £14.50/Rp.217.500 bisa dibeli loket tiket di depan kastil. Saat memasuki bagian dalam kastil, bangunannya masih asli seperti pada saat kastil ini masih digunakan oleh kerjaan Scotland zaman dahulu. Pembangunan kastil ini dimulai sekitar tahun 1130. Sekitar abad ke 13, Edinburgh Castle secara bergantian dikuasai oleh Inggris dan Scotland. Kastil ini dulu juga berfungsi sebagai benteng pertahanan dengan diletakannya beberapa meriam yang mengarah ke laut. Di bagian atas kastil, terdapat Scottish National War Memorial untuk menghormati para pahlawan yang gugur dalam bertugas. Bagian yang sedikit menakutkan di kastil ini adalah Prisons of War, tempat tahanan perang menghabiskan hari-harinya setelah tertangkap pasukan Scotland lengkap dengan pintu kayu tahanan asli yang dipenuhi coretan dari para tahanan yang menghuni kamar tersebut.

Dari puncak Edinburgh Castle, pemandangan di sekeliling kota Edinburgh terlihat jelas dan sore itu hujan tiba-tiba turun dan saya pun kembali ke hostel untuk bersiap melanjutkan perjalanan ke Glasgow keesokan harinya.
Slideshow Report as Spam

Post your own travel photos for friends and family More Pictures

Comments

Rika on

Keren pemandangannya kayak di pelem-pelem..
Ntupan ceritanya jalan-jalannya sendirian, yang fotoin Yaseer semua tuh :D

amirseun
amirseun on

Yasser bantuin foto pas di Old Trafford Stadium aja, yg laennya foto sendiri atau minta tolong orang yg lewat

nova on

mas amir mau tanya .. akhirnya berapa ongkos yang harus mas amir bayar setelah naik hairycoo ? mau tanya sebagai referensi .. terima kasih banyak .. ps:artikelnya sangat membantu dan menarik sekali ..

amirseun
amirseun on

Ya mba Nova, makasih udh baca blog saya.

Waktu itu saya bayar 20 poundsterling buat Hairycoo, worthed bgt karena guidenya bener2 menguasai sejarah tempat2 yg dikunjungi. Sebaiknya booking dulu melalui websitenya karena tour ini tinggi peminatnya.

Add Comment

Use this image in your site

Copy and paste this html: