Phi Phi Island
Trip Start
Mar 11, 2011
1
7
8
Trip End
Mar 30, 2011
Where I stayed
Uphill bungalow
Day 14 Koh Lanta-Phi Phi island
Jam 7.30 pagi kami dijemput van yang akan mengantar kami ke dermaga Koh Lanta menuju Phi Phi island. Cuaca pagi itu hujan dan setelah sampai di dermaga, kami langsung naik ke jetty. Dalam jetty, tempat duduk hampir semua terisi jadi saya dan Kakeru memilih untuk berdiri di tempat terbuka di bagian belakang jetty. Walaupun hujan gerimis, tapi saya sangat menikmati perjalanan Koh Lanta ke Phi Phi island ini. Apalagi di jetty kami berkenalan dengan Mr. Jean Pierre Boissou dari Perancis yang sangat lucu dan sering membuat kami tertawa. Dia pun membawa istrinya untuk menikmati suasana terbuka di atas jetty dan kami berfoto bersama. Di jetty kami juga bertemu dengan Abdurrahman, staff marketing dari New Beach hotel yang kami tinggali selama di Koh Lanta. Dia tiap hari pergi ke Phi Phi untuk bekerjasama dengan para tour agent disana agar mendapatkan customer untuk hotelnya.
Sampai di dermaga Phi Phi, keindahan pulau yang terkenal karena film ”The Beach” ini memang menakjubkan. Airnya jernih dan pulau kecil yang tidak ada mobil atau motor ini sungguh mempesona. Phi Phi islands ada dua pulau, Phi Phi Don dan Phi Phi Lay. Phi Phi Don adalah tempat dimana para turis tinggal dan Phi Phi Lay terkenal dengan Maya Beach yang indah. Setelah turun dari jetty, semua pengunjung membayar tiket masuk Phi Phi Don 20 Baht/Rp.6.000, lalu kami langsung berjalan mencari penginapan.
Harga-harga di Phi Phi sedikit lebih mahal dibandingkan di Krabi atau Koh Lanta, mungkin karena letak pulau ini yang ada di tengah lautan dan juga karena banyak turis disana. Di dermaga juga tersedia jasa pengangkutan barang dengan memakai gerobak yang didorong dengan harga 50 Baht/Rp.15.000 per tas sampai ke hotel. Jalan di Phi Phi menyerupai gang di Indonesia. Saat kita berjalan, sering ada bunyi ”pip pip” yang merupakan klakson dari sepeda atau gerobak yang hendak mendahului kita. Toko suvenir, hotel, restoran, warnet, warung, thai massage, tour agent dan penyedia jasa diving atau snorkeling berjajar sepanjang jalan di Phi Phi Don.
Hotel-hotel di dekat dermaga kebanyakan harganya mahal, lebih dari 1.000 Baht/Rp.300.000. Kami terus berjalan ke dalam pulau untuk mencari hotel yang lebih murah. Akhirnya kami menemukan hotel dengan harga 700 Baht/Rp.210.000 per malam. Setelah rehat sejenak, saya mencari warnet di sekitar hotel dan ternyata warnet disana bertarif 1 Baht/Rp.300 per menit, jadi kalau 1 jam Rp.36.000. Namanya juga di pulau.
Siang itu saya mencari tempat makan halal yang kata teman saya berada di pasar tradisional Phi Phi, sedangkan Kakeru yang kurang sehat memilih untuk tidur di kamar. Di pasar itu banyak warung makan yang menjual makanan halal. Ternyata di Phi Phi sebagian penduduknya juga beragama Islam. Ada 1 masjid besar dan 2 surau disana. Letak masjid ada di dekat kantor polisi dari sana ada petunjuk arah menuju masjid. Setelah makan saya jalan-jalan di sekitar pulau dan sore harinya saya mengajak Kakeru ke view point yang terletak di atas bukit.
Jalan menuju view point sangat menanjak, di tengah jalan saya berhenti untuk mengambil nafas. Tapi begitu sampai di view point 1, pemandangannya cukup indah dan membuat saya penasaran untuk naik lagi ke view point 2. Sampai disana, pemandangan memang sangat indah. Kita bisa melihat 2 pantai yang berada di Phi Phi Don yaitu Loh Dalam Bay dan Ton Sai Bay yang warnanya berbeda satu sama lainnya. Loh Dalam Bay warna airnya lebih muda dibandingkan Ton Sai Bay. Sungguh sangat indah dan kita bisa melihat sunset di sebelah kanan pulau di tengah Laut Andaman.
Setelah kembali dari view point dan makan malam, kami pulang ke hotel dan saat saya mau tidur terdengar suara bising dari musik yang berasal dari sebuah bar di seberang hotel kami. Ternyata bar itu membuat party di rooftop dan suara dari sound system maupun suara orang-orang yang ada disana terdengar jelas sampai kamar saya. Membuat saya susah tidur malam itu.
Day 15-17
Pagi-pagi kami langsung mencari hotel yang jauh dari tempat keramaian di Phi Phi. Kami menemukan hotel di kaki bukit dengan harga 900 Baht/Rp.270.000 per malam dengan fasilitas yang lumayan. Setelah check out dari hotel yang semalam, kami langsung membawa barang-barang ke hotel Uphill yang berada di jalan menuju view point. Dan benar saja, ternyata malamnya kami masih bisa mendengar suara bising sound system dari party-party yang diadakan di Phi Phi Don.
Hari-hari saya di Phi Phi diisi dengan berjalan-jalan dan bersantai di tepi pantai. Siang itu kami bertemu lagi dengan Kamil dan Anna yang sedang mencari hotel. Langsung saja kami nasehati supaya mencari hotel di kaki bukit dekat view point. Di Phi Phi, Kakeru sakit dan saya sering berjalan-jalan dengan Kamil dan Anna untuk makan atau shopping. Ada satu hari dimana hujan turun terus menerus dari pagi sampai malam dan kami melakukan wisata kuliner dengan mencoba makanan lokal seperti seafood dan juga makanan eropa kesukaan Kamil yaitu pizza. Kesehatan Kakeru belum membaik dan akhirnya Kamil memberinya obat untuk sakit pencernaan, obat tradisional dari Polandia. Yaitu minuman alkohol tingkat tinggi yang difermentasikan dengan kacang walnut. Katanya obat itu bisa membersihkan pencernaan apabila kita mengalami sakit perut.
Jam 7.30 pagi kami dijemput van yang akan mengantar kami ke dermaga Koh Lanta menuju Phi Phi island. Cuaca pagi itu hujan dan setelah sampai di dermaga, kami langsung naik ke jetty. Dalam jetty, tempat duduk hampir semua terisi jadi saya dan Kakeru memilih untuk berdiri di tempat terbuka di bagian belakang jetty. Walaupun hujan gerimis, tapi saya sangat menikmati perjalanan Koh Lanta ke Phi Phi island ini. Apalagi di jetty kami berkenalan dengan Mr. Jean Pierre Boissou dari Perancis yang sangat lucu dan sering membuat kami tertawa. Dia pun membawa istrinya untuk menikmati suasana terbuka di atas jetty dan kami berfoto bersama. Di jetty kami juga bertemu dengan Abdurrahman, staff marketing dari New Beach hotel yang kami tinggali selama di Koh Lanta. Dia tiap hari pergi ke Phi Phi untuk bekerjasama dengan para tour agent disana agar mendapatkan customer untuk hotelnya.
Sampai di dermaga Phi Phi, keindahan pulau yang terkenal karena film ”The Beach” ini memang menakjubkan. Airnya jernih dan pulau kecil yang tidak ada mobil atau motor ini sungguh mempesona. Phi Phi islands ada dua pulau, Phi Phi Don dan Phi Phi Lay. Phi Phi Don adalah tempat dimana para turis tinggal dan Phi Phi Lay terkenal dengan Maya Beach yang indah. Setelah turun dari jetty, semua pengunjung membayar tiket masuk Phi Phi Don 20 Baht/Rp.6.000, lalu kami langsung berjalan mencari penginapan.
Harga-harga di Phi Phi sedikit lebih mahal dibandingkan di Krabi atau Koh Lanta, mungkin karena letak pulau ini yang ada di tengah lautan dan juga karena banyak turis disana. Di dermaga juga tersedia jasa pengangkutan barang dengan memakai gerobak yang didorong dengan harga 50 Baht/Rp.15.000 per tas sampai ke hotel. Jalan di Phi Phi menyerupai gang di Indonesia. Saat kita berjalan, sering ada bunyi ”pip pip” yang merupakan klakson dari sepeda atau gerobak yang hendak mendahului kita. Toko suvenir, hotel, restoran, warnet, warung, thai massage, tour agent dan penyedia jasa diving atau snorkeling berjajar sepanjang jalan di Phi Phi Don.
Hotel-hotel di dekat dermaga kebanyakan harganya mahal, lebih dari 1.000 Baht/Rp.300.000. Kami terus berjalan ke dalam pulau untuk mencari hotel yang lebih murah. Akhirnya kami menemukan hotel dengan harga 700 Baht/Rp.210.000 per malam. Setelah rehat sejenak, saya mencari warnet di sekitar hotel dan ternyata warnet disana bertarif 1 Baht/Rp.300 per menit, jadi kalau 1 jam Rp.36.000. Namanya juga di pulau.
Siang itu saya mencari tempat makan halal yang kata teman saya berada di pasar tradisional Phi Phi, sedangkan Kakeru yang kurang sehat memilih untuk tidur di kamar. Di pasar itu banyak warung makan yang menjual makanan halal. Ternyata di Phi Phi sebagian penduduknya juga beragama Islam. Ada 1 masjid besar dan 2 surau disana. Letak masjid ada di dekat kantor polisi dari sana ada petunjuk arah menuju masjid. Setelah makan saya jalan-jalan di sekitar pulau dan sore harinya saya mengajak Kakeru ke view point yang terletak di atas bukit.
Jalan menuju view point sangat menanjak, di tengah jalan saya berhenti untuk mengambil nafas. Tapi begitu sampai di view point 1, pemandangannya cukup indah dan membuat saya penasaran untuk naik lagi ke view point 2. Sampai disana, pemandangan memang sangat indah. Kita bisa melihat 2 pantai yang berada di Phi Phi Don yaitu Loh Dalam Bay dan Ton Sai Bay yang warnanya berbeda satu sama lainnya. Loh Dalam Bay warna airnya lebih muda dibandingkan Ton Sai Bay. Sungguh sangat indah dan kita bisa melihat sunset di sebelah kanan pulau di tengah Laut Andaman.
Setelah kembali dari view point dan makan malam, kami pulang ke hotel dan saat saya mau tidur terdengar suara bising dari musik yang berasal dari sebuah bar di seberang hotel kami. Ternyata bar itu membuat party di rooftop dan suara dari sound system maupun suara orang-orang yang ada disana terdengar jelas sampai kamar saya. Membuat saya susah tidur malam itu.
Day 15-17
Pagi-pagi kami langsung mencari hotel yang jauh dari tempat keramaian di Phi Phi. Kami menemukan hotel di kaki bukit dengan harga 900 Baht/Rp.270.000 per malam dengan fasilitas yang lumayan. Setelah check out dari hotel yang semalam, kami langsung membawa barang-barang ke hotel Uphill yang berada di jalan menuju view point. Dan benar saja, ternyata malamnya kami masih bisa mendengar suara bising sound system dari party-party yang diadakan di Phi Phi Don.
Hari-hari saya di Phi Phi diisi dengan berjalan-jalan dan bersantai di tepi pantai. Siang itu kami bertemu lagi dengan Kamil dan Anna yang sedang mencari hotel. Langsung saja kami nasehati supaya mencari hotel di kaki bukit dekat view point. Di Phi Phi, Kakeru sakit dan saya sering berjalan-jalan dengan Kamil dan Anna untuk makan atau shopping. Ada satu hari dimana hujan turun terus menerus dari pagi sampai malam dan kami melakukan wisata kuliner dengan mencoba makanan lokal seperti seafood dan juga makanan eropa kesukaan Kamil yaitu pizza. Kesehatan Kakeru belum membaik dan akhirnya Kamil memberinya obat untuk sakit pencernaan, obat tradisional dari Polandia. Yaitu minuman alkohol tingkat tinggi yang difermentasikan dengan kacang walnut. Katanya obat itu bisa membersihkan pencernaan apabila kita mengalami sakit perut.

