Membelah Habitat Harimau
Trip Start
Unknown
1
Trip End
Ongoing
Akhir September 2009. Inilah kali pertama saya menikmati apa yang dikatakan mudik.
Ya, sejak kuliah, dan bahkan sejak kecil bersama orangtua, mudik menjadi kegiatan rutin tahunan. Namun, baru kali ini saya merasakan mudik jarak jauh. Tak sekadar Jogja-Jakarta seperti biasanya.
Saat itu, sudah hampir setahun ayah saya bertugas di Sungai Penuh, Ibukota Kecamatan di Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi. Ingin mencari suasana lain sekaligus ajakan untuk menikmati keindahan alam --yang menurut ayah saya sangat indah itu-- Sungai Penuh menjadi alasan kami sekeluarga untuk mengubah tujuan mudik tahun ini.
*
Keindahan alam Kerinci sungguh luar biasa indah. Terdapat sejumlah danau, bukit, dan perkebunan. Satu yang menjadi kekayaan dunia adalah Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) yang merupakan habitat asli harimau Sumatera yang keberadaannya sudah terancam punah.
Nah, mengenai populasi harimau Sumatera ini, jangan heran jika mereka semakin lama makin punah, meski pemerintah kita, lewat tamanisasi ini, berusaha menjaga habitatnya. Anda tak akan heran, jika mengalami sendiri bagaimana pembangunan di kawasan ini.
Jalur utama menuju Sungai Penuh, dulunya melalui Kota Jambi. Namun sejak 2008, pemerintah setempat membuka jalur singkat yang membelah hutan TNKS. Ya, membelah! Itu artinya, jalan baru ini merusak habitat asli para penghuni hutan, termasuk harimau Sumatra yang katanya tinggal 400-500 ekor saja!
Jika dulu perlu 10 jam untuk masuk ke Kota Sungai Penuh, kini, melalui Bangko, waktu tempuh tinggal 5 jam (sekitar 150 km). Bayangkan berapa luas hutan yang dibelah demi membangun sepanjang 18 kilometer jalan! Belum lagi pembangunan-pembangunan lainnya yang tentunya mengikuti pembukaan akses, seperti pemukiman warga.
Lihatlah yang terjadi di kawasan Batang Merangin, sekitar 60 km dari Bangko. Sepanjang mata memandang terlihat hamparan lahan baru, entah berupa pepohonan yang hangus dibakar untuk dijadikan lahan pertanian dan pemukiman penduduk, hingga perbukitan yang digerus demi pembukaan jalan.
Ah, betapa malang harimau yang habitatnya didesak oleh populasi dan kebutuhan manusia. Jangan salahkan binatang-binatang ini jika mengamuk di rumah warga akibat sumber makanan mereka telah dihancurkan manusia!
Ya, sejak kuliah, dan bahkan sejak kecil bersama orangtua, mudik menjadi kegiatan rutin tahunan. Namun, baru kali ini saya merasakan mudik jarak jauh. Tak sekadar Jogja-Jakarta seperti biasanya.
Saat itu, sudah hampir setahun ayah saya bertugas di Sungai Penuh, Ibukota Kecamatan di Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi. Ingin mencari suasana lain sekaligus ajakan untuk menikmati keindahan alam --yang menurut ayah saya sangat indah itu-- Sungai Penuh menjadi alasan kami sekeluarga untuk mengubah tujuan mudik tahun ini.
*
Keindahan alam Kerinci sungguh luar biasa indah. Terdapat sejumlah danau, bukit, dan perkebunan. Satu yang menjadi kekayaan dunia adalah Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) yang merupakan habitat asli harimau Sumatera yang keberadaannya sudah terancam punah.
Nah, mengenai populasi harimau Sumatera ini, jangan heran jika mereka semakin lama makin punah, meski pemerintah kita, lewat tamanisasi ini, berusaha menjaga habitatnya. Anda tak akan heran, jika mengalami sendiri bagaimana pembangunan di kawasan ini.
Jalur utama menuju Sungai Penuh, dulunya melalui Kota Jambi. Namun sejak 2008, pemerintah setempat membuka jalur singkat yang membelah hutan TNKS. Ya, membelah! Itu artinya, jalan baru ini merusak habitat asli para penghuni hutan, termasuk harimau Sumatra yang katanya tinggal 400-500 ekor saja!
Jika dulu perlu 10 jam untuk masuk ke Kota Sungai Penuh, kini, melalui Bangko, waktu tempuh tinggal 5 jam (sekitar 150 km). Bayangkan berapa luas hutan yang dibelah demi membangun sepanjang 18 kilometer jalan! Belum lagi pembangunan-pembangunan lainnya yang tentunya mengikuti pembukaan akses, seperti pemukiman warga.
Lihatlah yang terjadi di kawasan Batang Merangin, sekitar 60 km dari Bangko. Sepanjang mata memandang terlihat hamparan lahan baru, entah berupa pepohonan yang hangus dibakar untuk dijadikan lahan pertanian dan pemukiman penduduk, hingga perbukitan yang digerus demi pembukaan jalan.
Ah, betapa malang harimau yang habitatnya didesak oleh populasi dan kebutuhan manusia. Jangan salahkan binatang-binatang ini jika mengamuk di rumah warga akibat sumber makanan mereka telah dihancurkan manusia!

Comments
Good one !
Team Hotel Travelia
www.hoteltravelia.com