Back to Seoul

Trip Start Oct 02, 2011
1
4
8
Trip End Oct 18, 2011


Loading Map
Map your own trip!
Map Options
Show trip route
Hide lines
shadow
Where I stayed
Windroad Guesthouse Seoul
Read my review - 4/5 stars

Flag of Korea Rep.  ,
Saturday, October 8, 2011

Sekitar jam 6.30 sore saya sampai di World Cup Stadium subway station line 6 dan mencari telepon umum untuk menghubungi Pawel. Berjalan kesana kemari dan saya tidak menemukan telepon umum, saya minta tolong pada karyawan salah satu supermarket yang ada di stadion itu. Bukannya menunjukan letak telepon umum, dia malah meminjamkan handphonenya kepada saya. Dia bilang pakai saja handphone saya. Baik sekali orang Korea ini. Hehehe.. Dalam perjalanan saya di Korea, saya beberapa kali mengalami pengalaman serupa, termasuk saat makan di salah satu restoran, ibu pemilik restoran meminjamkan teleponnya kepada saya juga.

Akhirnya saya bertemu dengan Pawel di pintu utara stadion. Dengan badannya yang besar dan bule sendirian berdiri di pintu masuk, tidak sulit buat saya mengenali Pawel. Kami lalu membeli tiket seharga 20.000 won / Rp.160.000 untuk tribun utara di belakang gawang.

Di pintu masuk stadion, panitia yang bertugas menyetop saya karena membawa botol air mineral. Saya kira mereka akan mengambilnya, ternyata botol air mineral saya dikembalikan setelah panitia mengambil tutupnya saja. Masuk akal juga karena kalau penonton melempar botol air mineral tanpa ditutup, maka jarak lemparan tidak akan jauh dan tidak tepat arahnya.

Saya dan Pawel lalu duduk tepat di bagian belakang gawang. Tribun utara ternyata merupakan tempat berkumpulnya suporter fanatik Taeguk Warriors, sebutan timnas Korea Selatan. Bendera-bendera besar dikibarkan dan drum ditabuh kencang sebelum pertandingan dimulai. Keren juga suporter Korea ini.

Sebelum pemain memasuki lapangan, ada upacara tradisional Korea lengkap dengan baju khas Korea. Setelah pemain dari kedua kesebelasan masuk lapangan, terlebih dahulu diperdengarkan lagu kebangsaan Polandia. Pawel dengan bangga lalu berdiri dan menyanyikan lagu kebangsaannya, menarik perhatian para suporter Korea Selatan yang duduk mengelilingi kami.

Stadion berkapasitas 66.000 penonton yang pada tahun 2002 menggelar pertandingan semifinal Piala Dunia antara Jerman vs Korea Selatan ini sangat megah dan bagus sekali.

Pertandingan babak pertama didominasi Polandia dan mereka unggul 1-0 pada half time. Pawel tiba-tiba membagikan permen susu Polandia kepada suporter Korea di sekitar kami dan mereka menyukai permen itu, bahkan ada yang memintanya lagi.. Hahahaha.. It's a friendly match anyway Pawel.

Beberapa suporter mulai berbincang kepada kami dan mereka bilang menyukai Likasz Fabianski dan Wojciech Szczesny, dua kiper Arsenal asal Polandia. Pawel bilang Polandia memang memiliki banyak kiper tangguh, Jerzy Dudek termasuk salah satunya.

Pada saat jeda babak pertama, sebagian pemain Korea melakukan pemanasan dan gadis-gadis Korea yang duduk di tepi lapangan berteriak histeris sambil membawa poster mereka. Saya dan Pawel cuma bisa geleng-geleng kepala melihat histeria itu, dia bilang di Polandia jarang ada wanita mau nonton bola ke stadion.

Babak kedua dimulai dan Korea membuat 2 gol cepat melalui kaki Park Chu Young, striker yang baru dikontrak Arsenal ini memang sangat lincah dan bagus dalam finishing touch. Pada menit-menit akhir, bek Korea membuat blunder dan Polandia bisa menyamakan kedudukan 2-2 dan bertahan sampai pertandingan berakhir. Suporter fanatik Korea di sekitar kami ternyata sangat bersahabat dan merangkul saya dan Pawel untuk melompat-lompat bersama mengikuti tabuhan drum yang mereka mainkan. Bapak-bapak sebelah saya bahkan memberi saya kenang-kenangan berupa stiker timnas Korea Selatan. Ketika pertandingan berakhir, kami semua berfoto bersama. Sungguh pengalaman tak terlupakan di World Cup Stadium malam itu.

Nah, pada saat hendak pulang ada satu hal yang menarik. Penonton di stadion sebelum pulang memunguti sampah di sekitar tempat duduk mereka dan membawa sampah-sampah itu sampai ke pintu keluar stadion dimana panitia menyediakan plastik-plastik besar sebagai tong sampahnya. Tidak heran kebersihan di Korea terjaga dengan baik karena kesadaran yang tinggi dari penduduknya untuk membersihkan tempat di sekitarnya.

Selama perjalanan saya di Korea, sejujurnya susah untuk menemukan tempat sampah di jalan atau tempat umum, namun kondisi jalan dan tempat umum disana sangat bersih. Saya heran kemana orang Korea membuanh sampahnya. Hal ini juga disadari Pawel yang selalu menyimpan sampah di saku celana dan kalau kami menjumpai tempat sampah, baru kami keluarkan semua sampah itu dan membuangnya.

Beres pertandingan itu kami berdua pulang kembali ke Windroad Guesthouse dan sesampainya di guesthouse, Pawel memberi souvenir dari Polandia untuk saya yaitu jersey timnas Polandia. Thank you Pawel!!

Day 5

Hari ini saya masih bersama Pawel jalan-jalan di sekitar Seoul. Tempat pertama yang dituju adalah pusat perbelanjaan Dongdaemun yang beberapa di antara shopping mallnya ada yang buka sampai 24 jam. Dari Hyehwa subway station, hanya terpaut 1 station saja untuk sampai ke Dongdaemun. Begitu keluar dari Dongdaemun subway station Line 1 & 4, berdiri megah Dongdaemun Gate yang bersebrangan dengan Dongdaemun Market. Ada beberapa mall yang sangat besar di area ini. Ada juga tempat shopping yang terletak di bawah tanah alias underground market. Di tepi jalan sekitar Dongdaemun banyak terdapat pedagang kaki lima yang menjual kaos-kaos "I love Korea’ dan souvenir lainnya.

Setelah membeli beberapa kaos untuk oleh-oleh keluarga di Bandung, saya dan Pawel melanjutkan perjalanan menuju Seoul Square untuk melihat eksebisi Hangul Letter, namun ternyata eksebisi tersebut tidak diselenggarakan di Seoul Square hari itu. Wrong info..

Sore harinya kami berdua menuju Banpo Bridge untuk melihat air mancur terpanjang di dunia. Air mancur ini dimulai jam 5 sore dan beroperasi 5 kali sehari. Banpo Bridge bisa dicapai dengan subway line 3 atau 7, turun di Express Bus Terminal Station, Exit 8 atau 9 menuju Banpo Hangang River Park. Air mancur ini dipertunjukan di sepanjang jembatan Banpo selama kira-kira 20 menit dengan alur yang berubah-ubah dan sangat indah. Di sekitar Banpo Park banyak keluarga yang sekedar duduk-duduk di dalam tenda atau bersepeda.

Dari Banpo Bridge, saya dan Pawel bergegas menuju tepian Sungai Han di kawasan Yeouido untuk melihat pertunjukan kembang api yang akan berlangsung pukul 19.30. Saat masuk ke subway station, penumpang sudah sangat ramai tapi tetap teratur untuk mengantri masuk ke subway train. Selain karena malam itu malam minggu, ternyata penumpang lain juga menuju Yeouido untuk melihat pertunjukan kembang api itu. Dari subway station ke tepian Sungai Han lumayan jauh juga kami berjalan dan di tengah jalan saya melewati Kedutaan Republik Indonesia. Sampai di tempat pertunjukan, ribuan orang sudah berkumpul untuk menyaksikan pertunjukan yang diadakan di atas sungai Han itu. Polisi setempat menutup banyak ruas jalan supaya penonton bisa dengan leluasa menikmati pertunjukan kembang api itu. Para penonton sudah ada yang menggelar tikar dan beberapa ada yang menonton dari dalam tenda. Tepat jam 19.30 pertunjukan dimulai. Soundtrack lagu yang diputar dari band-band terkini seperti The Killers dan Coldplay, dipadukan dengan lagu-lagu tradisional Korea mengiringi pertunjukan yang berlangsung selama 90 menit itu. Pada 30 menit terakhir, kembang api dikombinasikan dengan sinar laser berbagai warna, membuat suasana malam itu menjadi terang benderang. Pertunjukan yang diadakan sekali setahun pada bulan Oktober itu sangat meriah dan dihadiri ribuan orang  yang menyaksikannya secara gratis.

Malamnya di kamar Windroad Guesthouse, saya packing untuk persiapan perjalanan ke Busan keesokan harinya.

My Review Of The Place I Stayed



Loading Reviews
Slideshow Report as Spam

Use this image in your site

Copy and paste this html: