Gyeongju

Trip Start Oct 02, 2011
1
6
8
Trip End Oct 18, 2011


Loading Map
Map your own trip!
Map Options
Show trip route
Hide lines
shadow
Where I stayed
Love Motel

Flag of Korea Rep.  , North Gyeongsang,
Tuesday, October 11, 2011

Day 8

Pagi-pagi sekali saya sudah bangun dan packing barang karena hari ini kami akan berangkat menuju Gyeongju, kota kecil yang berjarak sekitar 1 jam perjalanan dari Busan. Dari Seomyeon, kami naik subway ke arah Nopo-dong yang terletak di ujung Line 1. Turun di Nopo-dong, kami berjalan ke arah Busan Central Bus Terminal yang masih satu bangunan dengan subway station.

Di counter tiket, harga tiket bus menuju Gyeongju adalah 4.500 won/Rp.36.000 dan bus berangkat jam 8.30. Penumpang dalam bus tidak terlalu penuh dan sekitar 1 jam kemudian kami sampai di terminal bus yang ada di tengah kota Gyeongju.

Gyeongju adalah sebuah kota yang sering disebut museum tanpa dinding, karena sebagian besar tempat di kota itu merupakan peninggalan sejarah dari kerajaan Silla yang pada abad 7-9 menguasai hampir seluruh semenanjung Korea. Dengan populasi sekitar 200.000 jiwa, suasana di kota itu tidak terlalu ramai seperti Busan atau Seoul. Saya suka sekali jalan-jalan di kota ini karena suasananya sepi dan nyaman dengan cuaca yang sejuk.

Sesampainya di terminal bus, kami mendatangi tourist information yang ada di luar terminal dan mengambil brosur tentang tempat-tempat pariwisata di Gyeongju. Di luar terminal banyak terdapat hotel-hotel dengan harga yang lumayan murah dan ada juga tempat penyewaan sepeda dan motor. Karena luas kota yang tidak begitu besar, tempat-tempat yang ada dalam brosur sebagian besar bisa dicapai dengan bersepeda atau naik motor.

Tujuan pertama kami di Gyeongju adalah Bulguksa Temple yang terletak agak ke tepi kota, sekitar 25 menit perjalan naik bus no.10 atau 11 dan turun di pool bus Bulguksa Temple. Ada tiket masuk seharga 4.000 won/Rp.32.000 disana.

Temple agama Buddha yang dibangun tahun 528 pada masa Kerajaan Silla berkuasa ini masuk ke dalam UNESCO World Heritage.

Dari Bulguksa Temple, saya dan Fairus & Kak Salina berpisah sementara karena mereka akan kembali lagi ke Busan sore harinya sedangkan saya akan stay 1 malam di Gyeongju. Setelah kembali ke kota, saya menuju bus terminal untuk bertemu kembali dengan Pawel setelah dia menyelesaikan perjalan dari Jinju. Kami lalu mencari hotel di sekitar terminal bus dan menemukan "love hotel" ala Korea dengan harga 50.000 won/Rp.400.000 per malam. Yang suka nonton film Korea pasti tau dong apa itu “love motel” Hehehe.. Ternyata love motel ini bersih dan nyaman sekali. Bahkan di dalam kamar ada smart tv dimana kita bisa online dengan suasana kamar yang bersih. Harganya juga tidak terlalu mahal.

Setelah menyimpan barang-barang bawaan, kami berjalan menuju Daenungwon Royal Tombs yang terletak 2 blok dari hotel kami. Pawel yang memang senang berjalan kaki, kadang-kadang berjalan kaki terlalu cepat sehingga terkadang saya mengingatkan dia supaya jalannya lebih pelan, ditambah lagi langkahnya yang besar karena postur tubuhnya yang lumayan tinggi. Hahahaha...

Daenungwon Royal Tombs dari luar terlihat seperti taman kota yang di dalamnya terdapat bukit-bukit kecil berwarna hijau. Ternyata bukit-bukit itu adalah makam raja-raja zaman kerajaan dulu di Korea. Dari sekian banyak makam, ada satu yang terbuka untuk umum dan pengunjung boleh masuk ke dalamnya. Di dalam makam yang berbentuk bukit itu disimpan barang peninggalan raja-raja zaman dulu dan juga makamnya yang ditutup kaca. Di dalam makam, pengunjung dilarang berfoto. Siang itu di Daenungwon Royal Tombs banyak anak-anak sekolah yang sedang belajar mengenai sejarah bangsa Korea. Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarah, bukan begitu pemirsa??

Di seberang jalan dari Daenungwon Royal Tombs, sedang diadakan Gyeongju Tteok & Sul Festival 2011 atau festival makanan dan minuman keras tradisional Korea. Pawel yang memang gemar minum alkohol langsung mengajak saya masuk ke area festival itu. Di bagian makanan, tersedia berbagai macam makanan tradisional khas Korea dengan harga yang cukup murah. Kebanyakan kue-kue tradisional Korea adalah rice cake yang berwarna-warni. Sangat menarik untuk dicoba sambil menyaksikan tarian tradisional Korea yang dipertunjukan di tengah-tengah area festival.

Di bagian minuman keras, Pawel seperti menemukan dunianya. Dengan hanya membayar 1.000 won/Rp.8.000 saja, pengunjung diberi gelas kecil yang digunakan untuk mencoba berbagai macam minuman keras di stand-stand yang ada disana. Selain menjual jenis-jenis minuman keras tradisional, di festival ini juga ditunjukan bagaimana membuat rice wine khas Korea. Semua prosesnya dibuat secara tradisional dan tidak menggunakan bahan bakar atau listrik. Dari sekian banyak stand, favorit Pawel adalah stand yang menjual tomato wine dan dia membeli beberapa botol untuk keluarganya di Polandia. Kebanyakan orang Polandia suka minuman keras, begitu kata Pawel kepada saya.

Dari area festival, sore itu kami berjalan kaki sekitar 30 menit menuju Cheomseongdae Observatory. Bangunan yang mirip cerobong asap ini adalah salah satu tempat pengamatan astronomi tertua di dunia yang dibangun pada abad ke 7 di masa kerajaan Silla berkuasa. Pada saat masih digunakan, bangunan ini dipakai untuk melihat pergerakan bintang untuk memprediksi musim di Korea. Di luar Cheomseongde Observatory ada ruangan tempat pengunjung bisa memperoleh informasi mengenai tempat itu secara digital.

Di luar Cheomseongde Observatory terhampar dengan luas Wolseong Forrest yang sangat indah. Di tengahnya ada bukit-bukit kecil mirip dengan yang ada di Daenungwon Royal Tombs. Kami beristirahat sejenak sambil menikmati pemandangan Wolseong Forest yang berpadu dengan Rape Flowers Complex di tepinya. Suasana sore itu terasa sangat damai, di jalan-jalan kecil membelah Wolseong Forrest beberapa orang menaiki sepeda, ada juga yang mendorong kereta bayi hanya untuk sekedar jalan-jalan sore.

Saat matahari mulai terbenam, kami lanjut berjalan menuju Anapji Pond yang terletak di seberang Wolseong Forrest. Kolam buatan dengan 3 pulau ini terlihat sangat indah pada sore hari saat hari mulai gelap. Di atas kolam ada bangunan tradisional Korea yang dihiasi lampu-lampu yang ditata sedemikian rupa sehingga pengunjung menjadi betah untuk hanya sekedar duduk di tepi kolam itu.

Malam harinya kami makan di sekitar downtown Gyeongju dan kembali ke love motel yang terlihat dihiasi lampu-lampu berwarna pink dan ungu. Udara dingin terasa pada saat malam di Gyeongju, kabut pun mulai turun saat waktu menunjukan jam 11 malam.
Slideshow Report as Spam

Use this image in your site

Copy and paste this html: