Liverpool

Trip Start Apr 02, 2012
1
3
8
Trip End Apr 18, 2012


Loading Map
Map your own trip!
Map Options
Show trip route
Hide lines
shadow

Flag of United Kingdom  , England,
Friday, April 6, 2012

Day 4

London – Liverpool

( London Coach station - Liverpool Coach Station – Youth Hostel Association – Albert Dock – Liverpool One – Cavern Pub )

Hari ini cuaca di London sangat cerah dan semua orang disana terlihat senang sekali dengan langit biru dan sinar matahari yang menghangatkan badan. Di saat udara cerah seperti ini, orang sana banyak yang nongkrong di depan rumah atau duduk-duduk di taman sambil minum atau bermain dengan anak-anaknya, berjemur. Cuaca di Inggris ini memang labil, sehari bisa dingin banget dan keesokannya matahari bersinar terang.



Perjalanan saya ke Liverpool dimulai dari Victoria Coach Station dengan menggunakan Megabus, sebuah perusahaan bus dengan harga tiket yang cukup murah, apalagi kalau membeli tiketnya secara online dan lama sebelum hari keberangkatan. Saya membeli 1 tiket bus dari London ke Liverpool seharga £7 / Rp.105.000, cukup murah untuk ukuran transportasi di Inggris. 

 Untuk informasi dan pemesanan tiket, sila kunjungi  http://uk.megabus.com/default.aspx


 Perjalanan dari London ke Liverpool memakan waktu sekitar 6 jam, dengan satu kali transit di Manchester. Dalam perjalanan ini, saya banyak berbincang dengan Katy, penumpang di sebelah saya yang mau pulang kampung ke Blackpool. Weekend itu di Inggris sedang merayakan Easter holiday dan libur long weekend sampai hari senin ini dipergunakan oleh orang sana untuk mudik ke kampung halaman. Tapi walaupun long weekend, jalan tol yang saya lewati tidak terhambat kemacetan, perjalanan lancar jaya. Di tengah perjalanan, hujan sudah mulai turun. Sekitar jam setengah 4 sore, saya sampai di Brownlow Hill di dekat Liverpool Coach Station, tempat berhentinya bus Megabus yang saya tumpangi dari London. Berbekal print out google maps, saya berjalan menuju Youth Hostel Association (YHA) di Tabley Street yang berjarak sekitar 20 menit berjalan kaki. Di tengah perjalanan saya makan dulu di restoran fish and chips lokal. Fish and chips adalah makanan yang terdiri dari kentang goreng dengan fillet ikan goreng tepung. Begitu menerima fish and chips ini, lagi-lagi saya terkejut dengan porsinya yang sangat besar. Harga fish and chips berkisar antara £3-4 per porsi.


 First impression saya di Liverpool adalah kota di tepi Mersey River yang tertata dengan baik, udaranya sedikit lebih dingin dari London karena angin yang kencang bertiup dari laut yang berjarak tidak jauh dari Liverpool. Penduduk lokal Liverpool berbicara bahasa Inggris dengan aksen "scouse", sebuah aksen yang sangat unik dan agak sulit dipahami oleh orang yang belum terbiasa mendengarnya. Pusat kota Liverpool dipenuhi bangunan tua dan jalanan relatif sepi. Di kota ini ada dua klub sepakbola, Liverpool FC dan Everton. Keduanya merupakan rival secara tradisional dan sudah berdiri sejak seratus tahun yang lalu. Kalau berbicara mengenai sepakbola dengan orang di Liverpool, ada baiknya kita bertanya dulu “Are you Red or Blue?”


 Dari Brownlow Hill, saya berjalan menyusuri Hannover Street di Liverpool city centre. Setelah menjumpai Albert Dock di tepi Mersey River, akhirnya saya sampai di YHA, tempat saya menginap selama 3 malam di Liverpool. Staff di YHA sangatlah friendly dan berbaik hati. Mereka berusaha untuk tidak terlalu berbicara dengan aksen scouse yang pekat kepada tamu-tamu supaya mudah dimengerti. Saya memilih untuk stay di YHA karena lokasinya dekat dengan Albert Dock dan pusat kota Liverpool. Rate di YHA berbeda sesuai dengan tanggalnya, harga antara £16-22 tidak termasuk breakfast seharga £4.99 sekali makan, harga weekdays lebih murah dari weekend.  

 Untuk info YHA, sila kunjungi  http://www.yha.org.uk/hostel/liverpool


 Buat traveler yang lebih memilih hotel dibanding hostel seperti YHA, di sebelah YHA terdapat hotel yang cukup murah bernama Formule 1 Hotel, websitenya http://www.hotelformule1.com/gb/hotel-3484-formule1-liverpool-city-centre/index.shtml


 Setelah beristirahat sejenak di kamar hostel yang diisi oleh 6 orang itu, saya berjalan kaki ke Albert Dock, dimana terdapat The Beatles Museum . Di kamar hostel, saya mendapat teman baru dari Australia, namanya Harrison Porter yang baru berusia 19 tahun dan baru saja sampai dari Australia untuk memulai perjalanannya selama 6 bulan di Eropa. Harrison seorang Liverpudlian dan dia juga akan menonton match Liverpool-Aston Villa keesokan harinya.Bersama Harrison yang masih jetlag akibat penerbangan panjang, saya berjalan menyusuri Albert Dock yang merupakan tempat berlabuhnya kapal-kapal dan juga terdapat gudang-gudang yang dibuka tahun 1846. Albert Dock merupakan objek wisata di luar London yang paling banyak dikunjungi pelancong. Jumlahnya mencapai 4 juta orang setiap tahunnya.


 Selain The Beatles Story Museum, juga terdapat Merseyside Maritime Museum dan The International Slavery Museum. Di seberang Albert Dock, berdiri Echo Arena, sebuah tempat yang biasa digunakan untuk menyelenggarakan konser musik dan di depannya ada The Echo Wheel of Liverpool, semacam London Eye yang bisa dinaiki untuk melihat pemandangan kota Liverpool dari ketinggian.


 Berjalan di sekitar Albert Dock sangat menyenangkan. Pemandangan kota Liverpool dari tepi Mersey River ini benar-benar menakjubkan. Saya sangat bersyukur bisa sampai kesini karena hal itu merupakan cita-cita saya sejak lama. Dari dulu ingin sekali sampai ke Liverpool, bukan saja karena sepakbola tapi juga kotanya yang terkenal sangat indah. Sore itu angin bertiup sangat kencang, membawa udara dingin yang membuat saya dan Harrison kedinginan. Setelah puas berjalan di Albert Dock, kami menuju Royal Liver Building yang terletak tidak jauh dari Albert Dock. Bangunan ini merupakan landmark paling terkenal di Liverpool dan sudah berumur seratus tahun lebih, dihiasi dua patung Liver Birds di kedua atapnya. Burung yang satu menghadap ke laut dan yang lainnya menghadap ke arah kota Liverpool.


 Jam baru menunjukan pukul 5 sore tetapi jalanan di Liverpool sudah sepi. Selama dalam perjalanan di Inggris, saya sering bertanya kepada diri sendiri, orang-orang Inggris itu pada kemana sih? Jam 5 sore di London dan Liverpool sudah sedikit mobil dan orang yang terlihat. Karena penasaran, saya berjalan ke Liverpool One, sebuah kompleks pertokoan di pusat kota Liverpool. Dan ternyata di mall pun keadaannya sepi.


Di Liverpool One terdapat Liverpool Store yang uniknya, bersebelahan dengan Everton Store dengan dipisahkan satu toko perfume. Saat memasuki Liverpool Store, ingin sekali memborong semua barang yang dijual disana ke kamar saya. Andaikan saja toko ini ada di Bandung, mungkin setiap minggu saya akan berbelanja di toko ini.

Jam 7 malam, pertokoan di Liverpool One tutup. Ternyata saya baru sadar bahwa di Inggris, kebanyakan toko tutup jam 5 sore, kecuali toko di shopping mall tutup jam 7. Lantas kemana orang-orang Inggris ini di waktu malam?

Jawabannya langsung saya dapatkan saat saya menginjakan kaki di daerah Cavern Quarter yang merupakan pusat nightlife di Liverpool. Di Cavern Quarter terdapat banyak bar, diskotik dan pub yang berjejer dan dipenuhi pengunjung. Termasuk satu di antaranya adalah Cavern Pub and Club yang merupakan tempat yang sering dipakai band legendaris asal Liverpool, The Beatles, untuk manggung beberapa dekade yang lalu.

Ternyata disitulah mereka berkumpul, bersosialisasi dan bersenang-senang sampai larut malam. Di tepian Cavern Quarter, sudah tersedia puluhan taxi yang siap mengantar pengunjung bar yang sepertinya akan pulang dalam keadaan setengah sadar. Tidak satupun saya melihat pengunjung bar yang pulang setelah menenggak alkohol dengan mengemudikan kendaraan pribadi.

Karena letih dan hujan yang cukup deras di Liverpool malam itu, saya pulang ke hostel naik taxi dengan ongkos buka pintu £2,75 / Rp.41.250.



 Day 5

Matchday Liverpool – Aston Villa

( Albert Dock – The Yellow Duckmarine Tour – Anfield – Al-Rahma Mosque – Liverpool One – St.Luke's Church – Chinatown )


Terbangun pagi hari kelima perjalanan saya dengan perasaan yang bahagia. Tentu saja, hari ini adalah hari yang sudah saya tunggu sejak lama, hari pertandingan di Anfield antara Liverpool dan Aston Villa. Matchday!!!

Tapi sebelum pergi ke Anfield, saya menyempatkan untuk mengunjungi Beatles Store di Albert Dock dan membeli pesanan kawan-kawan di Bandung. Lalu saya membeli tiket The Yellow Duckmarine Tour, sebuah tour yang cukup menarik karena dilakukan dengan menaiki sebuah amfibi peninggalan Perang Dunia kedua. Kami dibawa berkeliling kota Liverpool dengan amfibi itu dengan dipandu bapak tour guide yang menyelipkan gurauan khas Liverpool di tengah perjalanan. Liverpool memang dikenal memiliki banyak komedian terkenal seperti John Bishop. Setelah sekitar 30 menit berkeliling kota di atas jalan, amfibi yang kami tumpangi kembali ke Albert Dock dan masuk ke perairan di sekitar Albert Dock. Setelah sehari sebelumnya saya berjalan kaki di antara gudang-gudang Albert Dock, pagi ini saya berkesempatan menikmati pemandangan disana dari perairannya. Di akhir tour, bapak guide ini mengajak kami semua menyanyikan lagu The Beatles "Yellow Submarine".. We all live in a yellow submarine.. Yellow submarine...

Website The Yellow Duckmarine Tour : http://www.theyellowduckmarine.co.uk/


 Dari Albert Dock, saya berjalan ke arah Liverpool One bus stop. Dari bus stop ini, ada bus no.26 yang mengantar saya menuju Anfield Stadium dengan tiket seharga £1,90. Sekitar 20 menit perjalanan, sampailah saya di Anfield…. Anfield…. Anfield….

Bus berhenti di depan The Kop dan Paisley Gate, sebuah gerbang masuk ke stadion yang dinamai Paisley Gate sebagai penghormatan kepada Bob Paisley, pelatih legendaris Liverpool yang sukses membawa Liverpool menjadi 3 kali juara Eropa dan 6 kali juara Liga Inggris sekitar tahun 70-80an. Saya pun memasuki Anfield Stadium….

Di ticket office, saya coba menanyakan apakah tiket semifinal FA Cup antara Liverpool-Everton untuk minggu depan masih ada, mereka bilang “Sorry mate, all tickets already sold out” Selain karena semifinal FA Cup, derby antara Liverpool dan Everton sudah dipastikan akan menyedot penonton yang sangat banyak. Saya pun lalu berjalan mengelilingi stadion yang dibuka tahun 1884 tersebut. Di sisi yang berlainan dengan The Kop yaitu Anfield Road, terdapat Hillsborough Memorial yaitu sebuah monumen untuk mengenang 96 suporter Liverpool yang tewas akibat kekacauan yang terjadi di Hillsborough Stadium, Sheffield pada tanggal 15 April 1989. Setiap tahunnya, Hillsborough Tragedy ini selalu diperingati di Anfield. Di sebelah Hillsborough Memorial, ada Shankly Gate yang namanya diambil sebagai penghargaan kepada Bill Shankly, pelatih asal Skotlandia yang berhasil mengangkat Liverpool dari divisi dua pada tahun 1959 dan sukses membawa Liverpool menjadi beberapa kali juara  di Inggris dan Eropa.


 Pintu masuk stadion dibuka satu jam setengah sebelum match dimulai. Karena masih ada waktu, saya berbelanja souvenir pertandingan di kios-kios kaki lima yang tersebar di luar Anfield. Di kios-kios ini, aksesoris yang dijual cukup unik, dari scarf pertandingan antara Liverpool-Aston Villa, patches, scarf nama pemain, pin sampai toilet paper bergambar logo Manchester United ada disana. Aksesoris ini banyak yang tidak dijual di Liverpool store. Harganya bisa ditawar kalau kita membeli banyak. Penjualnya pun ramah dan memberi saya diskon yang lumayan karena saya membeli beberapa scarf untuk kawan-kawan di Bandung.


 Selesai makan siang di chinese restoran di seberang The Kop, saya lalu masuk ke Main Stand tempat saya akan menonton pertandingan di Anfield. Pada saat saya akan masuk, bus pemain Liverpool baru saja sampai dan pemain satu persatu turun dan masuk ke stadion. Sayangnya penonton di luar sudah berdesakan untuk mengambil foto pemain yang turun dari bus, saya tidak kebagian fotonya karena orang sana yang posturnya besar-besar menghalangi saya untuk melihat langsung pemain turun dari bus.

Sesuai dengan petunjuk dari tiket, pintu masuk tiket saya ada di Turnstile Block U. Di pintu masuk, LFC Steward, petugas yang berjaga di Anfield, akan memeriksa tiket kita. Pintu masuk ke dalam stadion sangat kecil, sehingga saya harus berjalan miring untuk memasukinya. Kartu membership yang saya pinjam dari Nggok, saya letakkan di atas scanner di pintu masuk dan lampu hijau di atas scanner itu menyala dan LFC Steward pun mempersilakan saya untuk masuk. Dari pintu, saya naik ke arah atas anak tangga yang berujung pada Main Stand stadion dan saat sampai di ujung pintu....

ANFIELD...............

Stadion yang selama ini saya lihat di televisi, sekarang sudah ada di depan mata. Sekejap saya termanggu dan tersenyum-senyum sendiri di depan pintu Main Stand, sebelum LFC Steward yang berjaga disitu menyapa saya dengan ramah. “Where’s your seat, mate?” Saya menyodorkan email tiket saya kepadanya dan dia mengantarkan saya ke barisan tempat duduk saya berada. Tempat duduk di Anfield memang klasik sekali dengan kursi lipat dengan nomer yang teratur. View dari tempat duduk saya ke lapangan sangat jelas sekali, The Kop ada di depan saya dan keadaan di lapangan masih sepi padahal pertandingan sekitar 1 jam lagi. Kemana ini orang-orang, saya bertanya pada diri saya lagi.


 Beberapa penonton yang sudah datang, berkumpul di tengah Main Stand di belakang bangku untuk offisial team. Saya pun merapat kesana karena sebentar lagi para pemain akan keluar dari dalam ruang ganti menuju lapangan untuk melakukan pemanasan. Kamera saya siapkan dan tidak lama kemudian, kiper Liverpol, Jose ”Pepe” Reina, muncul dari seberang Main Stand dan berjalan ke arah ruang ganti pemain. Pepe Reina tidak bisa bermain karena skorsing kartu merah yang didapatnya pada pertandingan sebelumnya melawan Newcastle.


 Tak lama kemudian, pelatih Aston Villa, Alex McLeish keluar dari ruang ganti dan memberi tandatangan kepada para fansnya yang sudah menunggu dari tadi diikuti para pemain Aston Villa yang melakukan pemanasan di lapangan. Shay Given, Gabriel Agbonlahor, Stylian Perov, Stephen Ireland dan pemain Villa lainnya satu persatu masuk ke lapangan. Saat Emile Heskey yang mantan pemain Liverpool melakukan pemanasan, dia mendapat sambutan hangat berupa applause dari suporter Liverpool.

Saat yang saya tunggu-tunggu akhirnya tiba, pemain Liverpool masuk ke lapangan untuk pemanasan. Aaaahhh akhirnya bertemu juga dengan Steven Gerrard di depan mata saya, Luis Suarez, Jamie Carragher, Dirk Kuyt, Stewart Downing dan pemain lainnya melakukan pemanasan diiringi tepuk tangan yang meriah dari penonton di Anfield. Kenny Dalglish mengamati anak asuhannya dari pinggir lapangan. Sungguh suatu pengalaman yang tidak terlupakan bagi saya. Speechless..

Sebelum pertandingan dimulai, saya berjalan-jalan di bagian bawah Main Stand, tempat kantin makanan dan toilet berada. Toilet stadion lumayan bersih dan di lorong bawah Main Stand itu terdapat beberapa counter untuk berjudi yang dibuka oleh 188BET, salah satu dari sekian banyak perusahaan judi yang dilegalkan di Inggris. Minuman beralkohol dan rokok tidak diperbolehkan dibawa ke tempat duduk. Beberapa LFC Steward berjaga di pintu masuk Main Stand untuk mengawasi kalau ada penonton yang membawa bir atau merokok ke area tempat duduk.


 15 menit sebelum pertandingan, saya sudah duduk di area Main Stand. Tempat duduk di Anfield agak rapat satu dengan yang lainnya. Jarak antara lutut kita dengan tempat duduk di depan juga rapat, kalau ada orang di sebelah kita mau keluar, kita harus berdiri untuk memberi jalan kepada orang yang mau lewat itu. Tempat duduk sudah terisi penuh karena penonton berdatangan sekitar 30 menit sebelum pertandingan dimulai.

Para pemain dari kedua kesebelasan akhirnya masuk ke stadion, disambut standing ovation dari semua penonton. Setelah pemain bersalaman, diadakan 1 minute silence untuk memperingati Hillsborough Tragedy. 1 minute silence ini benar-benar silence sehingga kalau ada orang yang batuk, suaranya terdengar ke seluruh stadion, bahkan kalau ada yang mengambil foto dari kamera SLR, suara kamera bergema dan terdengar juga.


 Pertandingan pun dimulai…

Semua Liverpudlian di Anfield berdiri dan menyanyikan “You’ll Never Walk Alone” di awal pertandingan yang sudah menjadi ritual untuk menyemangati para pemain di lapangan. Saya merinding begitu mendengar kami semua menyanyikannya secara langsung di Anfield. Diiringi sorak sorai dari kedua belah supporter, pertandingan berlangsung seru. Suporter Aston Villa yang ditempatkan di Anfield Road End banyak mengejek Stewart Downing yang merupakan bekas pemain Villa. Permainan Downing sore itu sedikit terpengaruh. Menit ke 10 sebuah serangan Villa menghasilkan gol dari kaki Chris Herd disambut Villa fans dari Anfield Road End.

Di tengah pertandingan, supporter Villa menanyikan chant “Justice for the 96” sebagai rasa hormat mereka kepada para korban tragedi Hillsborough. Chant dari Villa fans ini disambut tempuk tangan dari seluruh Liverpudlian di Anfield. Walau sebelumnya saling ejek dan sumpah serapah dilontarkan kedua supporter, tapi mereka masih bisa menghargai supporter lainnya.


 Babak pertama selesai dan pada masa jeda penonton membanjiri lorong di bawah Main Stand. Babak kedua dimulai dengan Liverpool mengambil alih jalannya pertandingan dan akhirnya pada menit ke 82 Luis Suarez menghasil menyamakan kedudukan menjadi 1-1. Para scouser yang duduk di sebelah saya sudah habis-habisan berteriak untuk mendukung Liverpool memenangkan pertandingan dan juga memaki wasit yang sore itu keputusannya banyak merugikan Liverpool. Sampai akhir pertandingan, penonton mulai berdiri karena Liverpool memiliki banyak peluang untuk memenangkan pertandingan, namun akhirnya pertandingan berakhir dengan kedudukan imbang.

It’s more than 90 minutes.. It’s Liverpool…


 Bubaran pertandingan berjalan dengan tertib, para penonton mengantri di bus stop depan stadion namun saya memilih untuk berjalan ke arah pusat kota karena di sekitar stadion keadaan lalu lintas cukup padat. Akhirnya saya mendapatkan taxi dan mengantar saya sampai Al-Rahma Mosque, masjid terbesar di Liverpool yang terletak di  Hatherley Street in Toxteth. Sampai disana, adzan berkumandang. Saya kira sudah magrib ternyata sekitar jam 17.30 baru masuk waktu Ashar.

Selesai sholat, pada saat saya memakai sepatu, saya bertanya kepada orang di sebelah saya, kalau mau ke pusat kota naik bus nomer berapa dari masjid itu. Dia lalu menunjukan bus stop yang berada di belakang dan ikut mengantar saya sampai Liverpool One di Liverpool city centre. Nama pemuda asal Bangladesh yang sedang kuliah di Liverpool itu adalah Imran, baik sekali dia mau mengantar saya sampai Liverpool One yang jaraknya lumayan jauh dari Masjid. Imran yang juga bekerja di sebuah restoran disana, banyak bercerita tentang suka dan duka hidup di Liverpool. Termasuk ketika dia baru mulai tinggal disana dan bekerja di restoran, dia bekerja sebagai penerima pesanan makanan melalui telefon untuk delivery service. Dia kesulitan untuk mengerti apa pesanannya karena orang yang menelefon kebanyakan berbicara dengan aksen scouse yang cepat.


 Sambil ngobrol-ngorbol di sore itu, kami makan di Lobster Pot, sebuah restoran fish and chips terkenal di Liverpool. Imran lalu berpamitan karena dia mau kembali ke masjid untuk sholat Isya disana.

Dari Liverpool One, saya berjalan di sekitar pusat kota Liverpool menuju Chinatown. Dimana-mana selalu ada Chinatown. Saya juga melewati St.Luke’s Church, gereja yang selesai dibangun tahun 1931 ini pada masa perang dunia kedua dibom pesawat Nazi Jerman sehingga dikenal dengan sebutan ”the bombed out church”. Letaknya tidak jauh dari Chinatown. Chinatown sendiri banyak diisi bangunan dengan arsitektur China dan beberapa restoran yang menjual Chinese Food. Dari Chinatown saya berjalan pulang ke hostel melewati perumahan khas Inggri., Rumah-rumah disana tidak terlalu besar namun terlihat nyaman untuk ditinggali dengan chimney/cerobong asap untuk menghangatkan badan.



Day 6

Liverpool

( Liverpool One – Queen Square Bus Station – St. John’s Garden – World Museum Liverpool – Food Festival at Lord Street – Museum of Liverpool – Liverpool Lime Street Station – Café Sports England – Cavern Club )


Hari ini itinerary saya adalah berjalan-jalan di kota Liverpool, dalam artian benar-benar berjalan kaki karena city centre Liverpool tidak terlalu besar sehingga bisa dikelilingi dengan berjalan kaki saja. Saya berjalan melewati Liverpool One ke arah Queen Square bus station. Suasana pagi itu sangat sepi, toko-toko banyak yang tutup untuk merayakan libur Paskah. Saya pun akhirnya sampai di St.John’s Garden, taman di pusat kota Liverpool yang berdekatan dengan World Museum Liverpool. Museum ini menyimpan banyak koleksi dari peradaban di seluruh dunia, mirip dengan British Museum di London.

Setelah puas bermuseum ria, saya berjalan ke Lord Street dimana sedang diadakan food festival. Festival makanan yang menyajikan berbagai jenis makanan dari seluruh dunia ini sangat menarik dan banyak dikunjungi pencinta kuliner di Liverpool. Makanan tradisional dari Italia, Swiss, Irlandia, Cina, Spanyol dan lainnya dijual dengan harga yang tidak terlalu mahal. Pilihan saya siang itu adalah masakan Thailand yang terdiri dari sayuran, udang dan nasi. Selain itu saya juga mencicipi biscuit mini khas Italia yang sedap dengan berbagai pilihan rasa.


 Wisata kuliner siang itu saya lanjutkan dengan berjalan ke Museum of Liverpool yang terletak di tepi Mersey River. Museum ini menyimpan barang-barang bersejarah kota Liverpool dan menceritakan sejarah masa lalu kota dari zaman purbakala sampai sekarang ini. Perkembangan kota dilihat dari perumahan, transportasi dan olahraga juga menjadi salah satu koleksi yang dipamerkan disini. Cukup lama saya menghabiskan waktu di museum ini karena penyajian informasi disini sangat menarik dan tidak membosankan. Bahkan di dalamnya disediakan mushola untuk umat muslim.

Sore harinya saya mengunjungi Liverpool Lime Street Station, stasiun kereta api di Liverpool dan Cafe Sports England, milik pemain Liverpool, Jamie Carragher.


 Malam harinya saya mengunjungi Cavern Club, yang ada di seberang Cavern Pub. Club yang berada 3 lantai di bawah tanah dan sudah berumur lebih dari 50 tahun ini sangat terkenal di dunia karena antara tahun 1960-1963, band legendaris The Beatles pernah tampil sebanyak 292 kali di club ini. Selain Beatles, band-band legend yang pada zamannya berjaya dan pernah manggung disini antara lain Queen, The Who, Rolling Stones dan penyanyi Elton John. Di medio 2000an, band-band seperti Oasis, The Arctic Monkeys dan Travis juga pernah tampil di panggung Cavern Club ini.

Bagi saya, travelling di Liverpool sangatlah memuaskan hati. Kotanya tidak terlalu besar, pusat kota bisa dikelilingi dengan berjalan kaki. Harga makanan dan barang tidak semahal di London. Angin kencang yang dingin bertiup dari laut terasa setiap harinya. Para scousers yang menurut saya friendly kepada orang luar. Menonton pertandingan di Anfield Stadium. Saya bersyukur karena sudah bisa mengunjungi kota yang pada tahun 2008 menjadi European Capital of Culture ini.
Slideshow Report as Spam

Post your own travel photos for friends and family More Pictures

Use this image in your site

Copy and paste this html: