London

Trip Start Apr 02, 2012
1
2
8
Trip End Apr 18, 2012


Loading Map
Map your own trip!
Map Options
Show trip route
Hide lines
shadow

Flag of United Kingdom  , England,
Tuesday, April 3, 2012

Day 1

Jakarta – Dubai – London

( Soekarno Hatta Airport - Dubai International Airport - Gatwick Airport – Victoria Coach Station – The White Ferry House Hostel – Tower of London – Tower Bridge – East London Mosque )



2 April 2012, hari pertama saya memulai perjalanan selama 17 hari ke United Kingdom. Flight saya berangkat dari Soekarno-Hatta Airport jam 17.55 WIB (EK357) dan perjalanan ke Dubai akan memakan waktu selama 8 jam lebih. Pesawat banyak diisi oleh rombongan umrah yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Penerbangan sempat tertunda selama 1 jam karena hujan lebat yang mengguyur Bandara Soetta sore itu dan setelah hujan reda, pesawat dengan mulus take off dari landasan pacu bandara.

Tempat duduk saya berada di aisle/lorong antara tempat duduk pesawat, saya lebih suka duduk di aisle area daripada di window seating karena untuk long flight seperti ke London, dengan duduk di aisle kita bisa leluasa berdiri dan berjalan-jalan di dalam pesawat tanpa harus membangunkan penumpang sebelah yang bisa jadi sedang tertidur pulas.

Setelah 8 jam perjalanan, saya sampai di Dubai International Airport, sekitar jam 12 tengah malam waktu setempat. Perbedaan waktu di Dubai dengan Jakarta adalah 3 jam. Setelah beristirahat sejenak dan jalan-jalan di airport Dubai yang lumayan besar itu, jam 02.50 pagi waktu Dubai saya menaiki pesawat Emirates (EK011) dengan destinasi terakhir Gatwick Airport, London.



Penerbangan Emirates cukup menyenangkan dengan service yang baik, pengaturan waktu penyajian makanan yang teratur, menu makanan yang sedap dan juga sarana hiburan seperti tv, games, movie, radio dan juga news yang membuat penerbangan ini menjadi tidak membosankan.



Penerbangan dari Dubai ke London memakan waktu selama 7 jam dan sekitar jam 7 pagi tanggal 3 April waktu London, pesawat Emirates yang saya tumpangi mendarat di Gatwick Airport. Akhirnya sampai juga, dalam hati saya bersyukur karena berkesempatan untuk menginjakan kaki di negeri yang satu ini.

Gatwick Airport pagi itu relatif sepi dan para penumpang diarahkan petugas bandara ke bagian imigrasi. Penumpang yang sudah berusia lanjut dan disable dijemput di pintu keluar pesawat dengan mobil mini bertenaga listrik dan diantar langsung ke meja imigrasi. Sebelum mengantri untuk cap pasport dan imigrasi, kami dipersilakan mengisi arrival card yang disediakan di Gatwick Airport. Setelah sampai pada giliran saya untuk cek passport, petugas imigrasi Inggris lalu melihat passport dan Visa UK saya serta bertanya beberapa hal kepada saya. Sebelumnya saya sudah diberitahu teman-teman yang sudah pernah ke UK, di bagian imigrasi airport akan selalu ditanya oleh petugas imigrasi ini. Jangan panik, tetap tenang dan fokus dalam menjawab pertanyaan akan sangat membantu dalam hal ini.

Berikut tanya jawab petugas imigrasi Inggris dengan saya di Gatwick Airport :

Petugas : " Ada keperluan apa datang kemari? ”

Saya      : ”Vacation dan mau nonton bola di Anfield, Liverpool”

Petugas :  ”Oh, mau ke Liverpool ya. Ada teman disana?”

Saya      : ”Ada”

Petugas : ”Selama di Liverpool, anda akan tinggal di rumah teman?”

Saya     : " Tidak, saya akan tinggal di hostel”

Petugas : “Saya minta anda menyebutkan nama hostel selama anda berada di Liverpool ”

Saya     : “Youth Hostel Association, Liverpool”

Petugas lalu mencatat nama hostel yang saya sebutkan tadi di arrival card saya.

Petugas : “Berapa lama anda akan berlibur disini?”

Saya      : “2 minggu, dari hari ini (3 April) sampai 17 April nanti”

Petugas : “Ok, 2 minggu. Dan yang terakhir, apa yang anda akan lakukan setelah 2 minggu berlibur disini?”

Saya    : “Saya akan pulang lagi ke Indonesia”

Petugas lalu memberi cap pada visa yang melekat di passport saya.

Welcome to England!!!!

Setelah mengambil bagasi, saya lalu membeli tiket bus National Express yang counternya terletak di pintu keluar North Gatwick Airport. Ternyata Gatwick Airport itu ada North dan South Terminal, penerbangan Emirates landing di North Terminal. Bus National Express ini menghubungkan Gatwick Airport dengan London dan berbagai kota di Inggris lainnya. Saat membeli tiket bus, petugas tiket menawari saya untuk return ticket bus dengan harga yang lebih murah dari membeli one way ticket. Return ticket dari Gatwick ke Victoria, London seharga £14 dan tiket baliknya bisa open date alias bisa dipakai kapan saja. Selain bus, ada kereta api yang dilayani Gatwick Express dari Gatwick Airport ke London, tapi harganya lebih mahal dari bus.

Begitu keluar dari airport, udara dingin menyambut kedatangan saya di Inggris. Pada saat mendarat diumumkan bahwa cuaca di luar cerah dengan temperatur 9°Celcius. Walau matahari bersinar terang, tapi udara yang dingin sangat terasa pagi itu. Rasa penat akibat penerbangan panjang sedikit terobati dengan kebahagiaan yang saya rasakan karena sudah sampai di negara tujuan. Bus yang akan mengantar saya ke daerah Victoria, London sudah menunggu di terminal bus Gatwick Airport yang bisa dicapai dengan berjalan kaki dari North Terminal. Supir bus dengan ramah membantu saya menyimpan koper ke dalam bagasi bus, mungkin dia tahu saya sudah letih akibat long flight dari Jakarta ke London. Sebelum perjalanan dimulai, supir bus melakukan briefing kepada penumpang dengan menginformasikan prosedur keselamatan seperti pemakaian sabuk pengaman yang merupakan suatu keharusan di Inggris dan juga apa yang harus dilakukan apabila bus mengalami kecelakaan dan atau masuk ke sungai, supir bus bilang pecahkan saja kaca bus dengan alat yang tersedia di dekat kaca atau keluar melalui pintu darurat yang terletak di bagian belakang bus. Prosedur ini seharusnya juga dipergunakan oleh Dinas Perhubungan di tanah air untuk meminimalisasi jumlah korban akibat bus tenggelam atau masuk jurang setelah kecelakaan.

Perjalanan bus dari Gatwick ke London pun dimulai dan pemandangan pedesaan Inggris di sekitar Gatwick Airport bisa dilihat dengan jelas dari jendela bus National Express yang saya tumpangi. Di Inggris, bus selalu melaju di jalur kiri jalan dan ada batas maksimal kecepatan. Jarang sekali perjalanan terhambat kemacetan di jalan. First impression saya untuk lalu lintas di Inggris adalah teratur dan pengemudi yang sangat berdisiplin dalam mengemudi. Sekitar 1 jam kemudian, bus mulai memasuki kota London dan 30 menit kemudian bus sampai di Victoria Coach Station, stasiun bus yang terletak di tengah kota London. Jalanan di kota London tidaklah terlalu besar dan kebanyakan hanya ada 2 jalur, tidak seperti Jakarta yang bisa sampai 6 jalur untuk satu arahnya.

Walau di tengah kota, kawasan Victoria relatif sepi dari mobil, kebanyakan orang di London lebih memilih menggunakan sarana transportasi umum seperti bus dan tube. Mereka juga lebih senang berjalan kaki Tube adalah sarana transportasi semacam MRT atau subway yang sebagian besar jalurnya berada di dalam tanah. Untuk informasi lebih lengkap mengenai transportasi bus & tube di London, sila kunjung website http://www.tfl.gov.uk/

Sesampainya di Victoria Coach Station, saya makan di restoran kebab yang ada di sekitar stasion. Selama di UK, kebab adalah salah satu pilihan utama menu makan saya karena selain lebih murah, kebab juga disajikan secara halal di restoran Timur Tengah yang banyak terdapat di London. Harga kebab medium size sekitar £3-4 / Rp.45.000-Rp.60.000 dengan porsi yang sangat besar dan terbuat dari roti kebab, daging kambing atau ayam, salad, tomat dan saus mayonaise atau barbeque.

Beres makan, saya mencari hostel tempat saya tinggal di London yaitu The White Ferry House di Sutherland Street, Victoria. Sebelum berangkat ke UK, saya sudah memegang print out petunjuk arah dari Victoria Coach Station ke White Ferry yang didapatkan dari google maps dan juga petunjuk arah untuk tempat-tempat yang akan saya datangi nantinya. Print out ini memudahkan saya untuk menemukan hostel, terminal bus dan juga tempat-tempat menarik selama perjalanan.

Sesuai dengan yang tergambar di google maps, lokasi White Ferry House tidak terlalu jauh dari Victoria Coach Station, hanya 10 menit berjalan kaki sampailah saya di hostel dengan bangunan yang cukup unik ini. Karena check in baru diperbolehkan setelah jam 2 siang, saya berjalan kaki di sekitar hostel. Suasana di daerah Victoria sangatlah nyaman dan sepi, tidak menggambarkan keadaan di tengah kota besar yang biasanya ramai dan diwarnai kemacetan. Setelah jam 2, saya check in, mandi dan tidur untuk memulihkan tenaga yang cukup terkuras karena perjalanan panjang dari Jakarta ke London. Rate The White Ferry House £18.99/Rp.284.850 per malam untuk dormitory room include breakfast

 Websitenya : http://www.whiteferryhousevictoria.hostel.com/



 Sekitar jam 6 sore saya terbangun dan dengan berjalan kaki saya menuju Victoria Tube Station yang lokasinya tidak jauh dari Victoria Coach Station. Sebelum naik tube, saya membeli oyster card terlebih dahulu di Travel Information Centres yang ada di Victoria Station. Deposit yang kita bayar untuk oyster card seharga £5 / Rp.75.000 ini refundable dan setelah memiliki oyster card kita bisa melakukan top up dengan jumlah kelipatan £5. Oyster card ini adalah kartu yang bisa digunakan untuk naik tube dan bus di London, serupa dengan Touch n 'Go di Malaysia atau EZ-Link Card di Singapura. Untuk traveler yang hanya akan berkeliling London selama 1 hari, bisa menggunakan day pass seharga £7.40 saja untuk perjalanan selama 1 hari menggunakan tube. Khusus untuk bus dalam kota London, dengan menggunakan oyster card, penumpang mendapatkan harga yang lebih murah jika dibandingkan dengan membayar pada saat naik bus dan membayar langsung kepada supir bus.

Karena tube line dan tube station yang sangat kompleks di London, tube station disana dibagi menjadi beberapa zone. Kebanyakan tempat-tempat wisata utama berada di zone 1 dan 2, sedangkan kawasan tepi kota London banyak terdapat di zone 3 dan 4. Tube ini juga menghubungkan London dan Heathrow Airport di Picadilly Line.

Jalur tube di London lebih kurang sama dengan jalur MRT di Singapore atau Subway di Seoul, dengan beberapa line yang saling berhubungan sehingga dapat menjangkau banyak tempat di London. Sore itu tujuan saya adalah Tower Hill Station yang masih dalam line yang sama dengan Victoria Station yaitu Victoria Line. Begitu keluar dari Tower Hill Station, berdiri dengan megah Tower of London, sebuah castle yang dibangun tahun 1066 dan masih berdiri dengan megah sampai sekarang. Tower of London sudah diresmikan menjadi salah satu situs warisan dunia oleh UNESCO. Untuk memasuki kompleks castle ini ada tiket masuk seharga £20.90 atau sekitar Rp.290.000.

Karena sudah malam dan hujan mulai turun saya memutuskan untuk terus berjalan kearah Tower Bridge yang terletak bersebelahan dengan Tower of London. Udara malam itu terasa sangat dingin bagi saya terbiasa hidup di negara tropis dan baru saja sampai di London. Karena hujan semakin lebat, saya berteduh di bawah Tower Bridger ini, yang disebut-sebut sebagai jembatan paling terkenal di dunia dan dibangun selama 8 tahun antara tahun 1886-1894. Dari jauh saya melihat cantiknya jembatan yang satu ini dan setelah hujan reda, saya berfoto di pinggir sungai yang memang sudah disediakan tempat untuk menimati pemandangan ke arah Tower Bridge.

Jembatan yang berada di atas River Thames di London ini bisa diangkat apabila ada kapal besar yang hendak melewat di bawahnya. Orang banyak yang mengira bahwa Tower Bridge ini adalah London Bridge, padahal kedua jembatan itu saling berlainan. London Bridge terletak tidak jauh dari Tower Bridge dan sama-sama berada di atas River Thames.

Setelah puas menikmati pemandangan malam di Tower Bridge, saya berjalan ke daerah Whitechapel, sekitar 20 menit berjalan kaki dari Tower Bridge. Tujuan saya adalah The East London Mosque untuk menunaikan sholat Magrib dan Isya. Di daerah Whitechapel ini banyak saya temui restoran halal yang dikelola oleh orang dari Timur Tengah, Pakistan dan India. Beres sholat, saya pulang ke Victoria Station dengan naik tube dari Aldgate East Station di dekat Whitechapel Street.




 Day 2

London

( Victoria – Hyde Park – Marble Arch – Regent Street – Madame Tussauds – Picadilly Circus – Trafalgar Square – The National Gallery – London Dungeon – Millenium Bridge – Malaysian Hall Queensway – Big Ben – Westminster Abbey – Stamford Bridge Stadum )


Pagi-pagi saya sudah terbangun karena sehari sebelumnya, pihak hostel bilang kalau breakfast hanya tersedia dari jam 7-9 pagi. Selama di Inggris, breakfast di semua hostel yang saya tinggali sama jenisnya yaitu roti tawar, roti gandum, selai strawberry, kacang dan coklat, sereal dengan susu, English tea dan kopi. Sebaiknya makan yang banyak pada saat breakfast, lumayan buat mengisi perut sampai makan siang. Maklum, harga makanan di Inggris lumayan tinggi apabila dibandingkan dengan di Indonesia.

Saya juga sudah membeli sim card untuk handphone di Inggis, T-Mobile, yang menyediakan layanan Blackberry full service dengan harga yang cukup terjangkau. £10/Rp.150.000 per 30 hari. Ada juga provider lain seperti Orange, 3 atau Vodafone, tapi T-Mobile ini yang paling murah.

Hari ini itinerary saya mengunjungi tempat-tempat wisata yang touristic banget di London dan sore harinya saya pergi ke Stamford Bridge Stadium, markas dari Chelsea. Karena waktu yang terbatas selama di London, saya memutuskan untuk menggunakan “The Original Tour” London sightseeing bus. Harga tiket bus hop on hop off yang satu ini adalah £26/Rp.390.000, sedikit mahal memang, tapi sangat menyingkat waktu dan bus ini melewati semua tempat yang saya ingin datangi dalam citytour London dalam 1 hari. Tiketnya bisa dipakai selama 24 jam dan ada 3 rute perjalanan yang bisa disesuaikan dengan itinerary traveler untuk menjelajahi kota London.

Hop On Hop Off Bus adalah sarana transportasi yang sudah berkembang di banyak kota besar di dunia. Bus ini melewati banyak tempat wisata dan penumpang bisa turun dan naik di tempat tersebut. Sebagai ilustrasi, saya naik bus ini di Victoria, lalu bus ini melewati Hyde Park – Marble Arch – Trafalgar Square – Tower Bridge. Saya bisa turun di Marble Arch dulu untuk berjalan disekitarnya. Kalau sudah beres, saya menunggu di bus stop Marble Arch dan kembali naik bus berikutnya yang akan melewati Marble Arch setiap 10-15 menit sekali. Begitu seterusnya. Singapura dan Kuala Lumpur sudah mengembangkan transportasi wisata ini dan mendapat respon positif dari para turis yang mengunjungi kedua kota tersebut.

Untuk info lebih lengkap, sila kunjungi http://www.theoriginaltour.com/

Di daerah Victoria, bus akan memulai perjalanan dari Buckingham Palace Road, di depan kantor STA Travel. Sejak jam 9 pagi saya sudah bersiap di pool bus dan tepat jam 9.05, bus memulai perjalanan berkeliling kota London. Udara pagi ini cerah, walaupun udara tetap saja terasa dingin. Bus yang dipakai adalah double decker dan karena masih kosong, saya duduk di bagian atas dan paling depan bus supaya bisa melihat pemandangan kota London dengan jelas. Sebelum masuk bus, penumpang diberi earphone yang bisa dihubungkan dengan plug yang tersebar di seluruh kursi bus supaya bisa mendengarkan penjelasan mengenai tempat-tempat yang dilewati dalam tour ini.

Dari tempat keberangkatan bus di Victoria, bus melewati Hyde Park, taman yang besar dan tertata dengan baik di tengah kota London dilanjutkan ke arah Marble Arch, sebuah bangunan di seberang Hyde Park yang bergaya Romawi dan dibangun tahun 1826 sebagai salah satu perayaan kemenangan Inggris dalam Napoleonic Wars.

Perjalanan dilanjutkan dengan menyusuri Regent Street yang sangat ciamik dilihat dari atas bus setelah sebelumnya melewati Madame Tussauds London, museum lilin yang membuat replika dari para tokoh terkenal di dunia dengan ukuran tubuh yang sebenarnya. Beberapa penumpang terlihat turun dari bus untuk mengunjungi museum ini. Jam baru menunjukan pukul 10 pagi, namun antrian masuk ke museum ini sudah memanjang sampai keluar.

Di ujung Regent Street, ada Picadilly Circus, sebuah junction yang dibuat sekitar tahun 1819, disana banyak terdapat toko-toko yang menjual barang-barang khas Inggris dan juga Museum Ripley's Believe It Or Not. Bagi anda penggemar Ripley’s, ada tiket masuk seharga £26.95 dan websitenya http://www.ripleyslondon.com/

Picadilly Circus ini sering disamakan dengan junction terkenal lain di dunia seperti Shibuya di Jepang dan Times Square di New York.

Saya turun dari bus dan bersantai sejenak di tengah Picadilly Circus. Pagi menjelang siang, banyak berdatangan supporter dari Benfica, football club dari Portugal yang akan menjalani pertandingan penting pada sore harinya di Stamford Bridge Stadium melawan tuan rumah Chelsea. Seru juga nih, kalau saya kesana dan merasakan atmosfer pertandingan Liga Champions antara Chelsea-Benfica.

Karena udara yang cukup dingin, mungkin karena saya belum terbiasa, saya masuk ke toko yang menjual barang olahraga di Picadilly Circus, salah satunya Sport Direct yang cabangnya ada dimana-mana di seluruh Inggris. Barang yang dijual harganya terjangkau dengan berbagai varian merk. Dari Picadilly Circus, saya berjalan menuju Trafalgar Square yang berjarak sekitar 10 menit saja dari Picadilly Circus. Trafalgar Square merupakan landmark yang sangat terkenal dan menjadi salah satu favorit dari pelancong yang mengunjungi London. Trafalgar Square yang terletak di jantung kota London ini sering digunakan untuk perayaan yang berkenaan dengan London atau Inggris, seperti pada saat saya kesana sedang diletakan timer ”Olympics One Year To Go” untuk memperingati Olimpiade 2012 yang rencananya akan diselenggarakan di London. Trafalgar Square juga menjadi salah satu tempat perayaan Royal Wedding yaitu pernikahan Prince William dengan Kate Middleton di tahun 2011.

Tepat bersebelahan dengan Trafalgar Square, berdiri dengan megah The National Gallery yang menyimpan berbagai lukisan dari pelukis ternama di dunia, sayangnya di dalam galeri ini pengunjung tidak diperbolehkan mengambil foto, tiket masuk ke The National Gallery ini tidak dipungut biaya alias gratis.

Salah satu bus stop ”The Original Tour” ada di depan The National Gallery dan saya melanjutkan perjalanan dengan menaiki bus hop on hop off ini menuju ke arah timur London. Setelah menyeberangi River Thames melalui London Bridge, bus sampai ke The London Dungeon, sebuah tempat yang cukup unik karena tempat ini menampilkan pertunjukan horor ala barat dengan tema seperti Jack The Ripper, Sweeney Todd, The Cript dan lainnya. Untuk info, sila kunjungi http://www.the-dungeons.co.uk/london/en/index.htm

Sekitar jam 2 siang, bus sampai di area Blackfriars dan saya pun turun karena ingin berjalan di atas Millenium Bridge, sebuah jembatan yang dikhususkan untuk pejalan kaki yang hendak menyebrangi River Thames. Pemandangan dari Millenium Bridge ini sangat memukau karena di kedua arah kita bisa melihat Big Ben, London Eye dan London Bridge dari kejauhan.

Karena rasa lapar sudah terasa, saya pergi ke daerah Queensway dengan tube di Central Line karena ingin mencari sebuah restoran Malaysia yang direkomendasikan kawan saya. Restoran yang bernama Malaysia Hall Canteen dan beralamat di 30-34 Queensborough Terrace, Bayswater, London ini menyediakan lauk pauk dengan menu serupa seperti di Indonesia dan yang paling penting, menyediakan nasi dengan harga yang terjangkau. Selama perjalanan ini, saya membatasi budget untuk sekali makan tidak lebih dari £5. Sedangkan untuk minum, saya membawa tempat minum yang diisi penuh dari hostel pagi harinya.

Selesai makan, perjalanan saya lanjutkan menuju Westminster Tube Station yang merupakan tube station terdekat ke Big Ben dan Westminster Abbey, sebuah gereja yang berarsitektur gothic dan sudah berusia lebih dari 900 tahun. Selain dipakai untuk penyematan mahkota kerajaan Inggris, Westminster Abbey juga digunakan beberapa kali untuk Royal Wedding seperti pernikahan Prince William dengan Kate Middleton dan juga Prince Andrew dengan Sarah Ferguson tahun 1986 yang lalu. Gereja ini juga pernah menjadi tempat upacara pemakaman Lady Diana setelah kematiannya di tahun 1997.

Di kawasan sekitar Westminster dan Big Ben yang letaknya berdekatan ini banyak sekali turis dari berbagai negara. Harus diakui Inggris cukup sukses dalam pencitraan tempat-tempat wisatanya sehingga dapat menarik jutaan turis setiap tahunnya untuk mengunjungi London dengan Big Ben dan Westminster Abbey sebagai tujuan utama bagi para turis tersebut.

Sore harinya saya pergi ke Stamford Bridge Stadium, markas Chelsea. Sekedar ingin tahu bagaimana keadaan disana sebelum pertandingan Champions League antara Chelsea kontra Benfica dimulai. Tube station terdekat dengan stadion itu adalah Fulham Broadway di District Line. Begitu keluar dari tube station, atmosfir pertandingan langsung terasa. Beberapa calo tiket menawarkan tiket di tepi jalan, tentu saja dengan tidak menunjukan tiketnya, tetapi dengan berbicara perlahan “Need ticket, mate?” karena di Inggris praktek percaloan dilarang keras oleh hukum.yang berlaku.

Dari Fulham Broadway Station, Stamford Bridge hanya berjarak sekitar 5 menit berjalan kaki. Pada saat saya sampai disana, terlihat lebih banyak pendukung Benfica yang memenuhi jalanan di sekitar stadion. Sambil bernyanyi chant Benfica, mereka memusatkan diri di The Shed End, tribun yang disediakan khusus untuk away supporter di Stamford Bridge. Saat berkeliling stadion, saya menanyakan ke ticket office apakah masih ada tiket tersisa. Ternyata masih ada tiket dengan harga £120/Rp.1.800.000 untuk match malam itu. Tentu saja saya tidak membelinya, kalau yang bertanding Liverpool lawan Benfica beda lagi ceritanya.

Beberapa saat sebelum pertandingan dimulai, semakin banyak pendukung Benfica yang memadati area di sekitar Stamford Bridge. Setiap rombongan yang baru sampai disambut oleh nyanyian rombongan lain yang sebelumnya sudah sampai dan menunggu di tepi jalan. Sedangkan dari suporter Chelsea sendiri cenderung lebih sepi dari nyanyian. Ketika saya pulang dengan naik tube menuju Victoria, di underground train station masih banyak supporter Benfica yang bernyanyi dan menuju Stamford Bridge. Polisi London berjaga di sekitar mereka tetapi tidak melarang mereka bernyanyi, cukup mengawasi saja.

Saat saya kembali ke dormitory room White Ferry House, saya berkenalan dengan beberapa traveler dari Jepang dan New Zealand. Yang paling saya suka dari tinggal di dormitory adalah kita bisa mengenal traveler dari berbagai negara dan berbagi cerita, baik cerita keadaan di negara asalnya ataupun cerita pengalaman travelling dari masing-masing individu yang tinggal dalam satu kamar itu. Tapi ada juga hal yang kurang saya suka di dormitory yaitu kalau kita pulang malam dan kamar sudah gelap gulita karena lampu sudah dimatikan, mau tidak mau kita harus mencari arah, membereskan bawaan kita dan naik ke tempat tidur dalam kegelapan.





 Day 3

London

( Buckingham Palace – Green Park – St.James’s Park – Horse Guard Parade – Emirates Stadium – Finsbury Park Mosque – British Museum – High Street Kensington )


Pagi ini cuaca di London mendung dan dingin. Pokoknya gloomy banget. Itinerary saya hari ketiga di Inggris ini adalah pergi ke Buckingham Palace - Green Park – St.James’s Park – Emirates Stadium – British Museum  dan bertemu dengan band favorit saya dari SMP yaitu Echobelly di daerah High Street Kensington.

Saat saya membuka pintu White Ferry Hostel, udara dingin langsung terasa menusuk kulit saya, walaupun sudah memakai jaket dan sweater 3 lapis, masih saja terasa kedinginan. Ramalan cuaca hari itu di London memang sedang dilanda udara dingin, di bawah 9°Celcius. Dari hostel di Sutherland Street saya berjalan menuju Buckingham Palace yang bisa dicapai dengan berjalan kaki selama 20 menit saja. Hostel tempat saya menginap ini sangat strategis karena walking distance dengan tempat-tempat wisata di tengah kota London.

Buckingham Palace adalah kediaman resmi Ratu Inggris dan biasa digunakan untuk menerima tamu-tamu dari negara lain yang berkunjung ke Inggris. Bangunan ini sudah dibangun dari tahun 1705 dan mempekerjakan sekitar 450 orang di dalamnya. Atraksi yang banyak ditunggu pengunjung adalah  Changing The Guard Ceremony yang dimulai setiap harinya setiap jam 11.30 pagi, namun sayang pada hari itu upacara pergantian penjaga itu ditiadakan dan baru akan dilaksanakan keesokan harinya. Banyak pengunjung yang kecewa karena sudah datang kesana untuk menyaksikan upacara tersebut. Di depan Buckingham Palace, berdiri dengan megah The Victoria Memorial yaitu patung emas Ratu Victoria.

Di seberang Buckingham Palace ada Green Park dan St.James’s Park yang terbentang luas dengan terpisah oleh jalan yang besar. Setelah berjalan di Green Park dan mengambil foto di depan pos penjaga dengan uniform merah plus topi bulu hitam khas Inggris, saya masuk ke St.James’s Park. Karena kedinginan, saya membeli hot chocolate dulu di kedai yang ada di pintu masuk taman ini dan duduk-duduk di tepi kolam tempat bebek, burung dan tupai bermain-main di sekitarnya. Nyaman sekali duduk dan menghabiskan waktu disana untuk sekedar melihat keadaan sekitar taman yang luasnya sekitar 23 hektar ini. Suasananya menenangkan, tidak terasa seperti sedang berada di tengah kota besar seperti London.

Perjalanan saya lanjutkan ke Horse Guard Parade yang letaknya di seberang St.James’s Park. Di halaman depan Horse Guard Parade ini ada upacara penjaga khas Inggris yang berseragam lengkap dan berjaga di atas kuda. Disini pengunjung boleh berfoto dengan penjaga plus kudanya, tetapi berhati-hatilah karena ada peringatan kalau kuda bisa tiba-tiba menggigit atau menendang pengunjung.

Dari Horse Guard Parade, saya berjalan menuju Westminster Tube Station dan naik tube ke Arsenal Station yang berada dalam Zone 2 di Picadilly Line. Dari Arsenal Station ke Emirates Stadium bisa dicapai berjalan kaki 5 menit saja, dari jauh sudah terlihat stadion baru Arsenal setelah sebelumnya klub dari London Utara ini bermarkas di Highbury Stadium. Dari jalan utama ke Emirates Stadium, saya melewati Danny Fiszman Bridge, sebuah jembatan yang namanya diambil dari seorang pemegang saham Arsenal FC, Danny Fiszman, yang berperan besar dalam perpindahan markas klub tersebut dari Highbury ke Emirates Stadium.

Sesampainya di Emirates Stadium, saya menuju bagian tiket stadium tour di dekat Arsenal Store, toko yang menjual berbagai macam merchandise Arsenal. Toko ini disebut The Armoury. Setelah membayar £17.50 / Rp.262.500, saya mendapatkan 1 tiket untuk stadium tour jam 12.30 siang itu. Sambil menunggu, saya makan di restoran Chinese food di seberang The Armoury. Dinding luar Emirates Stadium banyak dihiasi oleh gambar-gambar dari pemain Arsenal, baik yang masih bermain atau yang sudah pensiun. Gambar yang paling besar tentu saja memajang logo klub dengan slogan “Victoria Concordia Crescit” yang diambil dari bahasa Latin dan mempunyai arti “Victory comes through harmony / Kemenangan diraih dengan kerjasama”

Tepat jam 12.30, stadium tour dimulai di tempat yang sama dengan tempat membeli tiketnya. Di stadion ini, konsep tournya ada 2 jenis. Ada guided legend tour dan self guided tour seperti yang saya ambil hari ini. Untuk info, sila kunjungi http://www.arsenal.com/tours

Begitu masuk ke dalam stadion, pengunjung dibagikan alat semacam ipod dengan headphonenya yang bisa digunakan untuk mendengarkan informasi mengenai stadion Emirates ini. Patung setengah badan dari Arsene Wenger, pelatih Arsenal, menyambut pengunjung untuk masuk ke ruangan yang berisi trophy dan piala hasil kemenangan Arsenal di berbagai kejuaraan yang diikutinya. Poster besar untuk memperingati 49 kali kemenangan beruntun Arsenal di tahun 2003-2004 terpampang di dinding bagian dalam stadion di dekat Diamond Club, sebuah restoran eksklusif yang biasa dipakai untuk menonton pertandingan di tribun VIP Emirates Stadium sambil menikmati sajian kuliner yang harganya selangit.

Di lantai dasar stadion, saya berjalan menuju terowongan tempat para pemain memasuki lapangan. Di ujung terowongan, sampailah saya ke lapangan hijau yang membentang luas dengan dikelilingi 60.361 tempat duduk dan merupakan stadion dengan kapasitas tempat duduk terbesar keempat di seluruh Inggris Raya. Rumput di stadion terpelihara dengan baik dan pengunjung dilarang keras untuk menginjak rumput itu. Kami diperbolehkan duduk di bangku tempat official team dan pemain cadangan biasa duduk pada saat pertandingan.

Setelah puas duduk di kursinya Robin Van Persie dan kawan-kawan, saya masuk lagi ke terowongan pemain menuju ke ruang ganti pemain Arsenal. Ruang ganti pemain Arsenal sangatlah eksklusif dengan shower dan jacuzzi di dalamnya. Di ruang ganti ini juga disimpan jersey yang dipakai pemain saat bertanding dan sebuah white board yang biasa dipakai Arsene Wenger untuk mengarahkan strategi dan taktik pertandingan kepada para pemainnya. Keadaan di ruang ganti away team sangatlah bertolak belakang dengan home team. Disana hanya ada ruang ganti dan shower dengan desain yang biasa-biasa saja. Di sebelah ruang ganti terdapat ruang interview dan ruangan untuk press conference dengan background Arsenal. Semua ruangan, walaupun sehari-harinya didatangi banyak pengunjung, sangatlah bersih dan terpelihara dengan baik.

Tour ini berakhir di Arsenal Store atau biasa disebut The Armoury. Disini dijual berbagai merchandise Arsenal dari jersey musim ini, classic jersey dan pernak pernik yang berhubungan dengan Arsenal. Bagi anda para Gooners, kalau masuk sini rasanya ingin membeli semuanya. Saya pun membeli beberapa titipan kawan-kawan Gooners di tanah air, lumayan mengirit ongkos kirim karena apabila memesan melalui online, ongkos kirim dan pajaknya bisa sampai 40% dari harga barangnya.

Dari Emirates Stadium saya berjalan menuju Finsbury Park tube station. Keadaan di sekitar stadion dipenuhi rumah-rumah khas Inggris dan sebelum masuk ke tube station, saya menemukan sebuah masjid yang dari luar sama sekali tidak terlihat seperti masjid. Di Inggris, banyak masjid yang bentuknya seperti ini, dari luar nampak seperti rumah 2 tingkat biasa, namun setelah masuk ke dalam, terdapat tempat wudhu dan toilet. Di lantai 2 ada masjid yang bisa menampung 50 orang lebih. Selesai sholat, perjalanan saya lanjutkan ke British Museum.

British Museum menjadi salah satu tempat tujuan saya karena banyak menyimpan barang-barang peninggalan dari berbagai peradaban kuno di dunia. Masuknya gratis dan jam operasionalnya tutup pukul 5 petang. Tube station yang terdekat adalah Tottenham Court Road di Central dan Northern Line serta Holborn Station di Picadilly dan Central Line. Hari itu tengah diadakan eksebisi yang mengangkat tema “Hajj, Journey to the heart of Islam” Info mengenai British Museum :  http://www.britishmuseum.org/

Karena tertarik untuk melihat mummy, saya langsung menuju tingkat atas museum dimana disimpan berbagai macam mummy asli dari Mesir. Beberapa disimpan lengkap dengan mummy sarcophagus. Dari papan informasi yang melekat di dekat mummy, dijelaskan bahwa sudah dilakukan penelitian dengan CAT Scanner supaya pengunjung dapat melihat rangka tubuh yang disimpan di dalam bungkusan mummy tersebut. Di ruangan-ruangan lainnya, peninggalan peradaban dari Mesopotamia, Cyprus dan Romawi tersusun rapih dan membuat pengunjung dengan mudah memahami perbedaan antara satu peradaban dengan yang lainnya. Sekitar jam 5 sore, museum ditutup dan saya melanjutkan perjalanan ke High Street Kensington Station untuk bertemu dengan Echobelly.

Sebelum saya pergi ke Inggris, saya sudah mengirim email kepada Echobelly dan mengatakan bahwa selama saya di London, saya ingin sekali bertemu mereka karena sudah mendengarkan lagu-lagu mereka dari sejak saya berumur 16 tahun. Email saya mendapat respon positif dari Glenn dan Sonya Aurora Madan, yang sepakat untuk bertemu saya di High Street Kensington sore itu. Begitu keluar dari tube station, Glenn dan Sonya sudah menunggu saya dengan senyuman dan keramahan yang membuat saya terharu. Walau sekitar dekade 1990-2000 Echobelly sangat sukses dalam bermusik dan sempat manggung di Glastonbury Festival, mereka sangat rendah hati dan mau berjumpa dengan saya.

Sonya dan Glenn mengajak saya nongkrong di kedai kopi di daerah Kensington, saya dibelikan hot chocolate dan diberi oleh-oleh Scottish Shortbread. Aaahhh baik sekali mereka…

Sekitar 30 menit kami bertiga berbincang dan ternyata Glenn adalah supporter Chelsea. Hahaha… Sonya tidak menyangka ada orang dari Indonesia yang ingin bertemu mereka disana. Mereka tidak tahu kalau di Indonesia banyak sekali penggemar Echobelly. Setelah menandatangan cd saya dan berfoto bersama, saya mengucapkan selamat tinggal kepada Sonya dan Glenn.

Pada saat saya akan pulang ke Victoria, oyster card saya bermasalah dengan jumlah kredit yang ada di dalamnya. Saat saya mendatangi counter pelayanan tube station, petugas memeriksa oyster card saya dan bilang kalau deposit di dalamnya minus £4, lho koq bisa minus? Ternyata waktu saya di Finsbury Park Station, saya tidak menempelkan oyster card ke sensor yang ada di pintu masuk stasiun sehingga oyster card saya kena denda. Tidak semua tube stasiun memiliki jalur antrian khusus untuk menempelkan oyster card, setelah saya perhatikan memang ada beberapa stasiun yang alat sensornya oyster cardnya hanya berupa tombol yang sekilas tidak terlihat. Akhirnya saya mengisi lagi oyster card sebanyak £10. 
Slideshow Report as Spam

Post your own travel photos for friends and family More Pictures

Comments

Imam Yudi Setiawan on

Total visa sama pesawatnya berapa kirakira ?

Add Comment

Use this image in your site

Copy and paste this html: